Gubernur NTT: Perawat Jangan “Muka Asam”, Bahaya untuk Kesembuhan Pasien

Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat memberikan kuliah umum di STIKES Sta. Elisabeth Maumere / foto: ist

EXPONTT.COM, SIKKA – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, perawat yang “muka asam” berbahaya untuk penyembuhan pasien.

Hal itu disampaikan Melki Laka Lena saat melakukan kunjungan kerja sekaligus memberikan kuliah umum di STIKES Sta. Elisabeth Keuskupan Maumere pada Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, kualitas seorang perawat tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi dari keramahan tamahan dalam pelayanan (hospitality). Ia merujuk pada kesuksesan rumah sakit di Penang, Malaysia, yang diminati orang Indonesia karena keramahan perawatnya.

“Kualitas perawat menentukan kualitas pelayanan kesehatan di republik ini. Jangan sampai perawat ‘muka asam’, itu bahaya bagi kesembuhan pasien. Sebagaimana pesan tokoh NTT, Ben Mboi, perlakukanlah pasien seperti saudara sendiri. Tugas kesehatan adalah tugas kemanusiaan yang mendatangkan kebahagiaan,” kata Melki Laka Lena dihadapan ratusan mahasiswa.

Baca juga:  SMK Maritim Nusantara Kupang Dapat Pujian dari Gubernur NTT

Lebih lanjut, Gubernur mengakui adanya tantangan besar di NTT antara produksi lulusan perawat yang sangat tinggi dan jumlah lapangan kerja lokal di tingkat kabupaten maupun provinsi kini sudah sangat terbatas. Namun, Melki melihat peluang besar di kancah internasional.

“Ada kebutuhan 14 juta perawat di seluruh dunia. Lulusan Stikes St. Elisabeth, atau yang dikenal dengan Akper Lela, adalah lulusan bermerek. Kalian punya modal ketangguhan dan religiusitas yang tinggi. Jangan hanya bermimpi jadi PNS,” ujar Melki memotivasi.

Baca juga:  Gubernur NTT Minta Warga Miskin Diprioritaskan Jadi Pekerja di Dapur MBG

Menutup arahannya, Gubernur Melki berbagi pengalaman pribadinya. Ia mengisahkan bagaimana ia berani melepas status PNS demi mengejar pengabdian yang lebih luas hingga akhirnya menjadi Gubernur.

“Bermimpilah yang tinggi. Jika kalian ingin sukses, buatlah terobosan, jadilah caregiver di kota besar atau masuk ke dunia internasional. Lulusan Elisabeth sudah membuktikan mereka layak di pentas dunia. Sebagai Gubernur NTT saya bangga. Sejak bernama SPK Lela, saya sudah tahu kualitas sekolah ini,” pungkasnya.

Stikes St. Elisabeth merupakan institusi yang terus bertransformasi. Berawal dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) hingga menjadi Akper Sta. Elisabeth Lela pada 2008, institusi ini resmi berubah bentuk menjadi Stikes pada tahun 2024. Saat ini, tercatat sebanyak 643 mahasiswa (semester ganjil 2025/2026) menimba ilmu di sana, yang berasal dari berbagai daerah seperti Flores, Sabu hingga Timor.

Baca juga:  Pemprov NTT Cairkan THR ASN, Total Rp 96,4 Miliar

Ketua Yayasan Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Maria Kornelia Tinggi Kuwa, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas kehadiran orang nomor satu di NTT tersebut. Menurutnya, kunjungan ini merupakan bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap institusi pendidikan swasta di daerah.

“Kedatangan perdana Bapak Gubernur di kampus ini adalah sebuah rezeki dan kebanggaan besar bagi kami. Di bawah naungan Yayasan Santo Lukas Keuskupan Maumere, kami terus berupaya menghidupi moto ‘Serviam in caritate’ atau melayani dalam kasih,” ujar Maria.