Oleh: Aster Bili Bora
TIDAK bisa kompromi lagi. Perjumpaan sampai di sini saja. Sesungguhnya masih waktu melanjutkan cerita. Tetapi terpaksa kuakhiri mungkin untuk selamanya. Ini bukan pesan kematian, karena memang sudah lama aku mati. Apalah artinya raga yang berjalan tanpa darah?
Darahku kauminum habis. Darahku telah menghapus dahagamu. Darahku membuatmu bahagia walau hanya sebentar.
Aku mengaku kalah dalam pertarungan ini. Apa kalah terhormat atau kalah kurang ajar, bagiku tidak penting lagi. Apa yang mau dicari? Toh keadaannya sudah begini. Pencuri, perampok, dan segala macamnya itu terang-terangan menyebut diri bupati. Dan memang tidak bisa disangkal, semuanya pendukung militan yang membuat bupati saat ini menang. Lalu bupati larang dan menghabisi nyawa pencuri? Berhenti dulu! Itu namanya jeruk makan jeruk.
Berpuluh tahun mengarahkan orang tanpa pandang buluh. Apa siswa di sekolah, petani buta huruf, sesama guru atau siapa saja, aku tidak segan-segan bertemu di mana dan kapan saja, dan tanpa ragu aku beri tahu jalan kebaikan yang mutlak dilalui dan jalan keburukan yang tidak boleh diikuti walau hanya sekali. Aku bukan orang yang gampang curiga macam-macam, walaupun Jhon Pandak temanku di masa SMA selalu bilang, “kawan si kawan, curiga jalan terus”, tapi aku tidak. Bagiku mati hari ini dan esok, sama saja. Mati dengan cara biasa atau mati kena racun, semuanya berserah di atas. Makanya aku bebas bergaul, dan bebas pula mencintai. Cinta apa adanya, bukan cinta pura-pura atau cinta munafik supaya terlihat gagah dan berwibawa.
Dalam kebebasan bercinta, aku memberi apa yang aku punya. Tidak sembunyi. Masuk pintu depan tembus mata ke belakang. Sedang makan apa, tidak ada yang tersembunyi. Semua ikut makan, bila perlu, kalau kebetulan masih ada. Kalau ternyata sudah habis, bisa masak lagi apabila orang yang datang itu memang kelaparan. Walaupun juga aku tahu ada yang wajahnya kenyang, mengaku lapar. Itu namanya rakusnya rakus. Karung sudah muntah tapi isi terus. Di sinilah bedanya yang korupsi dengan orang yang lapar-laparan. Koruptor kalau sudah penuh karung, ia bertobat dan berusaha jadi penasihat ulung yang saleh dan pendoa yang luar biasa menyembuhkan orang sakit. Hhhhhh, ampun dosa e..!
Ya, kita berpisah. Cukup sudah ceritaku. Sejak awal aku bercita-cita kaya. Tapi impian yang kugantung berpuluh-puluh tahun tidak pernah jadi. Rambut sudah uban, lutut sudah longgar. Kapan lagi? Mengajar orang untuk jadi orang baik tidak kenal waktu. Ilmu-ilmu kebaikan semuanya dikeluarkan, dan juga telah didengar dengan kepala yang tidak bosan mengangguk.
Heran, aku heran!
Tidak ada malam yang terlewatkan tanpa pencurian dan perampokan di kotaku. Anjing menggonggong, dan bahkan melolong. Heran, aku heran! Anjing boleh menggonggong, kafila jalan terus. Apa semua sudah mati? Korban berjatuhan, pelaku lagi tertawa ria sambil makan hati babi milikku.
Aku tidak akan lupa selama hidupku, dan bahkan pada anak-cucu sudah kucerita, bahwa pada suatu malam aku kena marah dari gerombolan pencuri. Bukan hanya marah, tapi maki-maki yang kelewat batas, karena babiku diambil tengah malam sedikit kurus dan tidak sesuai harapan mereka mendapatkan babi gemuk dan besar-besar. Mereka menyesal lalu lontarkan kecaman.
“Bodoh amat pelihara babi! Hanya jago omong, kenyataan nol! Suruh gemukkan babi, tapi kerjanya hanya peluk istri. Apa istrinya jago lari? Kerjanya hanya peluk maitua! Tidak tahu bosan. Dasar kambing!”
Minta ampun! Minta ampun! Sakitnya di sini! Aku sangat tahu siapa istriku. Ia tidak macam-macam. Mulutnya agak cerewet, tapi hatinya luar biasa baik dan mengasihi semua orang. Selama hidup perkawinan belum pernah sedetikpun aku berpikir istriku nakal. Aku tahu ia paling setia dan jujur. Haram selingkuh! Tapi heran, aku heran! Orang-orang yang mencuri babiku malam itu dan aku tidak tahu suara mereka siapa, tega amat melontarkan kecaman dalam nada tanya, “apa istri jago lari?” Ya, bagiku tidak sampai di situ apa istri jago lari, bakalan jago lari atau sumpah tidak akan lari, tetapi kalau harus peluk ya peluk. Apa perkaranya? Itu privasi, itu ekspresi cinta tanpa label pura-pura.
Memang aku ini siapa? Aku bukan siapa-siapa.
Aku bukan budak! Tapi aku orang terjajah. Dijajah pencuri dan dijajah perasaan sendiri. Pencuri menjajahku dengan mencuri barang-barangku dan ternak-ternaku. Aku memelihara, tapi orang lain yang menikmati dengan imbalan maki dan sumpah serapah. Sial apa aku ini! Tiap tahun tidak pernah luput dari mala petaka pencurian.
Barang sudah tiada. Babi yang biasanya we we, we we menjemputku setiap kali memberi makan, sudah tiada lagi seekor. Kandangku kosong! Kaya dari mana lagi? Khayalan tinggal khayalan . Perasaanku terjajah, dan semoga saja aku tetap bertahan dari godaan untuk jadi otak pencuri yang nanti akan membalas dendam mencuri ludes hewan pencuri yang sudah pensiun. Dan aku percaya istriku sangat baik menaklukkanku, sehingga sekarang aku bangga pada diriku sendiri karena masih tetap jadi orang baik yang mampu mengalahkan ajakan-ajakan kejahatan yang silih berganti dengan versi yang beraneka ragam.
“Pak Sam, mau aman tidak?”
“Ya, saya mau aman,” kataku.
“Kalau mau aman, jangan begini terus!”
“Maksudnya apa?” Temanku yang bernama Pieter itu diam. Mungkin ia tahu dari ekspresi wajahku, bahwa aku sebenarnya tidak sesekali berkompromi dengan kejahatan lalu terlibat serta aktif melakukan kejahatan yang akan membawa mala petaka tujuh turunan. Menipu saja sudah mendatangkan sial, apalagi merampok barang dari keringat darah orang lain. Karena kabarnya,keringat darah orang lain yang telah menyatu dalam diri hewan-hewan peliharaannya banyak kali berubah jadi kanker darah pada orang yang memakainya dengan imbalan kejahatan. Makanya sekarang sudah banyak koruptor yang bertobat setelah melihat anak-anaknya bandel, pengguna narkoba, mabuk-mabukkan, menderita penyakit yang aneh-aneh, dan yang lainnya mengalami kecelakaan tunggal yang mengerikan.
Aku mendamba anak-cucuku hidup bahagia lahir batin. Aku tidak akan menciptakan keamanan pada diriku dengan jalan ikut serta aktif dalam kejahatan atau jadi otak brilian dari sebuah sendikat kejahatan. Aku tidak ada model seperti itu.
Modelku jadi guru yang suka berbagi ilmu dan kebaikan pada setiap orang yang mendambakan. Aku bukanlah orang yang modelnya pelit, karena aku tahu pelit ilmu membuat miskin, pelit harta membuat kaya. Inilah takdir hidupku yang hanya bisa kaya ilmu, tetapi belum kesampaian kaya harta karena kotaku kota pencuri, kotaku gudang kejahatan.
Meski demikian, ilmu hidup mengajarkan untuk terus melangkah. Tantangan adalah peluang sukses. Makanya aku berjalan terus dengan mengenakan kacamata kuda sampai pada batas tertentu aku mendapatkan lagi kecaman baru. Kecamatan itu bukan lagi dari pencuri yang maki-maki karena mendapat babi curian yang kurus dari padaku, tetapi dari Pak Mulyono, seorang yang sudah makan asam garam di kota kami.
“Pak Sam, ngapaan kamu itu…”
“Gimana, Pak?”
“Gak boleh gitulah…” Aku tak paham, maksudnya apa. Aku tak mau berbala-bala. Umur kami beda, ia seorang bapak usia 60-an. Aku terdiam dan terus menerka dalam diam. Mungkin ia tidak puas dengan diamku, ia menerobos lagi.
“Gini lho, Pak Sam. Kamu itu jangan terlalu ajar orang. Kamu tahu tidak akibatnya?”
“Ya, akibatnya orang jadi pintar.”
“Ya, benar. Benar sekali, kamu tidak salah. Cuma saja masyarakat di sini lain model. Kalau sudah pintar, dia balik minum darah orang yang membuat dia pintar. Dia akan menghabiskan semua milikmu. CD apa lagi! Pak Sam mau telanjang ke sekolah?”
Ah, kelewatan! Cukup sudah!
Kita omong damai. Sampai di sini saja.
Tambolaka, 12 Februari 2021.
Aster Bili Bora, mantan Ketua PGRI Sumba Barat Daya.








