Majikan Pembunuh Adelina Lisao Dibebaskan, Koalisi dan Masyarakat Sipil Akan Protes di Kedubes Malaysia

EXPONTT.COM – Koalisi Malaysia untuk Keadilan bagi Adelina Lisao bersama sejumlah elemen masyarakat sipil lainnya akan menggelar aksi protes di Keduataan Besar Malaysia di Jakarta pada Senin 27 Juni 2022, menyusul putusan Mahkamah Persekutuan Malaysia (Mahkamah Agung Malaysia) yang membebaskan S. Ambika, majikan Adelina Lisao.

Dalam aksinya, massa akan mengenakan dress code serba hitam sebagai tanda berkabung.

Adelina Lisao merupakan pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tewas dengan banyak luka di tubuhnya pada Februari 2018 lalu.

Baca juga:Kementan Sebut NTT Jadi Satu-satunya Provinsi Pemasok Sapi Terbesar di Indonesia

Dalam putusannya, majelis yang beranggotakan Vernon Ong Lam Kiat, Harmindar Singh Dhaliwal dan Rhodzariah Bujang menolak permohonan jaksa penuntut umum untuk menggugurkan putusan Mahkamah Tinggi.

“Vonis itu sangat merendahkan martabat PRT (pembantu rumah tangga) migran, perempuan dan bangsa kita, serta melukai rasa keadilan kita,” ujar Koordiantor Aksi Koalisi Malaysia untuk Keadilan bagi Adelina, Siti Badriyah saat melansir tajukflores.com, Sabtu 25 Juni 2022.

Siti menuturkan, aksi protes di Kedubes Malaysia akan dihadiri oleh sejumlah elemen masyarakt sipil lainnya yakni Koalisi Masyarakat Sipil untuk Advokasi PRT, Koalisi Advokasi UU TPKS, dan sebagainya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung Malaysia pada Kamis 23 Juni 2022, telah menolak upaya banding jaksa atas putusan pembebasan majikan terdakwa pembunuh asisten rumah tangga, Adelina Lisao.

Baca juga:Cabuli Siswi SMP di Kosan, Fotografer di Kota Kupang Diciduk Polisi

Hakim di Mahkamah Persekutuan memutuskan menolak banding yang diajukan jaksa atas putusan Pengadilan Tinggi pada April 2019.

Kemudian Mahkamah Banding Malaysia pada September 2020 menguatkan pembebasan S. Ambika, majikan yang menjadi terdakwa pembunuhan Adelina Lisao tersebut.

Mengutip Antara, hakim mengatakan tidak ada kesalahan atas putusan tersebut. Oleh karenanya pengadilan menolak banding.

Hakim Vernon menegaskan, jaksa penuntut umum harus memberikan alasan mengapa mengajukan permohonan Discharge Not Amounting To Acquittal (DNAA).

Baca juga:Tak Kunjung Dapat Negara Ketiga, Pengungsi Afghanistan Coba Akhiri Hidup di Jembatan Liliba

Menurutnya, DNAA hanya boleh diberikan jika ada alasan valid yang diberikan pihak jaksa.

“Malah berdasarkan catatan banding, tiada alasan diberikan pihak pendakwaan (di Pengadilan Tinggi),” ujar Hakim Vernon sebagaimana dilaporkan kantor berita Bernama.

DNAA berarti terdakwa dibebaskan dari dakwaan, namun dapat dituntut lagi di kemudian hari. Sebaliknya, putusan Mahkamah Persekutuan ini membuat Ambika bebas murni dan tidak bisa didakwa pidana atas kematian Adelina.

Baca juga:Sudah 14 Hari Tapi Penyidik Polda NTT Belum Limpahkan Berkas Tersangka Ira Ua ke Kejaksaan

Indonesia Kecewa

Duta Besar RI di Kuala Lumpur, Hermono menyatakan Indonesia kecewa dengan vonis Mahkamah Persekutuan Malaysia dalam kasus Adelina tersebut.

Hal itu disampaikan Hermono, usai menghadiri persidangan di Mahkamah Agung Malaysia (Mahkamah Persekutuan Malaysia) pada Kamis 23 Juni 2022.

Menurut Hermono, keluarga mendiang Adelina dan seluruh rakyat Indonesia sangat kecewa dengan keputusan MA Malaysia tersebut.

Baca juga:Tempat Mengakhiri Hidup Hingga Mengikat Cinta, Ini Fakta Jembatan Liliba

“Tak ada yang bertanggung jawab untuk kasus ini. Sangat sulit untuk dipahami, sebab kita tahu betul bahwa Adelina telah meninggal dengan kondisi seluruh tubuh luka terinfeksi. Tak ada yang membawanya ke rumah sakit,” ujar Hermono pada Jumat 24 Juni 2022.

Hermono menyayangkan kasus yang sangat serius seperti ini dan menyangkut nyawa manusia tetapi tidak ada yang bertanggung jawab.

“Ini masalah kemanusiaan. Kita harus berpikir dari perspektif keluarga. Bagaimana keluarganya melihat anggotanya meninggal dengan cara yang tragis dan tak ada yang bertanggung jawab. Saya kira ini jadi persoalan,” kata dia.

Baca juga:Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria