Bukan Dari Bali, Ini Penyebab ASF Pada Ternak Babi Merebak di NTT

ilustrasi peternakan babi / dok: sariagri

EXPONTT.COM – Merebaknya ASF di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) di dua minggu belakangan ini bukan disebabkan oleh ternak babi yang didatangkan dari luar NTT.

Menurut Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi NTT, drh. Melky Angsar, M.Sc., ASF bukanlah virus yang baru masuk di NTT, namun sudah pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2020 lalu.

“Bukan baru kali ini dan bukan dari Bali seperti kabar yang beredar. 2020 itu (ASF) sudah masuk  dan yang mati kita tahu ratusan ribu. Namun memang virus itu belum hilang. Ini sama seperti covid-19, tidak menjadi pandemi lagi, tapi belum hilang virusnya.ASF saat ini juga begitu,” jelasnya.

Baca juga:Dinas Peternakan NTT Minta Warga Tak Perlu Takut Konsumsi Daging Babi

Diketahui Gubenur NTT pada Mei 2022 lalu melalui instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2022, melarang memasukan babi, sapi dan kerbau dari luar NTT untuk mencegah masuknya PMK dan ASF.

Kita dari 2022 Gubernur sudah larang membawa masuk ternak dari luar NTT untuk hindari Penyakit Mulut dan Kuku dan ASF, jadi peningkatan kasus ASF yang terjadi saat ini adalah virus yang memang masih ada di dalam NTT,” jelas drh. Melky.

Kabid Keswan dan Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi NTT, Drh. Melky Angsar, M.Sc. / foto: Gorby Rumung

Menurut drh. Melky, ada banyak faktor yang mengakibatkan ASF kembali merebak di NTT. Salah satunya lalu lintas ternak babi yang begitu tinggi pada saat hari raya Natal dan Tahun baru.

“Permintaan tinggi saat Natal dan Tahun baru tentu akan membuat pengiriman babi semakin meningkat juga,” jelasnya.

Baca juga:153 PPS se-Kota Kupang Resmi Dilantik, Ketua KPU NTT Minta Segera Tancap Gas

Ia menjelaskan, dalam proses mobilitas, babi harus berhimpitan di dalam mobil pikap tentu akan membuat ternak babi stres, ditambah lagi cuaca yang saat ini sedang tidak menentu membuat kondisi babi menjadi drop.

“Begitu sampai di tujuan babi sudah stres tentu akan buat daya tahan tubuh turun dan akhirnya mudah terserang virus ditambah lagi tempat itu (tujuan) belum tentu bebas dari virus,” jelasnya.

Selain lalu lintas ternak babi yang tinggi, kandang dan pakan babi juga mempengaruhi merebaknya virus ASF.