Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, barangkali kita merasa diri suci, saleh, alim, pintar, hebat, selalu berbuat baik, rajin berdoa, beribadat dan ekaristi, sampai tidak lagi menyentuh bumi dan lupa diri, kalau kita masih manusia, dan kita anggap yang lain tidak ada apa-apa nya. . Jika itu yang terjadi, maka kita sudah jatuh ke dalam kesombongan rohani atau kesombongan diri.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 18: 9 – 14, yakni perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai. Dalam
bacaan Injil hari ini, di Bait Allah, seorang Farisi berdoa dengan penuh percaya diri. Doanya panjang, penuh daftar prestasi rohani, sambil membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia datang dengan kesombongan, dan pulang tanpa pembenaran. Sedangkan di sudut gelap, seorang pemungut cukai hanya menunduk, memukul dada, dan berbisik lirih: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.” Ia datang dengan HATI yang remuk, dan pulang dengan jiwa yang telah dipulihkan. Yesus menutup perumpamaan ini dengan tegas: yang meninggikan diri akan direndahkan, dan yang merendahkan diri akan ditinggikan.
Bagaimana dengan kita? Sebagai murid Yesus, sikap kita saat berdoa, beribadat dan ekaristi, adalah kita harus datang dengan HATI yang RENDAH, penuh SYUKUR, dan KESADARAN bahwa segala sesuatu yang kita miliki, hanyalah karena KASIH karunia Tuhan. Doa, ibadat , ekaristi, bukanlah ajang pamer PRESTASI rohani, jabatan, gelar, melainkan perjumpaan tulus dengan Allah yang penuh BELAS kasihan. Oleh karena itu, lepaskan atribut-atribut duniawi, dan datanglah dengan kerendahan HATI kepada Tuhan.
Pesan Untuk Kita:
Selagi kita masih hidup di dunia, tidak ada alasan untuk sombong diri. Rendahkanlah HATI. Jangan sibuk menatap langit atau membandingkan diri dengan orang lain, tetapi lihatlah ke dalam diri. Ingat, di hadapan Tuhan kita bukan siapa-siapa, kita tetap manusia yang tidak sempurna. Jadikan kekayaan rohani dan ilmu, jabatan, gelar, bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuji Tuhan dan melayani sesama.
Pertanyaan refleksi
1. Ketika berdoa, apakah saya lebih sering membawa daftar “prestasi rohani” atau membawa HATI yang hancur dan penuh kerendahan?
2. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah saya cenderung membandingkan diri dengan orang lain, atau justru menyadari bahwa semua orang sama-sama butuh belas kasihan Tuhan?
3. Bagaimana saya bisa menjadikan pengetahuan dan kekayaan rohani bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuji Tuhan dan melayani sesama?
Selamat berefleksi..& Selamat berakhir pekan🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan yang penuh kasih, ampunilah kami yang sering merasa benar sendiri. Ajarlah kami untuk selalu rendah HATI, melihat ke dalam diri, dan menyadari bahwa kami hanyalah manusia yang tidak sempurna. Biarlah segala pengetahuan dan kekayaan rohani kami gunakan bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memuji nama-Mu dan melayani sesama dengan KASIH. Amin.







