Pertemuan Gubernur NTT dan Kepala Daerah di Pulau Semau Dikritik Tokoh Agama: Contoh Tak Baik

gubernur ntt
Kerumunan orang dalam acara pertemuan kepala daerah se-Nusa Tenggara Timur di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, Jumat (27/8/2021). ANTARA/HO-Tangkapan layar video yang diposting akun youtube Media SULUH DESA.

EXPONTT.COM – Pertemuan Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama para kepala daerah se-NTT di Pulau Semau, Kabupaten Kupang mendapatkan sorotan dari tokoh agama Kristen di Kupang, Pendeta Emi Sahertian.

“Bagi saya kerumunan ini contoh tidak baik bagi masyarakat terutama ketika penerapan PPKM tingkat IV sedang berlangsung dan penularan Covid-19 mulai melandai,” ujarnya di Kupang, Sabtu 28 Agustus 2021 dikutip dari Antara.

Gubernur NTT bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi bersama para kepala daerah atau perwakilan se-NTT berada di Pulau Semau, Jumat 27 Agustus 2021.

Kerumunan ini terekam dalam bentuk foto dan video dan kemudian beredar luas di masyarakat di jejaring media sosial.

Baca juga: Bank NTT Ajak Warga Pasar Kasih Naikoten Untuk Terapkan Pembayaran Non Tunai QRIS

Aktivitas politik berupa pengumpulan massa dan karitatif lain di berbagai tingkatan sangat berpotensi menyebarkan penyakit menular mematikan Covid-19, kata Sahertian.

Hal ini dinilai berlawanan dengan program negara dan bangsa ini dalam memberantas Covid-19 dari Tanah Air.

NTT juga masih menyandang status PPKM tingkat IV, tingkat paling tinggi derajad bahayanya.

Sahertian mengatakan kalangan gereja telah mencoba menerapkan berbagai aturan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19 bahkan menutup kebaktian pada Minggu.

Baca juga: Pemeriksaan Spesimen Covid-19 di NTT Jauh dari Target

“Namun pada sisi lain aktor-aktor pemerintahan menabrak peraturan itu dengan menggelar kegiatan yang menimbulkan kerumunan,” katanya.

Menurut dia, kegiatan ini sudah masuk dalam klasifikasi perbuatan kriminal karena kerumunan ini bisa mengancam nyawa orang lain bila ada orang dengan kondisi orang tanpa gejala Covid-19 di tempat kegiatan.

“Aturan kedaruratan untuk mencegah penularan dan menyelamatkan banyak nyawa masyarakat, bila dilanggar ini sekelas dengan tindakan kriminal,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, sebagai imam agama yang selalu bersama masyarakat, ia meminta penjelasan dari Pemerintah Provinsi NTT atas kerumunan dan pesta di Pulau Semau dalam masa penerapan PPKM tingkat IV di NTT.

“Kegiatan berisiko ini akan bisa ditiru masyarakat, bahkan bisa mengancam jiwa sesama karena rentan penularan Covid-19 yang mulai melandai di NTT,” katanya.