Mengajar dan Melakukan

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Mengajar bukan hanya tugas Guru di sekolah, tetapi Orang tua, atau siapapun memiliki tugas untuk mengajar sesama, tidak harus dengan kata-kata, tetapi melalui teladan hidup yang baik. Oleh karena itu, menjadi Orang tua atau guru dewasa ini sangat berat, jika sungguh-sungguh menjalankan perannya, sebab tidak hanya soal kata-kata, atau lisan, melainkan tindakan atau perbuatan. Antara kata dan tindakan harus sejalan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 17 – 19, yakni Yesus dan hukum Taurat.

Ki Hadjar Dewantara berkata, “Setiap orang adalah Guru, dan setiap rumah adalah sekolah.” Hidup kita sendiri adalah pengajaran. Orang tua, Guru, pemimpin, bahkan setiap pribadi tanpa sadar sedang mendidik lewat sikap dan teladan.
Yesus menegaskan dalam Injil Matius: “Siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.” Urutannya jelas: melakukan lalu mengajarkan. Kredibilitas lahir bukan dari kata-kata, melainkan dari tindakan nyata. Mengajar yang baik adalah dengan memberi teladan hidup yang baik, di mana perkataan dan perbuatan berjalan seiring. Nasihat tanpa teladan hanyalah omong kosong alias OMDO, atau NATO: No Action, Talk Only. Anak-anak atau murid mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka tidak akan lupa siapa kita. Murid atau anak-anak mungkin melupakan rumus, tetapi mereka akan mengingat integritas gurunya. Yesus sendiri adalah teladan sempurna: Ia tidak hanya mengajar, tetapi Ia menghidupinya. Antara kata dan tindakan-Nya sejalan. Kita sebagai murid-Nya pun harus demikian. Semoga!!!

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, dunia ini sudah terlalu penuh dengan kata-kata. Yang dibutuhkan anak-anak dan murid bukanlah nasihat atau kata-kata yang indah, melainkan teladan hidup yang nyata. Orang tua dan Guru dipanggil bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk menghidupi apa yang diajarkan. Ingatlah: “Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah.” Maka, biarlah rumah kita menjadi sekolah KASIH, kesetiaan, dan kebenaran. Biarlah hidup kita menjadi pelajaran yang tak pernah usang. Sebab Guru sejati bukan yang paling lantang bersuara, melainkan yang paling terang teladannya.

Pertanyaan refleksi

1. Apakah hidup saya sudah menjadi teladan nyata bagi anak-anak, murid, atau orang-orang di sekitar saya?
2. Kapan terakhir kali saya lebih banyak berbicara daripada melakukan, dan bagaimana saya bisa memperbaikinya?
3. Jika rumah saya adalah “sekolah,” nilai apa yang paling kuat diajarkan melalui sikap dan kebiasaan keluarga saya?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang penuh KASIH, ajarilah kami untuk tidak hanya berkata, tetapi juga melakukan. Jadikan hidup kami teladan bagi anak-anak, murid, dan sesama, agar rumah kami sungguh menjadi sekolah KASIH dan kebenaran. Kiranya perkataan dan perbuatan kami sejalan, sehingga nama-Mu dimuliakan melalui hidup kami. Amin.