Binatang Peliharaan Lebih Berempati Dari Tuannya

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam bacaan Injil hari ini, kita temukan sebuah ironi kehidupan, di mana anjing peliharaan lebih punya hati yang berempati terhadap Lazarus miskin dari pada tuannya orang kaya itu. Ini refleksi untuk kita. Apakah binatang peliharaan kita lebih punya hati dari pada kita?

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 16: 19 – 31, yakni orang kaya dan Lazarus yang miskin. Dalam bacaan Injil hari ini, di depan pintu rumah orang kaya, Lazarus si pengemis berbaring penuh luka, menanti remah yang jatuh dari meja. Ironisnya, justru anjing-anjing yang dianggap hina datang menjilat boroknya tanda empati yang sederhana namun nyata. Sementara tuannya, manusia berharta, memilih menutup MATA dan HATI. Ketika hidup berakhir, Lazarus dipangku Abraham, sedangkan orang kaya itu merasakan siksaan. Penyesalan pun datang, tetapi sudah terlambat. Ia sadar, semua bisa dihindari seandainya dulu ia mau peduli. Kisah ini bukan sekadar masa lalu. Hari ini pun masih ada “Lazarus-Lazarus” di sekitar kita, mereka yang lapar, tersisih, dan menderita. Pertanyaannya: apakah kita melihat, atau justru sibuk dengan pesta kita sendiri? Yesus berkata: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku.” (Matius 25:40). Dan sebaliknya. Maka, mari sebelum terlambat mari buka mata Indriawi dan HATI kita, terhadap “Lazarus-Lazarus dewasa ini yang ada di sekitar kita. Ingat, di balik wajah mereka, ada wajah Tuhan yang tersembunyi.

Pesan Untuk Kita

Jangan sampai kita, manusia yang diciptakan segambar dengan Allah, kalah HATI dari seekor binatang peliharaan. Anjing-anjing itu menunjukkan empati, sementara orang kaya justru bergeming. Mari belajar dari keduanya: jangan menutup HATI seperti orang kaya, dan jangan malu berempati seperti anjing-anjing itu.
Karena penyesalan selalu datang kemudian dan sering kali, sudah terlambat.

Pertanyaan refleksi

1. Apakah saya selama ini lebih sering menutup mata terhadap “Lazarus-Lazarus” di sekitar saya, orang-orang yang menderita dan membutuhkan perhatian?
2. Apakah HATI saya lebih keras daripada seekor binatang peliharaan yang mampu menunjukkan empati sederhana?
3. Jika hidup saya berakhir hari ini, apakah saya akan menyesal karena tidak pernah membuka HATI dan TANGAN untuk sesama?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang penuh KASIH, ampunilah kami bila HATI kami sering lebih keras daripada batu, dan mata kami tertutup terhadap sesama yang menderita. Ajarlah kami memiliki HATI yang berempati, setidaknya seperti anjing-anjing itu yang mau peduli, agar hidup kami tidak berakhir dengan penyesalan. Bukalah pintu HATI kami, supaya kami melihat Engkau dalam diri mereka yang hina dan terluka. Amin.