Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda telah memiliki identitas sebagai murid sejati Yesus?
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 9: 22 – 25, yakni pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia. Para saudaraku, yang terkasih, di tengah dunia yang sibuk mendefinisikan siapa kita, Yesus mengajukan pertanyaan yang menusuk HATI: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan dirinya sendiri?” Jawaban-Nya jelas: identitas sejati murid Kristus lahir dari tiga tindakan yang tak terpisahkan, yakni: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia. Pertama Menyangkal diri: berarti berani berkata “tidak” pada ego dan keinginan yang menjerumuskan. Ini adalah pergulatan batin, memilih suara Allah di atas suara diri.
Kedua Memikul salib berarti rela berkorban demi KASIH kepada sesama. Bukan penderitaan karena kesalahan, atau kebodohan sendiri, melainkan kesetiaan pada kebenaran dan pengorbanan bagi sesama. Ketiga
Mengikuti Yesus berarti berjalan bersama-Nya, menjadikan setiap langkah sebagai ungkapan CINTA, bukan sekadar beban. Paradoks Injil hari ini: kita justru menemukan hidup ketika rela kehilangan diri yang palsu. Identitas sejati murid bukan ditentukan oleh gelar, harta, atau pengakuan dunia, melainkan oleh relasi dengan Kristus yang nyata dalam penguasaan diri dan pengorbanan KASIH.
Pesan Untuk Kita di masa Prapaskah
Masa prapaskah adalah undangan untuk kembali bertanya: Siapakah aku di hadapan Allah? Apa yang perlu aku kendalikan dalam diriku? Siapa yang perlu aku layani dengan pengorbanan? Apakah aku sungguh berjalan bersama Yesus, atau hanya mengikuti rutinitas agama Ingatlah: seluruh dunia tak mampu membeli kembali jiwa yang hilang. Tetapi di dalam Kristus, jiwa kita aman, identitas kita utuh, dan hidup kita penuh. Selama masa prapaskah ini, mari kita temukan kembali siapa diri kita yang sejati, murid Yesus yang hidup dalam penyangkalan diri, pengorbanan KASIH, dan kesetiaan pada Sang Guru? Atau murid yang hidup dalam kepalsuan, yang selalu mencari kesenangan diri.
Pertanyaan refleksi
1. Menyangkal diri: Suara ego atau kebiasaan duniawi apa yang paling sering menguasai saya, dan bagaimana saya bisa belajar berkata “tidak” demi mendengar suara Kristus?
2. Memikul salib: Dalam situasi apa saya dipanggil untuk berkorban demi orang lain, meski terasa berat atau tidak nyaman?
3. Mengikut Yesus: Apakah langkah hidup saya sungguh selaras dengan Yesus, atau masih lebih banyak mengikuti rutinitas dan tren rohani semata?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, di tengah hiruk-pikuk dunia yang sibuk mendefinisikan siapa kami, Engkau mengingatkan bahwa identitas sejati murid-Mu lahir dari penyangkalan diri, pemikulan salib, dan kesetiaan mengikuti-Mu. Ajarlah kami berani berkata “tidak” pada ego, rela berkorban demi KASIH, dan SETIA berjalan bersama-Mu setiap hari.
Kiranya masa prapaskah ini menjadi kesempatan untuk menemukan kembali siapa kami di hadapan-Mu: murid yang hidup dalam KASIH dan kebenaran.
Amin.







