Cerpen: Aster Bili Bora
DALAM dokumen resmi tercatat nama Rosalia Rambu Roku. Keren dipanggil R3. Perempuan ini lahir besar di Sumba. Nenek moyang sampai ayah-ibunya juga di Sumba. Tetapi herannya pemali memyebut diri orang Sumba, bahkan pada semua teman ia minta supaya “Jangan bilang dari Sumba!”
Dalam hal cinta R3 sangat benci kencan dengan kawan Sumba, apa lagi kawin dengan anak paman sendiri. Haram! Masalahnya di mana? Pemuda Sumba laki-laki juga. Mau cari yang sangat tampan sampai langit biru? Bakalan tidak dapat. Lalu apa mau jomblo selamanya?
Setelah lulus SMA, R3 jadi TKW Australia. Mau kuliah, keluarga belum fokus pada pendidikan. Hobinya tampil dalam pesta yang wah, sementara kebutuhan makan – minum, ya.. tidak usah cerita. Hanya Tuhan yang tahu!
Di Australia R3 dapat bos yang bagus. Gaji besar dengan dispensasi luar biasa: kerja siang, kuliah pagi The Australian National University, jurusan Business and Commerce. Pada hari pertama kuliah di ANU, majikannya berpesan, “Rosalia, I believe you are diligent, passionate, communicate with ethics, read a lot, and are determined to be a winner. I’m proud of you because you sure can skip class.”
(“Rosalia, saya percaya kamu rajin, semangat, komunikasi pakai etika, banyak membaca, dan tekad jadi pemenang. Aku bangga padamu karena kamu yakin bisa lompat kelas. Kamu jadi bukti nanti orang miskin tidak selamanya terus miskin.”)
Dengan nasihat itu, jiwa R3 seakan terbang di angkasa raya. Bara semangat bernyala-nyala, tetapi juga duka lara menyenggol sudut rasa mengapa ia lahir dari keluarga tak berdaya. Ia bangun dengan air mata darah lalu bersembah sujud penuh kepasrahan depan majikannya.
“I am TKW from Indonesia. Mother and I are not related to a speck of blood. But mother loved me extraordinarily, treated me above all else.
(“Saya TKW dari Indonesia. Ibu dan saya tidak ada hubungan setitik darah. Tetapi ibu menyayangi saya luar biasa, memperlakukan saya di atas segalanya.”) Majikan mengelus-elus rambutnya, mendaraskan seuntai doa agar Allah Tritunggal Mahakudus memberkati R3 kini dan selamanya.
Mahasiswa The Australian National University berasal dari berbagai negara. R3 sangat beruntung dan juga bangga kepalang tanggung karena hadir dan memgalami pergaulan berskala internasional. Dari Indonesia cuma R3 satu-satunya yang kuliah pada jurusan Business and Commerce. Entahlah di fakultas dan jurusan lain.
Pergaulan R3 tidak pilih-pilih. Tua-muda, laki-perempuan, semuanya jadi teman. Bagi R3 setiap orang dari mana saja asalnya, pasti ada putih hitamnya. Perkataan, perilaku, dan perbuatan baik menjadi tali pemersatu dalam kehidupan sosial.
“Saya tidak bangun sekat perbedaan dalam hati karena saya tahu siapa saya sesungguhnya. Saya bisa kuliah di ANU semata-mata atas dasar kasih sayang seorang Mother yang tidak ada hubungan setitik darah dengan saya.”
Dari pergaulan internasional, lahirlah pertemanan spesial R3 dengan Alex, mahasiswa semester akhir Program Magister Business and Commerce. Ia putra sulung salah seorang pengusaha kaya Australia. Cinta Alex bagai gayung bersambut. R3 tidak menunggu lama untuk menyatakan, “Yes, I love you too”, karena momentumnya tepat. Katakanlah doa dan impiannya terwujud. Ia sudah menunggu lama kapan laki-laki luar Sumba akan melamarnya jadi istri. Dengan laki-laki Sumba, “Sorry, ya! Tampan sampai langit biru, bukan ukuran!”
Setelah wisudha, R3 bersama Alex pulang kampung. Ketika tiba di Bandar Ngurarai, Denpasar R3 mengingatkan kembali melalui sms supaya orang tua tetap konsisten dan komitmen minta belis di tikar adat cukup satu kuda saja.
Dalam forum adat Alex ditanya juru bicara seakan-akan dalam sidang perkara, mengapa Alex datang di Sumba. Setelah menjelaskan, bahwa ia dan Rosalia sudah saling mencintai sehingga datang mohon restu secara budaya, maka orang tua menyatakan setuju dan minta belis 1 kuda.
Mendengar cuma satu kuda, forum adat meledak ribut. Tua adat, terutama pihak Om protes keras karena penentuan yang demikian sangat bertentangan adat kebiasaan. Pembicaraan jadi alot, dan hampir-hampir berujung bubar.
Wajah Rosalia pucat pasi, badan keringat dingin, dan grogi kalau kekasih hatinya pamit pulang. Ia usul skorsing dan mengajak tua adat beserta semua keluarga terkait untuk berunding di rumah sebelah tanpa melibatkan utusan keluarga pihak laki-laki.
Dalam forum musyawarah eksklusif, Rosalia menyampaikan mohon maaf kalau ayahnya atas nama keluarga kecil hanya minta satu kuda sesuai harapannya dari awal. Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa saat ini ada pergeseran pandangan terutama di kalangan muda terpelajar, bahwa belis yang mahal identik penjualan perempuan dengan resiko tidak saja pelanggaran HAM, tetapi juga putusnya hubungan kekeluargaan Sumba – Australia.
Pilih yang mana? Apabila sepakat hanya satu kuda, maka setelah beres urusan adat, Rosalia bersama pasangan ingin membahagiakan keluarga.
“Saya dan Alex sudah sepakat memberikan bantuan pemberdayaan nominal Rp 5.000.000.000.” Mendengar bunyi 5 M, keluarga ternganga bodoh, dan kontan setuju 100 persen belis Rosalia cukup 1 kuda.Tua adat dan seluruh keluarga terkait kembali ke tikar adat, dan dengan semangat 45 mengumumkan, bahwa perkawinan Rosalia – Alex sah menurut hukum adat budaya Sumba.
Tambolaka, 8 Desember 2020
Catatan: Nama pelaku dalam cerpen ini fiktif. Kalau ada yang sama, semata-mata kebetulan saja. ♦








