Mince Di Batas Pukuafu *

Oleh: Aster Bili Bora

 

MALAM itu masih makan bersama di Bambu Kuning. Esok berpisah! Mince ke Rote dengan Fery dari Bolok ke Pantai Baru. Yonas ke Sumba dengan TransNusa.  Paginya masih antar Yonas ke bandar Eltari Kupang.

Ketika Feri akan bertolak sore itu Mince masih sempat Videocall Yonas. Ia memberikan kabar gembira bahwa ia akan sampai dengan selamat di tempat tujuan.  Kemudian disusul pula dengan pesan  WhatsApp
“Kak, ingat yang Beta minta. Sarung Sumba asli.”
“Ya, Sayang. Besok Beta cari yang kelas.”
“Terima kasih, Papa, oam….”

Dari jarak jauh Yonas seolah bermimpi dan melihat, bahwa kapal sudah berlayar sejauh 20 mil. Gelombang tinggi, dan makin tinggi menggempur kapal. Angin puting beliung dan guntur kilat sambung -menyambung. Malam pekat menutup pandangan jarak dekat, apa lagi yang jarak jauh. Rasa takut mencekam, seakan mulut selat Pukuafu sedang menganga lebar dan siap menelan mangsa. Mince secepat kilat WhatsApp Yonas, kekasihnya. “Kalau Beta sonde sms lagi, itu berarti Beta sudah tenggelam.”

Minta ampun! Gelombang bergulung tinggi dan terus tinggi. Kapal oleng kiri-kanan, air masuk dek. Nahkoda balik haluan kembali Kupang disertai pesan singkat agar secepatnya penumpang pakai pelampung. Kapal hanya bergerak di tempat karena kabarnya sudah patah kemudi. Penumpang teriak histeris minta tolong. Air laut tambah banjir masuk kapal dan akhirnya tenggelam sampai dasar laut. Penumpang terapung dan berhamburan dipermainkan gelombang. Nasib tidak tentu!! Hanya Tuhan yang tahu!

Yonas malam itu seakan sudah gila. Sedikit-sedikit telpon, sedikit -sedikit telpon. Telpon Mince dan juga telpon orang tua di Rote. Semua luar jangkauan, dan sms tidak sekali jua dibalas. Yonas tetap telpon dan sms. Sepanjang malam sampai subuh kerjanya telpon dan sms.

Hari berikutnya terbaca di media, bahwa JM Feri tenggelam di Pukuafu, selat antara pulau Timor, Rote, dan Semau. Penumpang selamat 169, dan  tewas 107 orang. Yonas  telpon, dan telpon lagi untuk memastikan keadaan Mince. Ia sangat berharap semoga Mince tergolong penumpang yang selamat. Mula-mula telpon kepada Mince. Tetap luar jangkauan. Hati dan jantungnya bergetar seakan digoyang gempa. Telpon berikutnya juga tetap demikian. Ia beralih telpon ke orang tua Mince. Sampai kali yang kelima, baru dapat jawaban pasti.
“Mince mati!” Yonas kaget dan teriak histeris. Handphonenya lepas dari tangannya. Ia terbanting jatuh, dan pingsan dalam waktu yang lama.

Menjelang sore ia siuman. Ternyata ia dikelilingi banyak orang. Pamannya yang bernama Agus mendekat dan memberikan ciuman hangat.
“Ama, Om dan kami semua merasa kehilangan. Kita sangat berduka. Seandainya Mince selamat, maka bulan depan kita  urusan.” Yonas kembali teriak histeris, dan pingsan lagi, namun tidak lama.

Keluarga makin banyak berdatangan. Agus berdiri di teras rumah dan memberikan aba-aba agar jangan ada yang menangis, memeluk cium dan memberikan peneguhan lewat kata- kata karena takutnya kalau Yonas pingsan lagi untuk ketiga kalinya.

Seminggu kemudian Yonas kembali aktifkan handphonenya. Ia melihat ulang foto,Video, dan sms Mince yang masih tersimpan. Hatinya kembali remuk, dan air matanya kembali tergenang. Mengapa tidak? Makan bersama di depot Bambu Kuning adalah makan perpisahan  selamanya. Sarung Sumba asli yang dipesan dan akan dikenakan dalam acara urusan adat seakan mengamanatkan agar Yonas dan seluruh keluarga menerima Mince bukan lagi sebagai perempuan Rote, tetapi dia gadis Sumba dengan busana Sumba mempesona.

Kembali pula Yonas mengenang cerita dan rencana-rencana  indah setelah keduanya menikah dan resmi suami-istri. Mereka rencana akan berbulan madu di Bali untuk menikmati secara langsung tempat-tempat wisata yang menakjubkan . Setelah dua Minggu di  sana mereka akan  pulang ke Sumba, meniti karier dalam bidang pekerjaan wiraswasta, dan setelah sukses secara finansial akan terjun dalam bidang politik.

Begitu pula dalam memperoleh keturunan. Mereka berencana dan bahkan sudah sepakat, bahwa jumlah anak mereka cukup 2 orang: laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki harus disekolahkan sampai doktor agar lebih terbuka peluangnya manakala akan maju calon gubernur NTT. Yang perempuan akan disekolahkan sampai jadi dokter ahli penyakit dalam sehingga kalau di masa tua menderita penyakit yang aneh-aneh dapat dirawat sendiri oleh anak kandung.

Tetapi semuanya sudah lewat, tidak mungkin lagi akan kesampaian. Mince sudah tewas!. Cinta Mince sudah kandas di batas Pukuafu. Tinggal tunggu saatnya yang tepat Yonas ke Rote membawa sarung Sumba asli, pesanan kekasihnya. Sarung itu ia pakai untuk membungkus batu kubur Mince.  Dengan berpasrah diri ia berlutut di samping batu nisan dan mendaraskan nada perpisahan.
“Adikku, Mince. Badanmu ditelan ombak Pukuafu. Jiwamu hidup selamanya. Cintamu boleh kandas di batas Pukuafu, tetapi kasih setiamu seumur hidupku. Engkaulah pendoaku yang terbaik. Engkaulah penyambung lidah perdamaian agar Rote dan Sumba tetap satu selamanya!”

Tambolaka, 31 Januari 2021
Aster Bili Bora, sastrawan. Bersama 51 penyair lainnya menerbitkan antologi puisi SERULING PERDAMAIAN DARI BUMI FLOBAMORA, 2018.

*Cerita kenangan tragedi Pukuafu 31 Januari 2006 .JM Feri tenggelam dan menelan korban ratusan nyawa.