EXPONTT.COM, JAKARTA – Musisi asal Kota Kupang, Nocturness, berkolaborasi dengan solois Mario A merilis single terbaru bertajuk “Feeling Like Dying”, sebuah karya musikal yang menggali sisi terdalam dari cinta, obsesi dan kesadaran akan keterbatasan waktu manusia.
Mengusung atmosfer melankolis dengan aransemen yang sinematik, lagu ini menghadirkan narasi emosional tentang kerinduan ekstrem kepada seseorang yang dicintai.
Melalui lirik-lirik reflektif, “Feeling Like Dying” menggambarkan keinginan untuk menempuh jarak yang jauh, mendaki ketinggian, bahkan merasakan “kematian” berulang kali hanya demi merasakan kehadiran orang yang dicintai.
Salah satu baris lirik yang menjadi inti pesan lagu ini berbunyi “I feel like dying again and again just to be you / Cause I know one day I’ll go.”
Baris tersebut merepresentasikan kesadaran akan keterbatasan hidup manusia—bahwa waktu yang dimiliki tidak selamanya ada.
Dalam keterbatasan itu, keinginan untuk benar-benar memahami atau menyatu dengan seseorang yang dicintai menjadi begitu kuat.
Menurut Nocturness, lagu ini tidak berbicara tentang kematian secara literal, melainkan tentang proses transformasi emosional.
“Lagu ini menceritakan tentang menyerahkan segalanya, bahkan eksistensi diri, hanya untuk merasakan kehadiran seseorang yang sangat dicintai,” ujar Nocturness.
Dalam perspektif artistiknya, “kematian” yang dimaksud dalam lagu ini merupakan metafora dari kematian ego—sebuah proses perubahan diri demi memahami seseorang secara lebih dalam sebelum waktu benar-benar habis.
Pertemuan Dua Karakter Musik
Kolaborasi ini mempertemukan dua musisi dengan karakter musikal yang berbeda namun saling melengkapi.
Mario A, yang memiliki nama lengkap Mario Amrillah, dikenal publik melalui lagu “Wanting You Is Not A Crime” yang hampir mencapai lima juta pendengar di Spotify. Ia dikenal sebagai musisi yang menonjolkan emosi mentah dalam karya-karyanya melalui vokal yang ekspresif serta penulisan lirik yang jujur.
Sementara itu, Nocturness—nama panggung dari Imanuel Lawa—dikenal lewat eksplorasi musik dark ambient dan pendekatan produksi yang sinematik. Dalam karya-karyanya seperti Journey, Moon, dan Silent, Nocturness membangun atmosfer musikal yang intim sekaligus megah, menghadirkan pengalaman mendengarkan yang imajinatif dan melankolis.
Kolaborasi keduanya dalam “Feeling Like Dying” mempertemukan kekuatan vokal emosional Mario A dengan lanskap suara atmosferik yang menjadi ciri khas Nocturness.
Produksi Musik
Secara musikal, “Feeling Like Dying” dibangun melalui aransemen yang berkembang secara perlahan, menciptakan ketegangan emosional yang kuat.
Lagu ini memadukan instrumen organik dengan elemen melankolis yang menghasilkan nuansa berat namun tetap indah.
Proses produksinya juga melibatkan produser asal Alor, Nusa Tenggara Timur, Reno Wrrst, yang memberikan sentuhan melodi gitar berkarakter sehingga memperkaya tekstur musik dalam lagu ini.
Mario A menyebut lagu ini sebagai refleksi tentang nilai dari momen-momen berharga dalam hidup.
“Lagu ini adalah tentang penerimaan, bahwa ada hal-hal yang begitu berharga sehingga kita rela mati berkali-kali hanya untuk merasakannya sebentar saja sebelum kita benar-benar pergi,” kata Mario A.
Tersedia di Seluruh Platform Digital
Single “Feeling Like Dying” kini sudah tersedia di berbagai platform musik digital dan dapat dinikmati oleh pendengar di seluruh dunia.
Kolaborasi ini juga menandai langkah baru bagi kedua musisi dalam memperluas jangkauan karya mereka, sekaligus memperkenalkan warna musik dari Indonesia Timur ke panggung yang lebih luas. (*)








