Tuli Dan Gagap Secara Rohani

Frater

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

 

DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Barangkali kita secara fisik normal, namun bisa jadi kita tuli dan gagap secara rohani.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 7: 31 – 37, yakni Yesus menyembuhkan seorang tuli. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berjumpa dengan seorang yang tuli dan gagap. Dunia orang itu sunyi, kacau, tanpa suara yang jelas, tanpa kata yang utuh. Namun Yesus tidak menghakimi. Ia membawa orang itu ke tempat sunyi, menyentuh telinganya, menyentuh lidahnya, lalu berkata: “Efata! Terbukalah!” Dan seketika ia dipulihkan.
Tetapi ketulian dan kegagapan bukan hanya soal fisik. Kita bisa saja normal secara fisik, namun, barangkali kita:
tuli secara rohani, terjadi ketika telinga kita penuh suara dunia, tetapi kosong dari suara Tuhan. Atau juga kita
gagap secara rohani, terjadi ketika mulut kita fasih bicara hal dunia, tetapi kelu atau kaku saat harus bersaksi. Maka, Yesus ingin menyentuh kita hari ini. Ia ingin membuka telinga HATI kita, agar kita peka lagi pada suara-Nya. Ia ingin melepaskan lidah rohani yang gagap, kelu dan kaku, agar kita berani bersaksi. Efata! Terbukalah! Biarlah itu menjadi doa kita. Jangan biarkan dunia membuat kita tuli terhadap Firman. Dan jangan biarkan rasa takut membuat kita gagap dalam bersaksi tentang Kristus.

Dan inilah pesan Untuk Kita:

Dunia tidak kekurangan orang yang pandai bicara, tetapi kekurangan orang yang berani bersaksi tentang Kristus. Dunia tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan telinga yang mau mendengarkan suara Tuhan. Mari kita menjadi murid Yesus yang telinganya terbuka untuk Firman-Nya, namun tuli untuk mendengarkan gosip murahan, gosip miring, dan lidah kita terlepas untuk kabar baik, untuk kata-kata yang menyenangkan dan yang membangun, yang memotivasi. Supaya hidup kita sendiri menjadi sebuah kesaksian dalam AKSI yang nyata, sembari berkata: “Segala sesuatu yang dilakukan-Nya baik.”

Pertanyaan refleksi

1. Pendengaran rohani: Suara siapa yang paling sering saya dengar akhir-akhir ini, suara dunia atau suara Tuhan?
2. Keberanian bersaksi: Kapan terakhir kali saya dengan jelas menyebut nama Yesus atau membagikan kabar baik kepada orang lain?
3. Efata dalam hidupku: Bagian mana dari hidup saya yang perlu disentuh Yesus agar benar-benar terbuka telinga HATI atau lidah rohani?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, sentuhlah telinga HATI kami agar terbuka mendengar suara-Mu, dan lepaskanlah lidah kami agar berani bersaksi tentang KASIH-Mu. Jauhkan kami dari ketulian rohani yang mengabaikan Firman, dan dari kegagapan rohani yang menahan kabar baik. Ucapkanlah kembali atas hidup kami: “Efata Terbukalah!” Supaya hidup kami menjadi bukti nyata bahwa segala sesuatu yang Engkau lakukan sungguh baik. Amin.