Engkau Tidak Jauh Dari Kerajaan Allah

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Ucapan Yesus: engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah juga ditujukan kepada kita, manakala kita mewujudkanyatakan hukum kasih, yakni Kasih kepada Allah, lewat kasih kepada sesama secara tulus dengan mengampuni tanpa batas dan syarat dan melayani tanpa pamrih.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 12: 28b – 34, yakni hukum yang terutama. Dalam bacaan Injil hari ini, seorang ahli Taurat dipuji Yesus karena memahami bahwa KASIH lebih utama daripada kurban bakaran. Oleh karena itu, Yesus berkata kepadanya: “engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” Tidak jauh berarti dekat, tetapi belum masuk. Ia tahu kebenaran, tetapi belum menghidupinya. Demikian juga kita. Kita hafal hukum KASIH, rajin berdoa, beribadat, dan mengikuti ekaristi. Tetapi semua itu hanyalah ritual bila tidak berbuah dalam tindakan nyata. Urutannya jelas: Pertama Kasih kepada Allah: diwujudkan dalam doa, ibadat, dan ekaristi yang setia dan konsisten. Kedua Buah kasih kepada Allah: diwujud nyatakan dalam hidup sehari-hari lewat: mengampuni tanpa batas dan syarat dan juga lewat melayani tanpa pamrih Dengan demikian, kita tidak hanya “dekat” dengan Kerajaan Allah, tetapi sungguh masuk dan tinggal di dalamnya.

Pesan Untuk Kita

Jangan puas hanya menjadi orang yang “tidak jauh” dari Kerajaan Allah. Mari kita melangkah masuk: dari DOA atau IBADAT menuju PENGAMPUNAN, dari ALTAR menuju PELAYANAN, dari Gereja atau Kapela menuju KEHIDUPAN sehari-hari. Sebab di mana ada KASIH, di situ Allah hadir. Di mana ada PENGAMPUNAN, di situ Kerajaan Allah yang nyata. Di mana ada PELAYANAN tulus, di situ SURGA bersentuhan dengan bumi.

Pertanyaan refleksi

1. Apakah doa, ibadat, dan ekaristi yang saya jalani selama ini, sungguh mengalir menjadi KASIH nyata dalam hidup sehari-hari, atau masih berhenti pada ritual semata?
2. Siapa orang yang saat ini paling sulit saya ampuni, dan bagaimana saya bisa mulai membuka HATI untuk mengampuni tanpa syarat?
3. Dalam pelayanan yang saya lakukan, apakah saya masih mencari pujian dan balasan, atau sudah melayani dengan tulus tanpa pamrih sebagai buah KASIH kepada Allah?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan yang Mahakasih, ajarilah aku untuk tidak hanya menghafal hukum KASIH, tetapi sungguh menghidupinya dalam doa, ibadat, dan ekaristi yang setia. Biarlah buah KASIH itu nyata dalam hidupku: mengampuni tanpa batas, melayani tanpa pamrih, sehingga aku tidak hanya dekat, melainkan sungguh tinggal di dalam Kerajaan-Mu. Amin.