Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
Pax Vobiscum para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Setiap kita pasti memiliki ambisi, namun kita juga harus memiliki hati yang berempati terhadap orang lain. Artinya jangan hanya berhenti pada ingat diri kita sendiri, seperti Yakobus dan Yohanes, yang hanya memikirkan ambisi pribadi, tetapi juga harus ingat orang lain, teristimewa Yesus Guru mereka yang akan menghadapi penderitaan.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 20: 17 – 28, yakni pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus dan permintaan ibu Yakobus dan Yohanes, bukan memerintah melainkan melayani. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengungkapkan penderitaan yang akan Ia alami: diserahkan, disesah, disalibkan, lalu bangkit pada hari ketiga. Namun, di tengah momen berat itu, Yakobus dan Yohanes justru sibuk meminta posisi terhormat di sisi kanan dan kiri-Nya. Sebuah kontras yang menyayat HATI: Yesus berbicara tentang salib penderitaan, mereka berbicara tentang kursi empuk; Yesus berbicara tentang penderitaan, mereka berbicara tentang kekuasaan. Inilah bahaya ambisi yang tak terkendali: ia membutakan HATI, membuat kita lupa hadir bagi sesama. Betapa sering kita pun demikian, sibuk mengejar pengakuan, popularitas, jabatan, atau kenyamanan, sementara orang di sekitar kita sedang bergumul dengan kesulitan hidup. Namun Yesus tidak menegur dengan kemarahan. Ia justru mengedukasi para murid-Nya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kursi tinggi, empuk, melainkan kerendahan HATI, pelayanan, dan pengorbanan. Yesus sendiri menjadi teladan, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya bagi banyak orang.
Pesan Untuk Kita
Sebagai murid dan pengikut Yesus, kita belajar dari Yakobus dan Yohanes yang terjebak dalam ambisi pribadi. Ambisi untuk berkuasa sah-sah saja, tetapi harus disertai HATI yang berempati, terutama kepada mereka yang kita layani. Namun, yang perlu kita sadari bahwa empati bukan hanya tugas pemimpin formal, melainkan panggilan setiap kita yang percaya kepada Yesus. Kita semua dipanggil Tuhan Yesus untuk melayani sesama. Jangan tunggu jadi pemimpin baru melayani, sebab sejatinya kita sudah jadi pemimpin, setidaknya pemimpin bagi diri kita sendiri. Maka layani diri dengan baik, dan hadirlah bagi sesama di sekitar kita dengan HATI yang berempati. Ingatlah, menjadi besar bukan soal seberapa tinggi jabatan atau posisi atau kedudukan kita, tetapi seberapa rendah HATI kita mau membungkuk untuk melayani. Dunia menghargai kursi atau jabatan, tetapi Kerajaan Allah memuliakan HATI yang melayani. Menjadi pemimpin sejati berarti bermental hamba yang melayani: rendah HATI, sederhana, bersahaja, rela berkorban demi mereka yang dipimpin. Namun, ia juga harus berjiwa besar dalam menghadapi setiap persoalan. Inilah panggilan kita semua: melayani dengan empati, berkorban dengan KASIH, dan tetap teguh dengan jiwa besar.
Pertanyaan refleksi
1. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya lebih sering sibuk dengan ambisi pribadi, ataukah saya hadir dengan empati bagi orang-orang di sekitar saya?
2. Bagaimana saya dapat melatih diri untuk menjadi pemimpin sejati yang bermental hamba: rendah hati, sederhana, rela berkorban, dan berjiwa besar dalam menghadapi persoalan?
3. Siapa saja di sekitar saya yang saat ini membutuhkan empati dan pelayanan nyata, dan langkah apa yang bisa saya lakukan untuk hadir bagi mereka?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah mengajarkan kami arti kepemimpinan sejati. Ampuni kami ketika lebih sibuk mengejar ambisi pribadi daripada hadir dengan empati bagi sesama. Bentuklah HATI kami agar bermental hamba yang melayani, rendah hati, sederhana, rela berkorban, dan berjiwa besar menghadapi setiap persoalan. Jadikan kami pemimpin yang setia melayani, bukan hanya dalam jabatan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Biarlah melalui hidup kami, nama-Mu semakin dimuliakan. Amin.





