Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dapatkah Anda melepaskan diri dari sosial media dalam sehari? Mana yang lebih mudah dilaksanakan puasa dan pantang makanan atau puasa dan pantang bersosial media? Harus jujur menjawabnya? Pada hari ini Gereja Katolik sejagat mengawali masa puasa dan pantang, atau prapaskah yang diawali dengan penerimaan abu, sebagai tanda pertobatan dan kerendahan hati.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 6: 1 – 6. 16 – 18, yakni hal memberi sedekah; hal berdoa dan hal berpuasa. Para saudaraku ytk! Pernahkah kita memperhatikan sebuah ironi dalam hidup kita saat ini? Bahwa menahan diri dari makanan dan minuman selama beberapa jam terasa begitu berat, namun menghabiskan berjam-jam men-scroll linimasa media sosial terasa begitu ringan? Bahwa berpuasa dari nasi dan air lebih mudah kita lakukan daripada berpuasa dari gawai dan notifikasi? Di era digital ini, kita dihadapkan pada sebuah realitas yang menarik. Hampir semua lapisan manusia tidak pernah lepas dari media sosial. Pagi hari, sebelum mata benar-benar terbuka, jari sudah lebih dulu membuka TikTok. Siang hari, di sela pekerjaan, kita menyempatkan diri membuat Reel, Instagram. Malam hari, sebelum terlelap, kita masih sempat mengupdate status. Orang-orang lebih rela tidak makan dan tidak minum daripada tidak bermain HP. Kita bisa lupa diri, tetapi tidak pernah lupa HP. Tuhan, sesama, dan keluarga bisa dilupakan, namun HP tidak boleh dilupakan. Coba kita renungkan: berapa jam kita habiskan di depan layar ponsel setiap hari? Berapa banyak konten yang kita konsumsi? Berapa banyak waktu yang kita korbankan demi sebuah postingan, update status, atau video singkat yang mungkin hanya bertahan beberapa detik di linimasa orang lain? Kita tidak pernah lelah untuk bersosial media. Tidak ada kata capek untuk membuat konten. Tetapi untuk Tuhan? Ah, kita mudah sekali lelah. Doa lima menit terasa panjang. Ibadah dan ekaristi selama 30 menit terasa berlebihan. Membaca firman? Nanti dulu, masih ada notifikasi yang belum dibalas.Inilah tantangan puasa dan pantang kita saat ini. Secara jujur harus kita akui: puasa dan pantang makanan dan minuman dewasa ini tampaknya lebih mudah daripada puasa dan pantang bermedia sosial. Menahan lapar masih bisa kita lakukan. Menahan diri dari godaan untuk membuka Instagram, itulah perjuangan sesungguhnya. Dan dalam bacaan Injil hari ini, Yesus tidak berbicara panjang lebar tentang teknis puasa apa yang boleh dan tidak boleh dimakan. Yesus berbicara tentang HATI. “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka,” begitu firman Tuhan. Yesus mengingatkan bahwa puasa bukanlah pertunjukan atau pamer. Bukan tentang bagaimana orang lain melihat kesalehan kita. Bukan tentang pengakuan dan pujian. Tetapi tentang hubungan yang tersembunyi antara kita dan Bapa. Mari kita bawa refleksi ini ke dalam dunia digital kita. Bukankah sering kali kita bersosial media dengan motivasi yang sama? Kita posting agar dilihat. Kita update status agar direspons. Kita buat konten agar dikenal, diakui, dan dianggap eksis. HATI kita diam-diam berteriak: “Lihat aku! Perhatikan aku! Akui aku!” Dan tanpa sadar, media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi, berubah menjadi panggung pencarian sensasi jati diri yang tak pernah puas. Tentu, media sosial tidak salah. Bahkan, ia bisa menjadi sarana pewartaan yang luar biasa. Kabar baik bisa tersebar lebih cepat. Inspirasi bisa menjangkau lebih banyak orang. Komunitas iman bisa dibangun melintasi batas geografis. Yang menjadi soal bukan medianya, tetapi motivasi HATI kita. Apakah kita bersosial media untuk memberi atau untuk meminta perhatian? Apakah kita berbagi untuk membagikan kebaikan atau untuk membangun citra diri?
Di sinilah kita butuh discernment, kemampuan membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Mana yang membawa kita lebih dekat kepada Tuhan dan mana yang justru menjauhkan. Mana yang membangun relasi dengan sesama dan mana yang hanya membangun ilusi keintiman tanpa makna. Kuncinya adalah manajemen diri dan manajemen waktu. Kita perlu bijak membagi antara waktu kronos, waktu yang terukur, jam demi jam yang kita jalani, dan waktu kairos waktu yang dikuduskan, saat-saat ketika kita benar-benar hadir bersama Tuhan. Kapan waktu untuk Tuhan, kapan waktu untuk sesama, kapan waktu untuk keluarga, dan kapan waktu untuk diri sendiri. Semuanya perlu porsi yang tepat. Semuanya perlu keseimbangan.Tuhan mengingatkan kita untuk memberi. Bukan hanya soal materi, tetapi memberi diri. Memberi perhatian kepada keluarga yang duduk di hadapan kita, bukan hanya kepada layar ponsel. Memberi kehadiran kepada sahabat yang menemani kita, bukan hanya kepada dunia maya yang tidak pernah benar-benar hadir. Memberi waktu kepada Tuhan yang diam-diam merindukan kita, bukan hanya kepada konten yang terus bergulir tanpa henti. Dan di tengah semua ini, doa menjadi sumber kekuatan. Doa menarik kita kembali dari kehampaan digital ke dalam keheningan yang penuh makna. Doa mengingatkan kita bahwa kita lebih dari sekadar like, komentar, dan followers. Doa memulihkan identitas kita sebagai anak-anak Tuhan, bukan sebagai budak algoritma.
Pesan Untuk Kita:
Saudara-saudari terkasih, marilah kita ingat pesan Yesus hari ini: puasa dan pantang bukanlah soal tidak makan atau tidak minum. Bukan pula soal tidak bersosial media. Puasa dan pantang adalah soal HATI yang tetap terarah kepada Tuhan di tengah hiruk-pikuk dunia yang terus berteriak meminta perhatian kita.
Tantangan kita saat ini bukanlah bagaimana bertahan tanpa makanan, tetapi bagaimana bertahan tanpa kehilangan diri di tengah banjir informasi. Bukan tentang seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa sadar kita menggunakan waktu. Maka, di masa Prapaskah ini, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: Akankah kita membiarkan media sosial menguasai waktu kita lebih daripada Tuhan? Akankah kita membiarkan notifikasi menentukan prioritas kita daripada suara Roh Kudus? Puasa sejati selalu bermuara pada pertobatan. Dan pertobatan sejati selalu membawa kita kembali kepada Tuhan, satu-satunya muara keselamatan dan hidup kekal. Bukan like. Bukan komentar. Bukan jumlah viewers. Tetapi Tuhan, sumber segala yang baik dan kekal. Biarlah puasa dan pantang kita di era digital ini menjadi jalan untuk menemukan kembali HATI yang tersembunyi, HATI yang hanya terarah kepada Tuhan, yang mencari wajah-Nya dalam keheningan, dan yang menemukan kepenuhan hidup bukan dalam dunia maya, tetapi dalam KASIH -Nya yang nyata.
Pertanyaan refleksi
1. Apakah saya lebih rela memberi waktu untuk media sosial daripada memberi waktu untuk Tuhan, keluarga, dan sesama?
2. Motivasi apa yang sesungguhnya mendorong saya saat bermedia sosial, ingin berbagi kebaikan atau sekadar mencari perhatian?
3. Bagaimana saya bisa menata ulang waktu saya agar tidak hanya terjebak dalam “waktu kronos” yang habis di layar, tetapi juga mengalami “waktu kairos” yang menghadirkan Tuhan dalam hidup saya?
Selamat berefleksi..& selamat memasuki masa prapaskah🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan yang penuh KASIH, di tengah hiruk-pikuk dunia digital, kami sering lupa memberi waktu bagi-Mu. Kami mudah terjebak dalam notifikasi, tetapi cepat lelah dalam doa. Bimbinglah kami agar puasa dan pantang bukan sekadar menahan lapar, melainkan menata HATI. Ajari kami untuk bijak menggunakan waktu, memberi perhatian kepada-Mu, keluarga, dan sesama lebih daripada layar yang terus memanggil.
Pulihkan kami melalui doa, agar identitas kami tidak ditentukan oleh dunia maya, melainkan oleh KASIH-Mu yang kekal. Amin.






