Dinas Peternakan NTT Minta Warga Tak Perlu Takut Konsumsi Daging Babi

Kabid Keswan dan Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi NTT, Drh. Melky Angsar, M.Sc. / foto: Gorby Rumung

EXPONTT.COM – Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengimbau kepada warga untuk tidak perlu takut untuk mengkonsumsi daging babi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi NTT, Drh. Melky Angsar, M.Sc.

Menurutnya, masyarakat dapat membedakan daging yang layak dikonsumsi dengan berbagi metode.

Baca juga:Warga NBS Ancam Bongkar Stadion Mini Jika Nama A.D. Riwu Kore Diganti

“Yang pertama bisa dilihat dari kondisi dagingnya, kalau terlihat kebiruan pada bagian lemak, maka dapat dipastikan itu tidak layak dibeli. Selain itu juga bisa kita cium baunya, kalau sudah bau bangkai, tentu itu daging dari babi yang sudah mati, bukan dipotong,” jelasnya.

Drh. Melky menyarankan kepada masyarakat yang hendak membeli daging agar bisa menanyakan bukti pembayaran retribusi dari tempat pemotongan kepada pedagang daging.

“Pastikan daging berasal dari rumah potong hewan dan pedagang bisa menunjukan karcis retribusi, karena kalau dari rumah potong tentu daging yang dijual tentu dari babi yang sehat dan dagingnya segar, karena baru dipotong pada hari itu,” jelasnya.

Baca juga:Tumbuhkan Tradisi Adat, Ganjar Milenial Center Alor Gelar Lomba Lego-Lego

Dua minggu belakangan ini wilayah NTT diresahkan dengan kematian ternak babi secara mendadak. Dari hasil pemeriksaan lab, diketahui para babi yang mati secara mistrius itu disebabkan African Swine Fever (ASF).

Drh. Melky menyebut, hingga saat ini kasus kematian babi yang terjadi di NTT akibat virus ASF tahun ini tidak separah yang terjadi pada 2020 lalu.

Dirinya mengatakan, pada tahun 2020 NTT mengalami kematian hingga puluhan ribu ekor babi. “Untuk kali ini tidak separah itu,” tambahnya.

Meski begitu, Dinas peternakan tetap melakukan langkah-langkah untuk mencegah penyakit African Swine Fever (ASF) menyebar lebih luas di wilayah NTT, seperti dengan pendistribusian desinfektan dan juga sosialisasi-sosialisasi kepada para peternak babi.

Baca juga:Seorang Polisi Jadi Tersangka Kasus Pengainayaan ODGJ di Lembata

“Kami sudah salurkan 39.200 liter desinfektan ke seluruh NTT. Jadi para peternak bisa langsung minta ke puskeswan atau pun di Dinas Peternakan di masing-masing Kabupaten/Kota,” jelasnya.

Menurut data Dinas Peternakan Provinsi NTT, Per 23 Januari 2023, terjadi 239 kasus kematian babi akibat virus ASF.

Dengan rincian, kasus terbanyak di Kabupaten Kupang 75 kasus kematian babi, Sikka 42, Kota Kupang 39, Flores Timur 33, Ende 30 dan Sumba Barat Daya 20 kasus kematian akibat ASF.♦gor

Ikuti berita dari EXPONTT.com di Google News

Baca juga:153 PPS se-Kota Kupang Resmi Dilantik, Ketua KPU NTT Minta Segera Tancap Gas