EXPONTT.COM, TTS – Peristiwa bersejarah terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Senin, 15 September 2025, saat Kerajaan Amanuban secara resmi dikembalikan kepada keluarga besar Nuban setelah hampir empat dekade.
Untuk diketahui, Bil Nope merekonstruksi penyerahan kekuasaan kerajaan Amanuban pada 15 September 1987 dengan menyerahkan Destar Raja Amanuban kepada 4 Suku pemilik Kerajaan Amanuban yaitu Nuban, Nubatonis, Tenis, Asbanu.
Keempat suku selanjutnya menyerahkan Destar tersebut kepada bupati TTS untuk menobatkan Raja Amanuban, yaitu Jonathan Nubatonis. Bupati menobatkan Jonathan karena situs Kerajaan Amanuban merupakan salah satu situs yang dipelihara oleh negara.
Peristiwa ini ditandai dengan penobatan Jonathan Nubatonis sebagai Raja Amanuban berdasarkan kesepakatan rumpun keluarga besar Nuban, Nubatonis, Tenis dan Asbanu, yang dilaksanakan di Kompleks Sonaf Amanuban di Desa Tubuhue, Kecamatan Amanuban Barat, sekaligus penobatan ini mengakhiri kekosongan kekuasaan Kerajaan Amanuban selama 38 tahun, setelah Keluarga Nope menyerahkan tampuk Amanuban ke empat suku besar tersebut pada tanggal 15 September 1987.
Kerajaan Amanuban diyakini berdiri sejak abad ke-5 Masehi dengan 32 generasi Raja Nuban. Dinasti itu berakhir ketika Raja ke-32, Seo Nuban, digulingkan oleh keluarga Nope. Selama 11 generasi berikutnya, kekuasaan dipegang oleh dinasti Nope hingga masa Raja Kusa Nope.
Menjelang akhir hidupnya pada 15 September 1987, Raja Kusa Nope yang telah memeluk agama Kristen menyadari bahwa peralihan kekuasaan masa lalu meninggalkan luka sejarah. Ia kemudian mengutus empat anggota keluarga Nope—antara lain Karel (Kela) Nope dan Luis Nope—ke Tunbes untuk menyerahkan kembali hak kerajaan kepada keluarga Nuban, Nubatonis, Tenis dan Asbanu.
Namun, penyerahan tersebut tidak segera diresmikan melalui upacara adat maupun syukuran keagamaan. Baru pada 15 September 2025, tepat 38 tahun kemudian, peristiwa tersebut diperingati secara resmi.
Dalam prosesi adat, Bil Nope selaku putra mahkota dinasti Nope menyerahkan destar raja kepada empat suku besar di Kerajaan Tunbes. Selanjutnya, keempat suku tersebut meneruskan penyerahan kepada Bupati TTS untuk menobatkan Raja Jonathan Nubatonis.
Proses ini mencerminkan rekonstruksi peristiwa 1987, sekaligus menegaskan bahwa situs kerajaan Amanuban di Tunbes merupakan warisan budaya yang dijaga negara.
Hadir dalam penobatan ini Bupati TTS Eduard Markus Lioe, Perwakilan Keluarga Nope, Bill Nope, Perwakilan Kerajaan Mollo, Paulus Mella, dan Perwakilan tiap suku Nuban-Nubatonis- Tenis- Asbanu di Wilayah Amanuban dan beberapa di Kabupaten Kupang.
Tokoh Keluarga Nope, Bill Nope hadir dan menyerahkan secara simbolik tampuk kepemimpinan Kerajaan Amanuban kepada Empat Suku.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah secara resmi mengakui pemindahan kekuasaan ini, dan secara sah adat mengakui Raja Jonathan Nubatonis sebagai Raja Amanuban.
“Secara adat saya menyerahkan Alam Timor Tengah Selatan untuk selanjutnya akan sampai pula kepada yang berhak yaitu Keluarga Nubatonis. 38 tahun kita dibiarkan begitu saja, semoga Tuhan memberkati kita,”ungkapnya.
Bupati TTS dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah daerah hadir untuk memastikan sejarah Amanuban tidak hanya diingat, tetapi juga diwariskan sebagai identitas budaya bangsa.
“Hari ini kita menyaksikan sejarah yang kembali ke akarnya. Kerajaan Amanuban bukan hanya milik keluarga besar Nuban, tetapi juga milik seluruh masyarakat NTT dan Indonesia,” ujarnya.
Penobatan Raja Jonathan Nubatonis dipandang sebagai simbol rekonsiliasi dua dinasti besar, penyembuhan luka sejarah, serta penguatan jati diri masyarakat Amanuban dalam bingkai kebangsaan.
Upacara ini menjadi momentum penting tidak hanya bagi masyarakat TTS, tetapi juga bagi sejarah Nusantara. Kembalinya Kerajaan Amanuban kepada dinasti Nuban dianggap sebagai bukti bahwa kearifan lokal, iman, dan persaudaraan mampu melampaui perbedaan sejarah demi masa depan bersama. (*)








