Memberi Dari Keterbatasan

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

 

DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah kabar Anda di akhir pekan ini? Yesus meminta kita, agar jangan tunggu banyak baru memberi, tetapi kita bisa memberi dari keterbatasan, asal tulus, maka Dia akan menggandakannya. Ingat, kita tidak akan pernah menjadi miskin karena kita memberi. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan ribuan orang bersama Yesus selama tiga hari. Mereka lapar, letih, dan tak punya bekal. Murid-murid gelisah: hanya ada tujuh roti dan beberapa ikan kecil. Logika runtuh di padang gurun. Namun Yesus tidak menghitung kekurangan. Ia melihat dengan HATI yang tergerak oleh belas kasihan. Ia mengambil yang ada, mengucap syukur, lalu membagikannya. Mukjizat terjadi: semua makan sampai kenyang, bahkan tersisa tujuh bakul penuh. Tujuh roti dan ikan kecil itu bukan sekadar makanan, itulah kita. Kita datang dengan iman yang pas-pasan, HATI yang lelah, masa lalu yang tidak utuh, dan talenta yang terasa kecil. Keterbatasan bukan hanya soal materi, tetapi juga soal diri kita: kelemahan, kegagalan, dan rasa tidak layak. Namun Yesus tidak menunggu kita sempurna. Ia mengambil kita apa adanya, memberkati, memecahkan, lalu membagikan kita kepada dunia. Di situlah mukjizat lahir: hidup yang sederhana ternyata bisa mengenyangkan banyak orang.

Pesan Untuk Kita

Seringkali kita menunda memberi diri karena merasa tidak layak atau cukup. Padahal sejarah keselamatan penuh dengan “roti kumal” dan “ikan kecil”: Musa yang gagap, Daud yang bungsu, Petrus yang impulsif. Tuhan memakai keterbatasan untuk karya besar. Yesus mengajarkan bahwa sebelum memberi roti, Ia lebih dulu memberi HATI. Mukjizat lahir bukan dari banyaknya bekal, melainkan dari HATI yang peduli. Maka kita dipanggil bukan hanya menjadi roti yang dibagikan, tetapi memiliki HATI seperti HATI-Nya: HATI yang tergerak, HATI yang tidak tahan melihat sesama lapar, HATI yang memberi tanpa menunggu banyak atau kaya. Bukan soal kuantitas, melainkan kualitas HATI yang peka dan peduli. Dan inilah rahasia: memberi dari keterbatasan tidak membuat kita miskin. Justru di sanalah BERKAT berlipat ganda. Yang berbahagia bukanlah yang menerima, melainkan kita yang memberi dengan tulus. Sebab ketika kita memberi dari keterbatasan atau pun kekurangan, Tuhan menggandakannya, dan kita sendiri diperkaya oleh KASIH-Nya. Tuhan, ambillah hidupku yang kecil ini. Jadikan aku BERKAT. Bentuklah HATIku seperti HATI-Mu: HATI yang tergerak, HATI yang peduli, HATI yang memberi tanpa syarat.

Pertanyaan refleksi

1. Apa keterbatasan dalam hidupku saat ini yang sering membuatku ragu untuk memberi diri?
2. Bagaimana aku bisa belajar melihat dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan, bukan dengan hitungan untung-rugi?
3. Dalam pengalaman sehari-hari, apakah aku percaya bahwa memberi dari kekurangan justru membuka jalan bagi berkat yang berlipat ganda?

Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan

Doa Singkat

Tuhan Yesus, Ambillah hidupku yang sederhana ini. Meski penuh keterbatasan, pakailah aku menjadi BERKAT bagi sesama. Ajarlah aku memiliki HATI seperti HATI-MU HATI yang tergerak oleh belas kasihan, HATI yang peduli tanpa syarat. Biarlah setiap pemberian kecilku Engkau gandakan, sehingga banyak orang merasakan kasih dan sukacita-Mu. Amin.