7 Fakta Amye Un, Wanita Asal Amanatun yang Calonkan Diri Jadi Wali Kota Darwin Australia

amye un
Sosok Amye Un, perempuan asal Amanatun, Kabupaten Timor Tengah Selatan saat kampanye di Darwin

Bagi Amye, ini merupakan kebanggaan tersendiri, meskipun jika nantinya dia harus kalah.

“Kalah atau menang, saya tidak peduli. Yang penting saya ada nama di negeri ini. Orang Indonesia pertama dalam sejarah yang bergabung di politik Australia,” ujar Amye.

5. Didukung arus bawah

Keikutsertaan Amye dalam pemilihan ini disebut-sebut karena dukungan dari arus bawah, yakni warga kalangan menengah ke bawah.

Dengan kesempatan ini, Amye menilai masyarakat kota tempat tinggalnya itu sangat menjunjung tinggi demokrasi.

Amye mengusung moto “Is giving her promise to care”.

6. Kerap berdemo

Nama Amye Un memang sudah lama terdengar di kota itu, karena dirinya dikenal cukup vokal menyuarakan aspirasi masyarakat.

Bahkan Amye kerap memimpin aksi demonstrasi di kantor-kantor pemerintahan.

“Saya sudah berulang kali pimpin aksi bersama masyarakat di Darwin. Biasanya masyarakat selalu menghubungi saya, jika ingin menggelar demo,” ujar Amye.

Beberapa aksi demonstrasi yang pernah dia pimpin yakni soal isu women against the violence, menolak aksi kriminal, bantuan sosial untuk warga tunawisma dari dana pribadi.

Ada pula aksi pengecaman pada pemerintah yang membangun kilang minyak, tambang minyak dan gas, yang berdampak pada pencemaran lingkungan.

7. Soroti warga kulit hitam dan kriminalitas

Sejumlah program dia tawarkan, yakni penanganan masalah yang selama ini dinilainya tidak pernah diselesaikan oleh pemerintah.

Antara lain mengenai pekerjaan yang layak, kesehatan, tempat penampungan bagi warga kulit hitam dan kriminal yang meresahkan warga.

Kriminal yang dominan di wilayah itu, lanjut Amye, yakni pencurian mobil dan membongkar rumah warga. Kondisi itu membuat warga menjadi resah.

“Masyarakat sangat membutuhkan seseorang seperti saya yang berjiwa masyarakat atau dekat dan berbaur dengan masyarakat bawah, untuk kita kerja sama hentikan ini,” kata Amye.

Dia juga memberi perhatian terhadap kondisi warga kulit hitam yang selama ini hanya tinggal di emperan toko dan di bawah pohon karena tidak memiliki rumah.

“Kalau musim hujan, kasihan mereka. Kita harus membangun tempat penampungan sehingga mereka diberikan kesempatan hidup layak seperti warga lainya,” ujar Amye.

♦ kompas.com