Cerpen: Aster Bili Bora *
ONO Mardata sejak kecil dipanggil bupati. Ceritanya karena ia lahir bersamaan dengan hari pelantikan bupati. Ketika sudah dewasa dan mendapat gelar Magister, Mono Mardata nekad jadi bupati benaran yang menang Pilkada dan dilantik di tengah mayoritas masyarakat pemilih. Ia tidak mau dilantik sembunyi-sembunyi, dan juga tidak bermimpi menang karena penggelembungan suara. Kalau akhirnya ada yang melempar issu, bahwa telah terjadi kecurangan, maka sesungguhnya fitnah dari pihak-pihak yang tidak sportif menerima kenyataan. Manakala palu sudah diketuk, berarti Tuhan Allah setuju akan semua proses. Masyarakat pemilih suka-tidak suka, demi demokrasi, harus bilang suka. Tidak bisa lawan.
Kelaziman dipanggil bupati, bagi Mono Mardata jadi taruhan. Apa pun yang terjadi, katanya, harus bupati. Karena itu ia berjuang dengan segala cara. Langit dan bumi ia langkahi semuanya. Mengandalkan Tuhan semata tidak bakalan dapat. Lalu apa lagi yang harus dibuat? Dukun dan ahli nujum, bertindaklah.
Malo Manura, dukun dan peramal kenamaan. Calon bupati dan calon wakil bupati dari berbagai kabupaten sudah banyak yang dibantu. Menurut ceritanya, hampir semuanya berhasil sebagai pemenang Pilkada. Pasangan calon yang elektabilitasnya rendah dan menurut analisa publik akan kalah, tetapi kenyataanya menang dengan bantuan doa dan jimat Malo Manura. Tidak terkecuali Mono Mardata yang sudah sangat kepingin jadi bupati mendatangi Malo Manura untuk “isi badan” sehingga tetap kokoh-kuat walau diterjang badai.
“Mohon doa dan dukungan sehingga di kertas suara hanya nama dan foto saya yang kelihatan.”
Malo Manura menatap wajah klien. Kemudian ia tunduk dan menutup mata sambil mulutnya komat-kamit mengucap doa. Setelah buka mata, ia minta Mono Mardata membuka telapak tangan. Membaca kehendak alam dalam guratan tangan kliennya, Malo Manura mengangguk-angguk, mengerutkan dahi, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mono Mardata jadi ciut, lalu bertanya
“Bagaimana/”
“Begini, Bapak. Peluang untuk menang sangat terbuka. Cuma….”
“Apa itu? Omong saja!”
“Telapak tangan Bapak kotor.”
“Apa artinya?”
“Mungkin ada keluarga yang pernah bunuh orang.
“Ya, benar sekali. Tahun 80-an.”
Ini harus disilih!”
“Bagaimana caranya?”
“Mudah saja. Bapak buat ritual adat, sembayang minta pengampunan. Berdasarkan penglihatan saya, Bapak ini yang beruntung. Syarat yang ditentukan leluhur tidak banyak. Persembahan untuk leluhur saya hanya Rp 77.777.777, sedangkan pelaksanaan ritualnya di rumah Bapak sendiri. Bapak siapkan hewan kurban satu kerbau jantan yang panjang tanduknya 13 cm, satu babi betina yang masih perawan, dan satu ayam jantan muda berbuluh hitam polos. Setelah selesai semuanya, terakhir Bapak bersama nyonya melaksanakan acara penyucian diri di laut jam 3.00 pagi sebelum burung berkicau.”
“Baik,” katanya. “Saya akan lakukan secepatnya. Di samping itu, doakan terus supaya di bilik suara nanti hanya nama Mono Mardata yang kelihatan untuk dicoblos.”
“Oooo, itu sudah pasti!”
***
Sehari sesudah ritual adat, Mono Mardata dan nyonya berunding tentang tempat penyucian diri yang tepat dan benar. Ada empat tempat tujuan: Laut dekat hotel Nihi Watu, Mananga Aba, Weekuri, dan Watu Maladongo. Setelah berunding agak lama, akhirnya memilih Weekuri yang belakangan ini disebut objek wisata yang bagus.
Dalam perjalanan ke Weekuri, ada hambatan. Di ujung hutan jati bagian barat banyak orang mati terbentang menutup jalan. Entah mati karena apa. Mudah-mudahan saja bukan perang. Kalau perang dengan resiko korban nyawa, maka betapa tragisnya: akan terjadi pembalasan dan dendan turun –temurun.. Mono Mardata angkat handphone dan menghubungi Malo Manura minta petunjuk. Setelah sembayang bla bla bla, Malo Manura punya penglihatan, bahwa Mono Mardata harus cepat balik dan tidak boleh menoleh ke belakang.
Dalam perjalanan pulang Mono Mardata sedikit galau mengapa ada kejadian aneh demikian. Ia minta petunjuk lebih detail pada Malo Manura. Sang dukun kenamaan menjelaskan, bahwa ada lawan politik yang terawang dan tahu jadwal penyucian diri. Tetapi hal demikian tidak fatal. Kecilan saja, kata Malo Manura.
“Setelah saya doa putus, Bapak ritual ulang. Untuk ke laut tidak perlu lagi. Cuma sesudah ritual, Bapak dan nyonya diperciki air dari periuk tanah. Sisanya untuk membasuh kaki – tangan. ”
“Ritual adatnya pakai apa?”
“Satu babi sedang dan satu ayam jantan muda berbuluh putih polos. Semua kuku hewan kurban dibungkus dengan kain merah satu meter lalu dibawa ke mulut gua keramat sebagai persembahan.”
Ketika tiba di rumah, Mono Mardata tidak mau lama-lama. Hari itu juga dilakukan prosesi ritual. Mete Padaka,imam adat terpercaya sembayang bla bla bla, lalu diakhiri dengan bantai babi dan potong ayam kurban. Imam dan beberapa tua adat membaca hasil pilkada yang akan datang melalui hati babi dan usus ayam kurban.
“Bagaimana?” Tanya Mono Mardata agak penasaran.
“Jabat tangan,” kata Mete Padaka. Kemudian tanpa basa-basi, ia minta air tempayan sesuai petunjuk Malo Manura. Dalam posisi duduk bersila di tikar adat, Mono Mardata bersama nyonya diperciki air berkat
“Wee maringi.. wee maringi loko, wee magabo..wee magabo mara…”
(Berkat, rahmat, dan karunia turun kepadamu)
***
Elektabilitas Mono Mardata, sesuai hasil survey lembaga independen, tidak terkejar lagi. Massa pendukung dan simpatisan setiap kali kampanye bagai lautan api. Tidak sama di paket lain masih ada manusia Romantis (rombongan makan gratis). Sangat dipastikan, bahwa Mono Mardata pemenang Pilkada satu putaran.
Namun, Mono Mardata bukan model manusia yang cepat terlena. Untuk tambah memperkuat lagi, maka ia berguru pula pada Mete Kabowo, dukun yang kelasnya masih di atas Malo Manura. Dukun yang kedua ini selain jago dalam hal ramal-meramal, juga memiliki Batu Delima dan Rantai Babi yang diyakini banyak orang berkekuatan gaib tingkat tinggi . Dengan kedua benda keramat tersebut dalam perang tanding masalah tanah perbatasan tiga puluhan tahun yang lalu, Mete Kabowo seorang diri mampu mengalahkan lawan ribuan. Andaikan bukan takut Tuhan, maka semua lawan ibarat batang pisang dicincang habis. Mono Mardata hendak memiliki kedua benda itu. Selain akan jadi pemenang tunggal di kala ada masalah, juga Mono Mardata mau jadi magnet penarik harta orang kaya sehingga dalam proses perjuangan selalu sukses kelimpahan uang.
Penglihatan dan hasil ramalan Mete Kabowo menunjukkan, bahwa untuk menang terbuka peluang. Tetapi peluang kalah belum tertutup karena sedang dalam proses. Jawaban yang lebih jelas demikian:
“Menang kalau peluru selalu siap, kalah kalau peluru kosong.”
“Saya pilih menang, dan tidak mau kalau bupati-bupatian. Sudah kepingin sekali jadi bupati.”
“Ya, kesimpulannya ada di Pak.”
“Makanya saya datang. Apalah kiranya Bapak pinjamkan saya batu delima dan rantai babi. Peluru sudah kurang. Dengan bantuan Bapak, peluru selalu siap.”
“Oouu, tidak bisa. Ini barang keramat.”
Mono Mardata menggeser posisi duduknya, lalu bersandar pada palang balai rumah. Dari raut wajahnya tertoreh nada kesal dan kecewa yang mendalam. Tapi kemudian ia berpikir bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan sepanjang manusia ingin menyelesaikan.
“Apa ada cara lain?”
“Hhmmm…Kecuali saya ikut terus. Kalau Bapak pinjam pakai, percuma. Akan pulang pada pemiliknya.”
“Apa Bapak berkenan bersama saya selama suksesi sampai pada pemilihan?”
“Bisa saja. Kecuali kalau leluhur sudah makan.” (Batu delima dan Rantai Babi disebutnya leluhur)
“Berapa?”
Mete Kabowo berdiam sesaat, seakan sedang semedi. Kemudian ia menjawab dengan jawaban yang diberikan leluhurnya.
“Berdasarkan penglihatan, leluhur tidak minta banyak. Cuma Rp 1 miliar.”
“Tidak keberatan. Namun, saya minta bantuan leluhur dukung saya, menangkan saya. Janji 1 hari sebelum hari pencoblosan, permintaan leluhur saya penuhi.”
Mete Kabowo masuk kamar leluhur untuk minta persetujuan. Setelah membaca mantera bla bla bla dan bicara dengan leluhur barang setengah jam, Mete Kabowo kembali bersama Mono Mardata dan menyampaikan kesimpulan.
“Leluhur sangat mendukung Bapak jadi bupati. Permintaan Bapak untuk memberi makan satu hari sebelum pemilihan, juga dapat restu. Cuma leluhur minta keikhlasan dan kejujuran Bapak untuk tepati janji.”
“Pasti. Tidak selamat kalau leluhur sudah mendukung, lalu saya ingkar.”
Janji Mono Mardata dan persetujuan leluhur diikat dalam ritual adat. Satu ayam jantan berbuluh hitam diserahkan kepada leluhur melalui simbol darah yang diteteskan dalam mangkuk batu delima.
“Nantina deiba lima, loga mbuku. Ka daikana watu da diki, ka daikana tana da ngero. Nai paama calon bupati, Mono Mardata, gai kana duki ge paduki na, gai kana toma ge patoma na. Yani wee maringi loko, yani wee magamo mara. Malla!” (Terimalah persembahan. Calon bupati sudah mengucap janji tetap setia. Berikanlah berkat, rahmat, dan karunia supaya ia sukses capai mimpinya. Amin).
Orang bilang, mungkin suratan tangan! Dengan bersama Mete Kabowo, Mono Mardata bagai magnet raksasa selama suksesi. Kampanye di mana saja selalu banjir manusia. Pulang ke rumah, juga begitu. Panitia konsumsi terpaksa menambah personil. Menyiapkan makan-minum beribu massa setiap hari, bukanlah perkara biasa. Maklum sudah jadi perintah Mono Mardata, bahwa siapa saja yang datang, harus makan sampai kenyang. Soal pemakan, selalu kelebihan. Kontribusi masyarakat tumpah ruah, tidak terkendali. Para pengusaha seakan berlomba siapa yang lebih banyak sumbangannya. Apakah karena peta kemenangan sudah terbentang lebar depan mata?
Ongko Joni penyumbang tertinggi dalam proses pemenangan Mono Mardata. Kontribusi 1 M bukan lagi sebuah cerita. Orang ini murah senyum, dan alim-alim kelakon. Tetapi ketika mendengar isu panas, bahwa Mono Mardata akan kalah karena calon wakil bupati dalam keadaan koma di rumah sakit dua hari sebelum pemilihan, Ongko Joni tiba-tiba naik darah. Raut wajahnya seakan mau telan musuh. Di tengah orang banyak ia ronggeng menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, menggetarkan parang keramatnya ke udara, dan berteriak lantang.
“Mono Mardata Bupati kita! Mono Mardata bupati kita! Biar pasangan dengan tiang listrik, tetap siap lantik! Apa pun yang terjadi!”
Tambolaka, 28 Januari 2021
Sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT. Bersama 51 penyair lainnya menerbitkan antologi puisi “Seruling Perdamaian Dari Bumi Flobamora” tahun 2018.








