Tuhan, Kapan Kami Melihat Engkau

Oleh: Fr. M Yohanes Berchmans, BHK

 

 

DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda memiliki HATI untuk sesama, teristimewa mereka yang miskin, berkekurangan? Ingat, jangan tunggu kaya baru memberi, Anda bisa memberi dari kekurangan. Sebab, Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi, melainkan justru Anda akan menjadi kaya, bukan kaya materi, tetapi kaya akan rahmat keselamatan, dan bahagia. Ingat, yang bahagia, bukan yang menerima, melainkan yang memberi. Pandanglah wajah Kristus dibalik wajah mereka yang “miskin”.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 25: 31 – 46, yakni penghakiman terakhir. Dalam bacaan Injil hari ini, suasana penghakiman terakhir digambarkan begitu agung sekaligus mencekam. Domba di kanan menerima sabda penuh KASIH: “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan…” Sementara kambing di kiri mendengar firman yang menggelegar: “Enyahlah dari hadapan-Ku…” Keduanya sama-sama terkejut, bertanya: “Kapan kami melihat Engkau?” Inilah ironi yang menjadi peringatan: Yesus hadir bukan hanya saat dalam doa, ibadah, dan ekaristi, melainkan dalam wajah mereka yang lapar, haus, asing, sakit, dan terpinggirkan. Ia menyebut mereka: “saudara-Ku yang paling hina ini.” Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa kemiskinan tidak selalu soal harta. Ada kemiskinan pengetahuan, spiritual, emosional, bahkan sosial. Mereka ada di sekitar kita, dalam rupa: keluarga, teman, rekan kerja, komunitas. Pertanyaannya bukan lagi “kapan kami melihat Engkau?” melainkan: “maukah kita melihat-Nya dan bertindak ?” Sebab, setiap uluran tangan, setiap segelas air, setiap telinga yang mau mendengar, semua itu adalah wujud pelayanan kepada Kristus sendiri. Empati lahir dari HATI yang digerakkan Roh Kudus, dan di situlah Kerajaan Allah hadir.

Pesan Untuk Kita

Yesus tidak menuntut kita memindahkan gunung. Ia hanya meminta kita memberi segelas air, menjenguk satu orang sakit, menemani satu jiwa yang kesepian. Yang berbahagia bukanlah yang menerima, melainkan yang memberi. Dan pada akhirnya, setiap perbuatan KASIH kita, akan berbuah ganjaran yang setimpal, yakni: keselamatan hidup yang kekal. Inilah kekayaan yang sejati. Jangan lagi bertanya: Tuhan, Kapan Kami Melihat Engkau? Tetapi tanyakan kepada diri kita sendiri, Kapan kita mau berbuat baik untuk Tuhan?

Pertanyaan refleksi

1. Apakah mata hati saya cukup peka untuk melihat Yesus hadir dalam diri orang-orang yang “paling hina” di sekitar saya?
2. Dalam bentuk kemiskinan apa (pengetahuan, spiritual, emosional, sosial) saya paling sering berjumpa dengan sesama, dan bagaimana saya meresponsnya?
3. Apakah saya lebih sering menunggu untuk menerima, ataukah saya sudah belajar berbahagia dengan memberi, demi keselamatan hidup yang kekal?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, bukalah mata HATI kami agar mampu melihat kehadiran-Mu dalam diri mereka yang lapar, haus, sakit, dan terpinggirkan. Ajarlah kami untuk berbahagia bukan karena menerima, melainkan karena memberi dengan tulus. Semoga setiap perbuatan KASIH kami berbuah keselamatan hidup yang kekal. Amin.