Kantong Kematian

Oleh: Aster Bili Bora

MAU kenal orang  yang bernama Bora Nani? Tidak sulit! Hampir seluruh masyarakat di wilayah kecamatannya tahu siapa  Bora Nani. Kulitnya sawo matang, rambut uban, gigi hitam oleh sirih pinang, botak depan, tinggi badan 165 cm, bontak tapi tidak gendut, gerak langkah masih lincah sekalipun sudah umur 60-an, dan berbusana serba hitam: kain hitam, daster hitam, celana pendek hitam, kaus hitam, dan jaket hitam. Kain dan daster sesekali ia tanggalkan kalau di rumah atau di kampungnya saja. Tetapi celana pendek,  kaus, dan jaket yang disebutnya pakaian dinas  tidak pernah  lepas dari badannya siang dan malam. Juga tidak pernah cuci, sehingga bau tengiknya minta ampun. Tidak tahu pegawai di mana yang model begitu.

Sekalipun pakaian dinasnya amburadul, Bora Nani disukai banyak orang. Ia berada di mana dan duduk di mana, sudah pasti ada kerumunan penonton gratis yang setia mendengarkan kehebatan Bora Nani bersyair adat, menyanyi,  dan berhumor sangat lucu. Hebatnya lagi, Bora Nani itu orangnya makan puji, suka hou. Kalau sudah ada yang angkat-angkat, “Hou Bora Nani, ole”, maka secara otomatis semangat humornya makin berapi-api. Penonton seolah-olah terbuai dan ternganga bodoh.  Orang yang selama hidupnya jarang tertawa ngakak, dengan humor Bora Nani, gigi hampir di luar semua. Mau lawan Bora Nani!

Cuma sialnya kalau ada yang membuat dia kaget, misalnya ada yang kilik pinggang atau tengkuknya, maka itu sudah pasti ungkapan “teke peke” keluar dari mulutnya. Dan dengan ungkapan teke peke itulah yang membuat penonton tambah ngakak tidak keruan-keruan. Misalnya saja ketika ia nyanyi Kau dan aku satu,  lagu Obie Mesakh. Dia mulai di mana dan pada lirik mana yang orang kilik, Bora Nani sudah pasti lakukan plesetan dengan teke peke.

Kuterima suratmu kasihku Teke peke
Yang kaukirimkan dari seberang sana
Dalam kata-kata kauucap hati rindu
Selamanya sebuah penantian
Sabarlah kasihku teke peke menanti
Di sini aku teke peke mengejar cita-cita
Demi hari nanti hidup kita berdua
Selamanya kau dan aku satu teke peke.

“Hou, Bora Nani,.Ole !
Hhhhhhhhhhhhhhhai.!”

Dengan pujian yang demikian Bora Nani bisa lakukan apa saja, asalkan selalu siap penonton buka gigi. Mau nyanyi, bersyair, sambutan, pembacaan teks Pancasila, dan semua cerita lucu bisa keluar dalam durasi waktu berjam-jam tanpa henti. Apa lagi kalau ada yang help satu bungkus rokok, maka mau pagi ketemu pagi ia sanggup. Kecuali kalau sudah kosong penonton, maka dengan sendirinya Bora Nani stop.

***

Selera Bora Nani ikut pesta kematian sangat tinggi. Hitungan dia sendiri dalam satu tahun rata-rata 60 kali, bahkan lebih. Selain Bora Nani ikut kedukaan di kecamatannya sendiri juga di kecamatan tetangga. Pokoknya dengar bunyi gong kematian di mana, pasti Bora Nani ada di sana, tidak peduli berapa jauhnya.

Dalam acara pemakaman jenasah di Sumba lazimnya dilakukan pembantaian babi, kerbau atau sapi dalam jumlah tidak terbatas. Semakin tinggi status dan relasi, maka akan semakin banyak ternak yang dibantai sebagai simbol penghormatan  terhadap yang  meninggal dan juga pemulus jalan masuk surga.

Sogok Tuhan? No! No! No!
Minta ampun! Minta ampun!

Ternak-ternak yang dibantai tadi akan dipotong dan dibagi-bagikan kepada setiap rumah tangga yang hadir, termasuk Bora Nani. Sebab itu di acara kematian di mana saja Bora Nani tidak akan alpa bawa kantong kematian, yaitu kantong plastik warna hitam ukuran 10 kg. Dan kantong kematian itu sudah pasti terisi penuh karena selain jatah resmi sesuai daftar nama,  Bora Nani tidak tahu malu akan minta dengan gaya pengemis jalanan sehingga setiap rombongan memberi dia sedikit demi sedikit akhirnya jadi bukit. Apa lagi kalau Bora Nani mendapat kepercayaan ikut membagi daging, maka sudah pasti kantong kematiannya muntah karena ada beberapa porsi yang ia gepe.

Seiring berjalannya waktu terjadi kematian pada salah satu keluarga terhormat di wilayah Bora Nani. Orang yang meninggal itu bernama Thomas, usia 100 tahun, seorang tokoh berpengaruh lingkup kabupaten. Waktu masih muda Thomas 10 tahun jadi kepala dinas, dan setelah pensiun empat periode jadi anggota DPRD Kabupaten dan Provinsi. Ketiga anaknya jadi semua. Anak sulung pernah Bupati dua periode, anak kedua sekretaris Bupati, dan anak bungsu pengusaha kaya tingkat nasional. Menurut hitungan Bora Nani, akan bantai  100 binatang. Karena itu ia tambah kantong. Kalau lazimnya  hanya bawa satu, maka kali ini Bora Nani bawa tiga kantong kematian. Sebelum berangkat ia pesan pada Soli, sang istri supaya siap memang kayu api dan beras Gogo Kodi yang harum mewangi.

Di tempat duka Bora Nani mengambil posisi depan. Kalau lazimnya ia karang cerita lucu-lucu yang bikin orang tertawa ngakak, maka kali ini ia lebih banyak diam dan sesekali berbincang-bincang dengan teman duduk satu deret. Tetapi karena bau tengiknya menusuk hidung, maka oleh panitia ia dipindahkan ke deret belakang. Hatinya dongkol, tensinya merangkak naik. Ia merasa direndahkan, merasa tidak dianggap. Ia rela pindah ke deret paling belakang. Ia tidak demo terang-terangan karena takut dibilang radikalisme, tetapi relung jiwanya memberontak:

“Tunggu bagian! Kamu akan rasakan akibatnya! Yang direndahkan akan ditinggikan, yang ditinggikan akan direndahkan!”

Acara penguburan akan segera dilaksanakan. Sudah pukul 14.00, terundur satu jam dari jam yang seharusnya sesuai undangan. Setelah ibadat, sepatah dua kata dari keluarga yang diwakili seorang tokoh bernama Toni. Salah satu bagian pernyataan terpenting wakil keluarga yang sampai saat ini dihafal mati Bora Nani tidak lain tidak bukan:

“Pembantaian tidak dilakukan. Kita sudah berada dalam era digital. Jangan gara-gara satu orang mati, hidup kita binasa!”

Darah Bora Nani naik di ubun. Ia melampiaskan nafsunya yang tertahan dengan goyang-goyang pantatnya di kursi seakan ada yang gatal. Hatinya berteriak lewat helaan-helaan napasnya yang mengalun.

Tunggu bagian! Kamu sudah usir saya seperti anjing, lalu kamu tidak potong! Tunggu habis kubur!

Seusai pemakaman dan beberapa undangan  bergerak bubar, Bora Nani tampil ke depan dan berteriak sejadi-jadinya sambil mengacung-acungkan ketiga kantong kematian.
“Aturan dari mana tidak potong hari ini? Bilang saja kikir! Jangan bilang era jogotol! Jogotol apa? Melawan adat budaya! Mana perda? Bohong! Kantong ini mau taro apa?”

Tidak ada satu orang pun yang meladeni.  Sebagian ada yang tertawa tutup mulut supaya jangan ketahuan  Bora Nani. Yang lain ada beberapa yang tanya bisik-bisik tentang siapa Bora Nani. Setelah tahu kelebihannya sebagai makhluk yang hebat karang cerita lucu, rasa tersiksanya berubah dalam damai sejahtera.

Bora Nani lipat kembali kantong kematian kosong dan menyimpannya dalam saku jaket kumal. Ketika tiba di rumah, ia buang kantong kosong depan Soli sang istri yang duduk menjulur kaki   di balai-balai.

“Mana daging?”
“Tidak potong!  Bilang sudah era jogotol –  jegetel, mau siapa yang tahu!”

Ha ! Ha !

Tambolaka, 20 Februari 2021
———————————————————-
Aster Bili Bora, Sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT

Catatan
1. Kalau ada kesamaan nama dengan nama tokoh cerita, maka hanyalah kebetulan semata.
2. Hou: wah. Pujian palsu kepada seseorang.
3. Ole: simbol pujian (makna konotasi),     kawan (makna denotasi)
4.Gepe: sembunyikan
5. Taro (taruh): simpan
6. Jogotol, jegetel: plesetan dari kata digital karena gagal paham sang tokoh.
6. Ha! Ha!: Ekspresi kaget dan heran