Tuhan Tidak Pernah Berhenti Menanti

Frater

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK 

 

 

PAX VOBISCUM para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Anda barangkali pernah mendengar ungkapan menunggu itu membosankan. Namun tidak demikian dengan Tuhan, Dia tidak pernah berhenti menanti kita yang mau bertobat, seperti yang dikisahkan dalam perumpamaan tentang domba dan anak yang hilang dalam bacaan Injil hari ini.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 15: 1 – 3. 11 – 32, yakni perumpamaan tentang domba yang hilang dan perumpamaan tentang anak yang hilang. Para saudaraku, ytk.Sering kali kita merasa dosa terlalu besar untuk diampuni, atau berpikir Tuhan sudah bosan melihat kita jatuh bangun dalam kesalahan yang sama. Namun perumpamaan anak yang hilang dalam Injil Lukas menyingkap wajah Allah yang sesungguhnya, yakni Bapa yang tidak pernah berhenti menanti kita yang mau berubah dan bertobat. Anak bungsu meminta warisan, pergi jauh, lalu menghamburkan segalanya. Ia jatuh ke titik terendah, menjadi gembala babi, hingga akhirnya ia sadar, bahwa di rumah Bapa ada kelimpahan. Ia bangkit dan pulang. Yang luar biasa bukan hanya keberanian anak itu, tetapi KASIH sang Bapa. “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya.” Artinya, sang Bapa setiap hari menanti di ambang pintu. Dan ketika anak itu pulang, Bapa berlari, memeluk, dan memulihkan martabatnya dengan jubah, cincin, kasut, dan pesta sukacita. Inilah wajah Allah kita: KASIH yang tidak pernah bosan, tidak pernah berhenti, dan selalu siap memulihkan. Namun, pertobatan sejati bukan sekadar penyesalan. Anak bungsu tidak berhenti meratap di kandang babi, ia bangkit dan pergi. Pertobatan harus diwujudkan dalam AKSI nyata: meninggalkan ZONA nyaman dosa, berjalan pulang, dan hidup sebagai anak Allah.  

Sebaliknya, jangan seperti anak sulung yang iri HATI. Ia tidak bersyukur atas pertobatan saudaranya, sehingga mata hatinya tertutup oleh rasa tidak adil. KASIH Bapa mengajarkan kita untuk bersukacita atas setiap orang yang kembali, bukan membandingkan atau mengeluh.  

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jadilah seperti anak bungsu yang berani bangkit, meninggalkan ZONA nyaman, dan berjalan pulang ke pelukan KASIH Bapa. Jangan seperti anak sulung yang hatinya tertutup oleh iri dan ketidaksyukuran. Hari ini, Bapa sedang menanti kita di ambang pintu. Satu langkah pertobatan kita, akan disambut dengan pelukan KASIH-Nya. Bangkitlah, berjalanlah pulang, dan rasakan sukacita Bapa dan surga yang menanti kita.

Pertanyaan refleksi

1. Apakah saya sudah berani bangkit dan pergi, meninggalkan zona nyaman dosa, seperti anak bungsu yang memilih pulang?  

2. Apakah saya pernah bersikap seperti anak sulung—membiarkan rasa iri dan tidak bersyukur menutup mata HATI saya terhadap KASIH Bapa?  

3. Bagaimana saya dapat setiap hari hidup sebagai anak Allah yang dipulihkan, bukan lagi sebagai hamba dosa?  

Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan🙏🙏

Doa Singkat

Ya Bapa yang penuh KASIH, terima kasih karena Engkau tidak pernah berhenti menanti kami, sekalipun kami sering jatuh dalam dosa. Tolonglah kami untuk berani bangkit, meninggalkan zona nyaman, dan berjalan pulang kepada-Mu dengan HATI yang bertobat. Jauhkanlah kami dari sikap iri dan tidak bersyukur seperti anak sulung, agar kami selalu bersukacita atas KASIH dan pemulihan-Mu. Doa ini kami sampaikan kepadaMu dengan pengantaran Yesus Kristus Tuhan kami. Amin.