Dugaan Penganiayaan di Sikka Oleh Satgas Covid-19, Kuasa Hukum Minta Penyidik Segera Periksa 24 Oknum Petugas

  • Bagikan

EXPONTT.COM – Senopati Idara, kuasa hukum Emanuel Manda, korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oknum petugas patroli gabungan Satgas Covid-19 Kabupaten Sikka mendatangi Polres Sukka, Jumat 9 Juli 2021.

Senopati mengaku, kedatangannya ke Polres Sikka untuk meminta penyidik segera memeriksa oknum petugas yang diduga melakukan penganiayaan terhadap kliennya.

“Kami sudah ke Polres Sikka untuk meminta segera memeriksa 24 petugas yang bertugas pada 6 Juli 2021 lalu,” ujarnya saat ditemui di Kelurahan Kota Baru, Maumere.

Pihaknya juga mempertanyakan perkembangan kasus penganiayaan dan pengeroyokan yang telah dilaporkan oleh klienya, sehingga kliennya selaku pelapor bisa merasa proses ini tidak bertele-tele dan bisa mendapatkan kepastian hukum.

Baca juga: Kronologi Warga Sikka Diduga Dianiaya Satgas Covid-19

Senopati menegaskan, jika pada malam kejadian tidak ada petugas patroli yang datang ke rumah kliennya, maka tidak ada kejadian pengeroyokan dari Satgas Covid-19 kepada kliennya.

“Ada saksi istri korban dan hasil visum. Kita telah meminta penyidik Polres Sikka untuk mengambil visum tersebut,” tegasnya.

Senopati juga mengaku telah bersurat kepada Propam Polda NTT, Irwasum Polri, dan Kompolnas, agar ikut mengawasi perkara ini karena ada dugaan keterlibatan oknum aparat dari Polres Sikka.

Selaku kuasa hukum, pihaknya tidak ingin agar masyarakat apatis terhadap supremasi penegakan hukum, karena kasus ini mendapatkan perhatian publik.

Baca juga: 61 Tenaga Kesehatan Kupang Positif Covid-19, RSUD W.Z Johannes Batasi Perawatan

Sebelumnya, Emanuel Manda diduga dihajar saat aparat gabungan melakukan operasi yustisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro di Kabupaten Sikka.

Akibatnya, bagian wajah Emanuel harus mendapatkan jahitan sebanyak 3 kali oleh tim medis akibat luka yang diderita.

Korban bersama istri, Novayanti Alfrida Piterson pun melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib dalam hal ini Polres Sikka pada Selasa 6 Juli 2021 malam sekitar pukul 23.00 wita.

Nova pun masuk ke dalam kios dan meminta korban untuk menutup pintu kios.

Baca juga: Kasus Korupsi Lahan Labuan Bajo: 2 Warga Italia yang Terlibat Tidak Terbukti Bersalah

Tak berselang lama, petugas gabungan Satgas Covid-19 datang dan sudah berada di depan pintu kios dan menegur keduanya.

“Saya sempat bilang kepada petugas, ‘mohon maaf Pak, kami terlambat tutup kios karena kami baru pulang dari Kewapante’. Petugas tanya ke suami, kenapa tidak pakai masker. Suami saya langsung bilang, ‘Pak saya ini baru tiba di kios dan masker saya sudah gantung di dalam kios karena saya mau tutup kios’,” jelas Nova sambil menangis.

Petugas nampaknya tidak menerima jawaban korban. Nova pun mencoba menjelaskan lagi tetapi petugas tidak menerima penjelasan keduanya.

Korban pun langsung ditarik petugas ke mobil patroli dan langsung menghajarnya. Setelah itu, petugas pun membawa korban menuju Polres Sikka menggunakan mobil patroli.

Baca juga: Hasil Tes Swab Positif Covid-19, 5 Warga Ende Kabur

“Petugas ini tarik kerah baju suami saya. Saya sudah coba lerai dan minta maaf tapi petugas lainnya langsung lempar saya ke samping. Suami saya langsung dipukul dan dibuang ke atas mobil patrol oleh petugas,” ungkapnya.

Nova mengaku kecewa dengan perlakuan para petugas. Ia mengaku menghargai kerja petugas menegakan kebijakan Pemerintah dalam upaya menekan angka penyebaran Covid-19 di Kabupaten Sikka.

Namun menurutnya, tidak seharusnya ada tindakan kekerasan apalagi sampai ada korban yang harus dilarikan ke rumah sakit.

“Saya hargai tugas mereka. Tetapi saya sudah minta maaf. Tetap saja mereka melakukan tindakan kekerasan terhadap suami saya. Kok petugas sangat arogan sekali. Ini yang saya tidak terima sampai-sampai pelipis suami robek besar,” ujar Nova.

Baca juga: Kronologi Warga Sikka Diduga Dianiaya Satgas Covid-19

cendananews.com

  • Bagikan