Puisi: Vebronia Klara de Danu
Di ufuk timur, tempat matahari pertama meneteskan cahaya,
Tanah Marapu menjulang, sebuah doa dalam bentuk gunung,
Sumba menggenggamnya seperti rahasia purba
yang dibisikkan angin kepada alang-alang di ladang kering.
Hamparan sabana menyatu dengan langit biru tua,
dan di sana, waktu seperti melambat,
menunggu cerita lama dituturkan kembali
oleh tetua yang duduk berselimut tenun ikat,
membaca batu, membaca langit, membaca tanah
yang menyimpan bara dan berkat dalam satu nafas.
Marapu bukan sekadar puncak dan batu,
ia adalah dada bumi yang berdetak
menghembuskan sunyi, mengingatkan bahwa kehidupan
lahir dari letupan, bukan dari diam.
Ia menjadi ibu bagi kampung-kampung yang tak menuntut banyak,
hanya tanah subur bagi jagung dan sorgum,
hanya air jernih yang mengalir di musim hujan,
dan langit jujur yang menatap anak-anak berlarian
di antara batu karang dan ladang gersang.
Oh, Marapu…
dalam tiap diam-mu, terdengar bunyi leluhur,
yang mengajarkan kami mencintai luka,
mengubah derita jadi lagu,
menjadi tarian di bawah bulan
yang tak pernah lelah menyinari padang-padang kami.
Engkau tanah perjanjian yang tidak dijanjikan,
melainkan diperjuangkan dengan sabar
oleh tangan-tangan tua yang mengerut,
oleh kaki-kaki kecil yang memijak panas tanpa keluh.
Langitmu luas seperti harapan yang belum selesai,
dan dari batu-batu sunyi di puncakmu,
engkau seakan berkata:
“Inilah Sumba, bukan hanya sisa debu dan batu,
tapi surga kecil yang disimpan Tuhan dengan cemburu.”
Maka kami pun menjaga tanah ini
seperti menjaga nyawa,
sebab kami tahu:
Tanah Marapu bukan milik kami
kami hanya tamu yang diberi waktu
untuk memeluknya sebentar
dan bersyukur tanpa syarat.
Ruteng, 15 Januari 2025
Vebronia Klara de Danu, dari desa Buru Deilo, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya, NTT. Ia memilih panggilan Rohaniwati, dan sekarang sebagai Suster sekaligus guru bahasa Inggris di Kalimantan Tengah.








