Pulang Kampung Supaya Kawin

Oleh: Aster Bili Bora

 

 

 

LAKI-LAKI dan perempuan yang akan merantau koreksi diri baik-baik. Apakah anda tergolong manusia yang mampu bertahan ataukah tergolong manusia yang mudah tergoda? Jika jawabannya, anda tergolong manusia yang tidak mampu bertahan terhadap godaan kecil, apa lagi godaan yang besar, sebaiknya batal pergi.

Pergi merantau ke mana saja tidak ada yang melarang asalkan memenuhi syarat. Begitu juga mencintai lalu kawin dengan siapa dan akan tinggal di mana, juga hak anda. Tetapi yang perlu direnungkan: merantau dan kawin tidak boleh menciptakan masalah.

Merantau saat ini melahirkan banyak masalah bagi keberlangsungan hidup perkawinan. Tujuan perkawinan sesuai UU nomor 1 tahun 1974 pasal 1: membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha esa.
Pertanyaannya: Apakah dengan merantau akan terbentuk keluarga yang bahagia dan kekal sampai maut yang memisahkan? Jawabannya: bisa ya dan bisa tidak. Ya, bagi orang yang mampu bertahan melawan keinginan daging, dan jawaban tidak dari perantau yang mudah tergoda meski umur baru setahun jagung di rantau orang.

Banyak contoh tak terbantahkan, bahwa rumah tangga akhirnya bubar dengan sendirinya gara-gara merantau. Laki-laki belum setahun tinggalkan istri-anak di kampung, lihat paha-paha putih di rantau sudah lari naik dengan dasar bohong: masih lajang atau istri sudah meninggal. Begitu juga perempuan, bohongnya tidak kalah. Di hadapan laki-laki: ia bisa saja berkata tanpa beban, bahwa ia masih perawan belum pernah ada yang menyentuh bajunya, sementara kenyataan di kampung suami dan anak segudang dengan sabar menanti.

Banyak sandiwaranya kalau orang yang sudah berumah tangga pergi merantau. Awal-awal rajin komunikasi dengan suami atau istri. Rasa kangen dan rindu diwujudkan dalam berkomunikasi apa lewat telpon biasa atau bahkan vidiocall. Tetapi lewat beberapa bulan dan seterusnya, sudah lain cerita dan lain pula alasannya, bahwa HP rusak atau majikan sita HP sementara faktanya sudah ada hubungan intim dengan orang lain.

Sandiwara berikutnya, ada yang pura-pura pulang kampung. Setelah satu malam peluk istri atau suami, keesokan hari mengaku pergi ke pasar lalu pergi terus tidak pulang-pulang. Warga heboh dengan berita orang hilang, sementara faktanya sedang sembunyi rapi-rapi di lubang cinta orang lain.

Awal Februari 2026 berita sangat viral tentang anak SD kelas IV umur 10 tahun, Yohanes Bastian Roja (YBR) dari Kabupaten Ngada, NTT mati gantung diri di pohon cengkeh. Kabarnya ia gantung diri karena mama tidak berikan uang Rp 10.000 untuk YBR beli buku dan pena. Salah satu kalimat yang terbaca dalam surat pesanan terakhir,.”Mama pelit.”

Berita lebih jauh kita ikuti bahwa mama dari YBR adalah orang tua tunggal yang mengasuh YBR bersama beberapa saudaranya. Suami atau ayah YBR sudah lama di rantau dan sama sekali hilang kontak. Pertanyaannya: mengapa hilang kontak? Jawabannya sederhana pula: rasa rindu dan rasa kasih dari suami kepada istri-anak sudah tidak ada lagi karena seluruh kasih dan cintanya sudah pindah ke lain hati.

Kejadian suami meninggalkan istri–anak, dan istri begitu pula berpisah dengan suami lalu lari ikut pasangan baru bukanlah berita baru. Berpisah diam-diam dan berpisah menggunakan jalur hukum terjadi di belahan bumi mana saja. Masyarakat NTT yang awalnya tabuh dengan kawin pisah dan pisah kawin, akhir-akhir ini cenderung dianggap hal biasa.

Hanya sayangnya kawin-pisah dan pisah-kawin meninggalkan luka yang mendalam terutama pada anak-anak yang tidak minta untuk dilahirkan. Mereka menjalani hari-hari hidup dengan tekanan psikologi, mental, sosial dan ekonomi yang amat berat. Untunglah kalau mereka mampu bertahan. Kalau tidak, maka ke depan kita pasti berhadapan dengan kenyataan makin banyak anak yang stres lalu mati dengan cara yang kurang terhormat.

Salah satu solusi yang membantu rumah tangga tetap akur adalah: batasi diri pergi merantau. Kalau sudah ada suami atau istri di kampung, maka sama-samalah tinggal di sana. Sekali pun dalam tekanan ekonomi, tidak usah berpisah dengan alasan cari uang di rantau. Pakai saja prinsip: makan tidak makan yang penting kumpul.

Jika memang telanjur di rantau, maka lihat diri dan tanya nurani baik-baik, apakah anda bisa bertahan hadapi godaan. Kalau jawabannya, anda termasuk orang rapuh yang rentan tergoda napsu bercinta, maka daripada anak-anak tak bersalah jadi korban masa depan, sebaiknya cepat pulang supaya kawin. Makan tidak makan yang penting kawin.

Tambolaka, 9 Februari 2026