EXPONTT.COM – Kisah Aris Leo dan Hasni Nuban pasangan suami yang tetap sukacita walau hidup dalam keterbatasan sejak merantau dari kampung halamannya dipedalaman Amarasi. Keduanya merantau sejak 2005 ke Kupang.
Merantau karena alasan ekonomi, Ini pasti. Sempat tak tau arah namun kemudian mencoba menempati sebuah petak milik pemerintah Kota Kupang di Pasar BTN Kolhua.
Sejalan waktu, harga kontrak yang dipatok PD. Pasar Kota Kupang terus beranjak naik. Dulu, kata Hasni Nuban dalam obrolan singkat dengan expontt.com harga kontrakan Rp 700.000 pertahun. Namun ketika harga kontrakan melonjak di atas satu juta rupiah, pasangan ini tidak punya pilihan selain pindah tempat.
Dengan seng bekas, pasangan ini nekat membuat rumah petak berukuran dua kali tiga meter di emperan jalan raya, Jalan Fetor Foenay – Kupang persis di gerbang keluar pasar BTN Kolhua.
Disini keduanya merajut kehidupan keluarga dengan empat anak. Putri sulung segera menyelesaikan pendidikan SMP, puteri kedua kelas dua sebuah SMP di Kolhua, puteri ketiga masih duduk di bangku SD kelas IV sedangkan anak pria atau bungsu masi kecil.
Kehidupan keluarga ini memang sangat berkekurangan. Kamar berukuran sekitar tiga kali tiga harus menampung enam orang. Tidak punya pendapatan memadai untuk membiayai keseharian keluarga karena hanya dari tambal bank mobil atau seperda motor. Derita itu seakan melengkapi dengan badai seroja beberapa waktu lalu.
Tidak perlu dijelaskan disini karena warga kota Kupang mengetahui dan sampai saat ini belum mendapat bantuan. Jawaban kurang rinci dan jelas dari pemerintah kota.
Hasni terlihat sehat ceria duduk di depan gubuknya sambil makan sirih. Kadang bersama suami, dan ketika suami tak bersamanya, berarti sedang kekampung mencari rezeki.” Kadang dua hari ke Oemofa ambil pisang atau hasil lain ditemani puterinya. Jika ada waktu senggang. Suami saya memang kurang sehat, ada darah tinggi, kadang jantung, ya kolesterol. Pada kaki berbintik. Tetapi suami saya sejak 2016 harus minum obat rutin setiap hari dan sepanjang hidupnya. Suami menderita sebuah penyakit yang tidak perlu saya sebut kan di sini. Sudah dari dokter dan sudah kasih obat yang wajib minum setiap hari selama masih hidup. Namun masih diterpa kesusahan tetapi kami dan anak-anak menerimanya dengan sukacita,” kisah Hasni.
Dari hasil menambal ban dan isi angina, kelurga ini bisa mendapatkan pendapat sebulan sekitar Rp 300.000. Pendapatan sebesar ini tentu saja membiayai hidup keluarga dengan empat anak. Sampai sejauh ini, kata Hasni, belum mendapat uluran tangan pemerintah atau donatur. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Alam Kota Kupang, Ernest Ludji kepada expontt.com, menjamin bisa mendapatkan bantuan kepada rakyat yang susah atau berkekurangan.” Nanti lengkapi surat dari RT, RW dan keluarahan yang menyatakan layak dibantu,” janji Ernest Ludji.
Febri Leo Siswi Kelas VII SLTP Yang Terampil Tambal Ban
Puteri kedua Febri Leo, puteri kedua Aris dan Hasni adalah siswi SMP 7 Kolhua Kota Kupang. Selain cerdas di sekolah, Febri demikian ia disapa menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah dengan bekerja sebagai penambal ban mobil atau ban seperda motor. Parasnya cantik, tetapi bertenaga kuat layaknya tenaga pria muda.
Febri bermental baja, tidak malu dan berjiwa pekerja keras. Gadis berusia 14 tahun dan baru duduk di bangku kelas VII/C SLTP tidak minder dan malu walau dilihat banyak orang saban hari. Dengan rautnya yang ramah, melayani setiap pengendara mobil atau sepeda motor yang bank kemps atau pecah. Membantu kedua orangtuanya Aris Leo dan Hasni Nuban di gerbang masuk Pasar BTN Kolhua.
Febri dalam karya dibantu kedua adiknya yang juga wanita dan masih duduk dibangku sekolah dasar. Dari pekerjaan ini, kata Febri bisa mendapatkan pendapatan dalam sebulan paling tidak Rp 300.000. Febri yang mengisi pekerjaan ini setiap hari libur atau selepas sekolah menjadi kisah dan pembelajaran bagi siapa saja yang ingin mengisi waktu tetapi menghasikan.
Dari penghasilan menambal ban dan mengisi bensin, ia mengaku senang bisa menambah keuangan keluarga dan meringankan ayah dan ibunya. Sang ayah sedang bernasib kurang beruntung karena pernah ditabrak sehingga kurang maksimal dalam bekerja. Febri adalah puteri bangsa ini, yang seharusnya menjadi tanggungjawab pemerintah untuk membantu. Sampai sejauh ini, belum mendapat donasi dari pihak manapun. Narasi ini, diharapkan mengetuk hati para dermawan untuk sekadar mengulurkan tangan. ♦ wjr








