Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kapan Anda mengenali Yesus dalam hidup Anda? Seperti dua murid Emaus, mereka mengenali Yesus, saat Yesus memecahkan roti.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 24: 13 – 35, yakni Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus. Dalam bacaan Injil hari ini, dua murid melakukan perjalanan ke Emaus penuh kekecewaan. Keduanya, melangkah dengan HATI yang tertambat di Yerusalem: harapan runtuh, doa terasa hampa, janji Allah seakan tertunda. Namun Yesus datang, berjalan di sisi mereka, mendengar, dan menyingkapkan Kitab Suci. HATI mereka mulai berkobar, meski mata masih tertutup. Pengetahuan saja tidak cukup, kita perlu perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Di meja makan, saat roti dipecahkan, mata mereka terbuka. Bukan dalam mujizat besar, melainkan dalam tindakan sederhana yang memuat seluruh KASIH Kalvari. Roti yang dipecahkan menjadi tanda tubuh-Nya yang diserahkan. Sejak itu, memecahkan roti bukan sekadar ritual, melainkan ruang perjumpaan: di Perjamuan Kudus, dalam keluarga yang membuka firman, saat berbagi dengan yang lapar, atau ketika kita saling mengampuni. KASIH menjadi nyata, iman tidak lagi abstrak. Mata terbuka, HATI menyala, langkah pun berubah. Malam itu juga mereka kembali ke Yerusalem, bersaksi: “Benar! Tuhan telah bangkit!” Sukacita perjumpaan tidak mereka simpan sendiri, melainkan mereka bagikan kepada sesama, mulai dari yang terdekat, di keluarga, di komunitas dan di tempat kerja.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, perjalanan Emaus adalah cermin perjalanan iman kita hari ini, melangkah dalam kekecewaan, doa yang terasa hampa, dan harapan yang tertunda. Namun Yesus selalu hadir, berjalan di sisi kita, menyalakan kembali hati yang dingin. Spirit kedua murid Emaus mengingatkan: begitu mata terbuka dan hati menyala, iman tidak boleh berhenti pada pengalaman pribadi, tetapi harus segera bergerak menjadi kesaksian. Memecahkan roti dewasa ini berarti mengenali Yesus dalam tindakan sederhana: Perjamuan Kudus, keluarga yang membuka firman, berbagi dengan yang lapar, mengampuni, dan melayani. Di sanalah kasih menjadi nyata, iman tidak lagi abstrak. Karena itu, jangan berhenti di Emaus. Jika HATI pernah berkobar dan mata terbuka, bangkitlah. Jadilah murid yang berlari membawa kabar sukacita: Yesus hidup, berjalan bersama kita, dan mengutus kita menjadi saksi-Nya di setiap langkah.
Pertanyaan refleksi
1. Dalam perjalanan iman saya, kapan saya merasa berjalan seperti murid Emaus—letih, kecewa, atau seakan doa tak dijawab?
2. Bagaimana pengalaman sederhana sehari-hari (misalnya berbagi, mengampuni, atau bersyukur) bisa menjadi “roti yang dipecahkan” di mana saya mengenali kehadiran Yesus?
3. Setelah mata rohani saya terbuka, apakah saya berani segera bersaksi seperti murid Emaus, atau masih menunda karena takut atau sibuk?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, bukalah mata HATI kami agar mampu mengenali-Mu dalam setiap roti yang dipecahkan, dalam firman, pelayanan, dan KASIH yang sederhana. Nyalakan kembali iman kami yang lelah, dan jadikan langkah kami ringan untuk bersaksi bahwa Engkau hidup dan berjalan bersama kami. Amin.







