Buta Iman Dan Mata Indriawi, di depan Sang Tanda

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

 

DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda sering meminta tanda kepada Tuhan Yesus? Jika iya, maka Anda belum sungguh-sungguh beriman, sama seperti orang-orang Farisi.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 8: 11 – 13, yakni orang Farisi meminta tanda. Dalam bacaan Injil hari ini, orang Farisi datang kepada Yesus, menuntut suatu tanda dari surga. Ironisnya, mereka berdiri tepat di hadapan Sang Tanda itu sendiri. Mata mereka melihat wajah-Nya, telinga mereka mendengar sabda-Nya, bahkan banyak dari mereka menyaksikan mukjizat-Nya. Namun HATI mereka tetap tertutup rapat. Hal ini, akibat dari kesombongan dan rasa benar sendiri menjadi katarak rohani yang membuat mereka buta iman. Juga mata indriawi mereka berfungsi, tetapi tidak menangkap. Mata iman mereka tertutup rapat, sehingga tidak mampu menembus untuk melihat Yesus sebagai Tanda Ilahi. Mereka sibuk memperdebatkan lampu-lampu kecil, tetapi menolak Istana yang menjadi tujuan. Maka Yesus pun menghela napas, sedih melihat kebutaan HATI mereka, lalu meninggalkan mereka tanpa memberi tanda.

Pesan Untuk Kita

Kita sering menganggap orang Farisi bodoh. Namun, bukankah kita juga kerap meminta tanda dari Tuhan? “Kalau Engkau benar-benar ada dan menyertai, tunjukkanlah tanda.” Padahal, tanda terbesar sudah nyata: Yesus Kristus sendiri. Sebagai murid, bila kita masih terus menuntut tanda, itu berarti kita belum sungguh-sungguh beriman. Iman sejati tidak bergantung pada bukti tambahan, melainkan pada perjumpaan nyata dengan Kristus. Dan perjumpaan itu paling nyata dalam Ekaristi Kudus. Saat kita menyambut tubuh dan darah-Nya, kita tidak hanya menerima tanda, tetapi menjadi tanda itu sendiri, kehadiran Yesus yang hidup di tengah dunia. Maka, berhentilah mencari tanda ke sana kemari. Bukalah mata imanmu. Sambutlah Yesus dalam Ekaristi, dan hiduplah sebagai tanda KASIH Allah bagi sesama. Itulah bukti iman yang sejati. Amin.

Pertanyaan refleksi

1. Apakah saya masih sering meminta tanda dari Tuhan, padahal tanda terbesar, Yesus Kristus sudah nyata hadir dalam Ekaristi Kudus?
2. Bagaimana sikap saya saat menyambut tubuh dan darah Kristus: sekadar ritual, atau sungguh perjumpaan iman yang mengubah hidup?
3. Apakah hidup saya sudah menjadi tanda kehadiran Yesus bagi sesama, atau justru masih terhalang oleh kesombongan dan ketertutupan hati?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Yesus, ampunilah kami yang sering menuntut tanda, padahal Engkau sendiri adalah Tanda terbesar, hadir dalam Ekaristi Kudus. Bukalah mata iman kami, agar saat menyambut tubuh dan darah-Mu, kami sungguh berjumpa dengan-Mu yang hidup. Jadikanlah kami tanda KASIH-Mu di tengah dunia, sehingga melalui hidup kami, orang lain dapat melihat Engkau. Amin.