Cerpen: Aster Bili Bora
MENGAPA kepo sekali dengan diri orang? Dia bodoh, ngali, miring; peduli amat. Nasib masing-masing! Mati mampus dengan honor tahi kucing sendiri rasa. Mau dibilang sinting, terserah.
Malam kedua setelah tumpah semuanya, guru Robi duduk termangu di kamarnya. Sudah satu minggu tidak bersama istri. Entah ke mana Dormiyati dan kapan pulang belum jelas. Guru Robi sendiri dan menyepi dengan mulut komat kamit. Senang rasanya mengikuti lagu Hidup Terkekang.
Robi macamnya sudah gila: tertawa lucu tanpa kawan, air mata jatuh tanpa dijatuhkan. Kenangan beberapa hari tersimpan utuh di otaknya. Ia lucu dengan diri sendiri yang secara spontan melenyapkan kesabarannya yang sudah teruji sekian lama. Juga ia sedih mengapa derita sejak lahir masih berkembang biak nan subur hingga kini.
Malam itu selain lucu campur sedih, Robi juga bangga diri jadi guru hebat. Puluhan tahun bertahan dengan honor tahi kucing, namun tidak mati mampus. Bukan tidak ada pilihan lain! Banyak dan ada saja. Cuma Robi mau mengukur diri seberapa kuat ia bertahan dalam kekurangan.
Teman-teman yang seangkatan sudah pada bongkar lari. Ada yang tukang ojek, ada yang petani ulung, ada yang Lady Companion, ada yang beternak, dan ada yang hanya ngali-ngali. Mereka tidak bertahan dengan honor 400 ribu. Bagi mereka, sama dengan penghinaan dan pelecehan harkat martabat profesi guru. Tetapi Robi punya prinsip sendiri yang tidak bisa diganggu gugat. Baginya hidup untuk guru dan mati untuk guru.
Setelah sebelas tahun guru tahi kucing, Robi lulus tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Sebagai ungkapan kebanggan dan kebahagiaan, guru Robi tidak pakai hitung-hitungan. Rapel gaji dan gaji bulan pertama ia serahkan seutuhnya kepada Dormiyati.
“Saya tidak mau lihat lagi istri telanjang. Sepuluh tahun berlalu badanmu telanjang.”
Maka untuk membahagiakan dan membanggakan suami, pada hari itu memang Dormiyati pergi ke toko emas. Tidak tanggung-tanggung ia beli mas tanpa tawar mulai cincin, anting, kalung, gelang tangan sampai gelang kaki. Tidak main-main, ludes sepuluh juta! Luka selama sepuluh tahun sembuh seketika.
Sampai rumah Dormiyati pasang satu demi satu semua perhiasan yang baru ia beli. Di depan kaca Dormiyati miring kiri miring kanan, dan goyang-goyang pinggul. Guru Robi mengamati dengan saksama penampilan istrinya. Rasa bangganya sampai puncak karena Dormiyati yang puluhan tahun kampungan kini persis robot artis berjalan.
Kesabaran dan ketabahan berpuluh tahun berbuah manis pada waktu yang tepat. Seandainya Robi ikut pengaruh teman-teman lalu beralih profesi, maka bisa jadi sampai masuk kubur Dormiyati tetap badan telanjang tanpa hiasan emas berlian. Sekarang sudah waktunya tampil beda. Badan boleh di kampung tapi tampilan harumnya tipe kota.
Guru Robi dambakan tampilan Dormiyati lebih wah lagi, bila perlu mengalahkan artis Hollywood. Sayang juga, kata Robi, sebelum lulus P3K istri menderita batin dalam ketiadaan. Dormiyati tipe orangnya jujur, terbuka, dan sangat setia dengan pasangan. Seandainya Dormiyati tipe perempuan munafik yang berpura-pura setia, maka tidak mungkin rumah tangga kokoh hingga kini. Contoh telanjang ada di mana-mana. Suami baru sebulan tidak menafkahi, istri sudah lari naik rumah laki-laki lain. Syukur Dormiyati tidak seperti itu.
Tidak terasa sudah enam bulan Robi menikmati hidup barunya bersama Dormiyati dari gaji P3K. Surga dunia yang sebelumnya hanya ada dalam ilusi sekarang nyata ada dalam keluarga Robi-Dormiyati. Mau apa lagi yang kurang? Setiap bulan Dormiyati pegang uang 3 juta.
Ukuran sekarang uang tiga jutaan tergolong besar. Beberapa tahun ke depan mingkin saja nilainya turun jauh. Karena itu, perlu solusi. Selain mengajar, harus ada kegiatan lain yang berdampak menambah pendapatan namun tidak mengganggu tugas pokok. Jenis pekerjaan apa pun selalu tersedia, bergantung masing-masing orang memilih sesuai bakat dan hobi.
Hampir sebulan Robi merenung dan merenung. Begitu banyak jenis usaha yang memenuhi pikiran dan perasaannya. Mula-mula ia berpikir akan budi daya ayam petelur skala rumahan. Ia diskusi dengan teman=teman yang sedikitnya berbakat beternak. Selain itu, Robi juga berkunjung langsung ke lokasi peternakan ayam petelur skala besar dengan kapasitas dua puluh ribu ekor.
Belum habis pikir ayam petelur, pikiran Robi pindah lagi ke ayam kampung. Menurut pengalaman teman-teman, pelihara ayam kampung secara umbaran untung melintang dan tidak butuhkan biaya. Dengan 1 jantan dan 5 betina, dalam satu tahun untung puluhan juta.
Tergoda dengan untung melintang kurang biaya, maka tanpa kompromi dengan Dormiyati, Robi pergi ke pasar tawar ayam kampung. Dengan semangat 45 sekalian Ia beli 2 jantan dan 10 betina. Harapannya, setelah pelihara satu tahun akan untung seratus juta. Awalnya ayam tersebut dikurung satu minggu supaya ada penyesuaian dengan lingkungan yang baru.
Minggu berikutnya ayam dilepas bebas dari kurungan. Betul juga cerita teman-teman, bahwa budidaya ayam kampung tidak ribet. Setiap pagi segenggam jagung bulat sudah cukup. Beda sekali dengan budidaya ayam pedaging yang butuhkan modal besar. Menurut Robi, lebih baik keluar uang banyak untuk aura kecantikan istri daripada biaya pelihara ayam potong.
Budidaya ayam kampung mulai heboh, jadi bahan cerita dari mulut ke mulut. Teman-teman guru mengakui Robi sebagai figur yang wajib diteladani. Lebih-lebih setelah beberapa kali memberi telur gratis kepada orang terdekat, akhirnya nama usaha Robi diabadikan dalam label: TGR (Telur Gratis Robi).
Dengan label TGR, nama Robi makin tersohor. Kalau ada yang tawarkan telur dari rumah ke rumah, yang lebih dahulu ditanya dari mana asal. Kalau bilang TGR, maka tanpa tawar langsung ambil, karena dipastikan telur Robi fresh.
Belum satu tahun pelihara dan mungkin juga belum seberapa laba, usaha Robi bubar sendiri tanpa dibubarkan. Predator makan isi, Robi makan tulang. Menurut cerita, ada biawak jumbo yang hingga kini belum ketangkapan. Namun herannya, biawak itu pintarnya tidak main-main, hanya suka ayam Robi, sedangkan ayam tetangga aman.
Harapan Robi menambah bahagia Dormiyati belum kesampaian. Buang tenaga, waktu, dan biaya namun hasilnya nihil. Stres terus tiada berguna, karena tidak ada stres yang mampu selesaikan masalah. Robi kembali berpikir usaha apa lagi yang akan dilakoni. Pikirannya penuh dengan beragam jenis usaha. Usaha ayam potong, harus modal besar. Usaha ikan lele harus tersedia air yang cukup. Usaha buka kios mau siapa yang beli dan siapa yang jaga. Dormiyati sibuk urus rumah tangga, dan Robi sibuk di sekolah.
Entah ilmu dari mana dan siapa yang pompa, satu bulan kemudian Robi beli kambing satu pasang. Katanya, pelihara kambing lebih tidak ribet. Sama sekali tidak ada biaya pakan. Rumput-rumput liar di lingkungan sekitar jadi makanan gratis. Dalam otak Robi selalu ada kata gratis. Apa ada pengaruhnya Makan Bergizi Gratis (MBG) era Presiden Prabowo sehingga Robi selalu harapkan yang gratis? Tuhan saja yang tahu.
Depan Dormiyati, Robi deklarasi impiannya. Kambing satu pasang membawa anda berlibur ke mana saja. Mau Israel, Singapore, Yordania atau mau ke mana lagi; semuanya serba bisa. Apa lagi berlibur ke Bali atau Jakarta, itu hal yang sederhana sekali. Sehabis libur, baru mainkan mobil mewah merek Fortuner supaya tampil beda.
“Jangan beli yang second!”
“Ooh, sudah pasti,” kata Robi atas komentar Dormiyati.
Dengan impian setinggi itu, membuat Dormiyati turun badan. Tanpa disuruh, Dormiyati ambil kendali tangani peternakan kambing. Siang badannya yang jaga kambing sedangkan malam pikirannya yang jaga. Kalau sebelum ada kambing Dormiyati tidur jam 21.00, maka setelah ada kambing ia akan tidur jam 23.30. Perubahan jam tidur Dormiyati menimbulkan masalah baru. Saking tidak relanya tidur seperti dahulu, membuat Robi melakukan hal yang tidak biasa.
“Dormi, kamu itu kawin dengan kambing?”
Parah dapat suami yang tidak tahan! Dengan sebal Dormi bergegas masuk kamar. Harap saja kambing aman tanpa gangguan apa pun. Di kamar mereka cerita lama tentang berbagai hal. Pengaruh kelamaan cerita, bangun pagi lambat. Biasanya jam 5.00, hari itu justru bangunnya kesiangan.
Takut lambat ke sekolah Robi terburu-buru mandi. Sedangkan Dormi yang biasanya lebih dahulu menyiapkan sarapan, ketika ada kambing, maka kambinglah yang pertama diurusnya. Ia buka pintu belakang hendak ke kandang kambing. Belum sampai di kandang, Dormi teriak memanggil, bahwa kambing tidak ada, kandang kosong. Robi menyusul dari belakang. Di kandang ada tali kosong. Robi memegang tali, mengamati lalu menyimpulkan bahwa bukan kecurian. “Hanya terlepas saja,” katanya. Kemudian ia kembali ke rumah dan siap pergi ke sekolah.
Ketika kembali dari sekolah, Dormiyati lapor bahwa kambing belum ditemukan. Robi terkejut lalu duduk termangu, diam membisu. Saat itu Robi tolak makan. Napsu makannya hilang sehilangnya kambing.
Atas usul beberapa teman, maka dua hari kemudian Robi dan Dormiyati menemui Tim Doa. Tim Doa berdoa bla bla bla. Habis doa ia geleng-geleng kepala dengan wajah penuh penyesalan.
“Bagaimana Bapak?” Tanya Dormiyati dengan penuh penasaran.
“Kambing sudah masuk kloset”
“Ha…masa?” kata Robi. “Tahu siapa pencurinya? Siap bunuh mati ! ”
“Tidak usah tahu siapa. Nanti jadi bahan selisih dan dendam,” kata Tim Doa ketika Robi dan Dormiyati pamit hendak pulang.
*******
Sudah dua kali Robi gagal dalam usaha. Pelihara ayam kampung gagal. Belum berkembang biak dan memberi untung, ayam ludes dimakan predator. Pelihara kambing gagal pula. Impian berlibur ke luar negeri dari penghasilan kambing tidak kesampaian. Belum setahun pelihara, kambing hilang lagi. Parah ! Apa harus berhenti? Haram..! Selama impian membahagiakan istri tidak mati dari pikiran, Robi akan terus berusaha.
Setelah berhenti enam bulan, Robi kembali berusaha. Kali ini ia memilih jenis usaha yang tanpa keluar keringat, untungnya fantastis. Robi sangat percaya diri, bahwa usaha yang ketiga ini mendatangkan keuntungan luar biasa yang jauh melewati impian.
Suatu malam setelah istri tidur lelap, Robi bekerja dalam ketegangan. Dengan konsentrasi yang super duper Robi bermain judi online. Kali pertama Robi judi online, ternyata dewi fortuna benar-benar berpihak padanya. Hingga pagi ia tembus 200 juta. Menang..!
Dari uang Rp 200.000.000, Robi berencana berikan 10 juta kepada Dormiyati untuk kebutuhan beli baju baru dan perhiasan lain yang lebih berkelas. Kemudian yang 180 juta sebagai modal untuk beli mobil mewah. Sisa 10 juta untuk kembalikan uang dari 100 siswa penerima beasiswa yang pernah dipotong sebagai uang transportasi ke ibukota kabupaten.
Belum sebulan berlalu, telapak tangan kanan gatal dan gatal lagi. Berkat apa lagi, kata hatinya. Sebelum dapat 200 juta telapak tangan Robi tidak main-main gatalnya. Begitu bermain semalam terbukti hoki benaran. Dengan dasar pengalaman itu, Robi main lagi. Sepanjang malam sepi Robi hanya ditemani segelas kopi .
Depan mata Robi surga dunia terang benderang. Dewi Fortuna ternyata tidak ke mana-mana. Hampir pagi Robi tembus 300 juta. Wah, mendadak kaya! Kerja 2 malam 500 juta. Kerja 10 tahun ASN baru dapat 500 juta. Bedanya langit dengan bumi.
Dengan uang hasil kerja 2 malam Robi sudah saatnya tampil beda. Ketika libur puasa, Robi diam-diam sudah di Jakarta mencari mobil Toyota Kijang Innova Reborn terbaru tipe 24G (Diesel) dengan harga Rp 430.000.000. Mobil inilah yang dipakai Robi ketika akan menghadiri seminar guru se kabupaten setelah hari raya Idulfitri.
Dengan Kijang Innova Reborn Robi bersama istri mau menikmati seperti apa indahnya dunia. Setiap sore keduanya jalan-jalan keliling. Tidak ada keperluan juga, hanya pingin jalan-jalan saja sambil menikmati makan malam di berbagai rumah makan. Hampir pasti setelah ada mobil suami-istri jarang makan dalam.
Baru dua bulan jalan-jalan, tangan Robi gatal tak tahan. Berkat berlimpah datang lagi, katanya. Ketika malam tiba, Robi habiskan gatalnya. Ia bermain dalam sunyi penuh ketegangan. Awalnya tembus 50 juta. Menang! Hampir pagi tembus 150 juta. Kalah! Loyo hilang daya. Mata mengantuk, napsu makan hilang.
Mengobati luka karena sisa tabungan sudah kosong, Robi pinjam kredit bank 100 juta dengan jaminan gaji P3K selama 10 tahun. Uang inilah yang jadi senjata judi online ketika gatal tangan tak tertahankan menyerang Robi.
Suatu malam sehabis makan, tiba-tiba tangan kanan Robi gatal. Digaruk malah tambah gatal, panggang di api bukan obatnya. “Malam ini malam berahmat penuh berkat,” katanya dengan bangga diri yakin mendadak kaya-raya. Robi buru-buru buka laptop dan bermain sepanjang malam dalam ketegangan. Jam 22.00 untung 5 juta. Robi tambah semangat dan tambah percaya diri. Tetapi hampir pagi Robi telak kalah 100 juta. Pinjaman kredit bank 100 juta ludes dalam semalam.
Dalam sunyi-sepi dendam berkobar bagai api membara. Niat hati membunuh mati bukan dengan tajaman, tetapi dengan merugikan hingga tak bisa berkutik. Karena itu, Robi menjual mobil mewah dengan harga murah 200 juta.
“Yakin sungguh dengan modal 200 juta akan untung 2 milyar,” kata hatinya dengan penuh semangat. Nah ketika tangannya gatal kembali, Robi tidak tanggung-tanggung buka laptop. Sepanjang malam terjadi untung-rugi, rugi-untang, dan untung. Hampir pagi tembus 150 juta.
“Menang..!” Robi teriak keras hingga istri bangun.
Malam berikutnya gatal lagi. Buru-buru buka laptop lalu menyerang. Tidak ada pilihan yang lain, kecuali hajar.., hajar .. sampai kapok! Nah, hampir pagi dunia terbalik! Harapannya membunuh mati, tetapi kenyataannya Robi yang terbantai dengan kalah 350 juta.
Kembali masuk ruang gelap. Mati daya, mati langkah. Sudah keenakan di mobil, sekarang kembali jalan kaki. Sudah keenakan makan luar, sekarang pikul utang bank. Makan apa lagi? Sisa gaji bulanan P3K tinggal 400 ribu.
Sudah tak berdaya, ditimpa tangga lagi. Nasib sial apa memang?! Belum puluhan tahun mengabdi, Robi dan beberapa teman lain dirumahkan. Anggaran belanja dipangkas dan dialihkan dalam program kegiatan Makan Bergizi Gratis.
Daripada mati konyol, Dormiyati memilih jadi TKW Singapore. Perhiasan tubuhnya mulai anting, cincin, kalung sampai gelang tangan dan gelang kaki, ia gadaikan semuanya untuk biaya perjalanan. Ia berharap setelah habis kontrak 3 tahun ia pulang dengan uang ratusan juta yang mampu menyembuhkan luka dan duka nestapa Robi.
Tetapi cita-cita dan harapan menyenangkan suami akhirnya terbunuh di tengah jalan. Belum sampai 3 tahun di Singapore, dunia sudah terbalik. Orang yang dipuji paling setia, dalam posisi tak berdaya pikul utang kiri-kanan, ia menemukan solusi yang berbeda. Nela, janda muda nan kaya raya berhasil merebut laki orang. Kini Robi milik Nela. Mau apa, coba?
Tambolaka, 2 Maret 2026
ASTER BILI BORA lahir di Sumba Barat, 28 Oktober 1958. Tamatan SDK Pasono Bendu 1971, SMPK Kalembu Weri 1974, SMAK Anda Luri 1977, Pendidikan S1 Bahasa dan Seni FKIP Undana Kupang 1983. Guru SNAKMA Negeri Kupang 1982-1986, SMA Negeri 1 Waikabubak 1986-2000, Kepala SMA Negeri 1 Loura 2000-2007, Koordinator Pengawas 2007-2013. Pensiun dini dari PNS dan terjun dalam politik sebagai calon DPRD Provinsi 2013.
Penulis yang berbakat organisasi ini terpilih sebagai ketua PGRI Kabupaten Sumba Barat Daya dua periode (2008-2020), Wakil Ketua PGRI Sumba Barat Daya 2020-2025, Pembina Yayasan Pendidikan PGRI 2008-2025. Pendiri SMA PGRI Tambolaka 2013, SMP PGRI Mandungo 2016, dan pendiri Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat PRIMA BUDI 2016, Penasihat dan penggagas Asosiasi Peternak Unggas Sumba Barat Daya 2022
Dalam kegiatan menulis, awalnya sebagai jurnalis 1979-1986. Setelah diangkat jadi PNS, ia menghabiskan waktu luangnya dengan menulis. Karya-karyanya berupa Opini, Esai, puisi, dan cerpen dimuat di surat kabar dan majalah, antara lain: Harian: Tegas Ujung Pandang, Suara Karya Jakarta, Pos Kupang, Timor Expres Kupang, Victorynews Kupang, majalah: Fakta Jakarta, Femina Jakarta, Hidup Jakarta, expontt.com, dan satusumba.com
Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), dan Bilang saja saya sudah mati ( 2022). Antologi cerpennya yang juga segera akan terbit berjudul: Laki yang terbuang dan Lahore. Lima karya puisi dari penulis ini juga dimuat dalam Antologi bersama 51 penyair NTT pada tahun 2018 dengan judul: Seruling Perdamaian Dari Bumi Flobamora, dua cerpen dalam antologi bersama dengan judul Tanah Langit NTT tahun 2021, dan antologi esai bersama 32 pengarang dengan judul: Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Gairah Literasi Mencerahkan Hati tahun 2022, Cambuk Kehidupan tahun 2023, Peribahasa 2 (tahun 2025), Antologi cerpen bersama 20 pengarang lain dalam buku: Senandung Kata, Merangkai Cerita (tahun 2025), Antologi Puisi bersama 13 pengarang lain dalam buku: Jejak Rindu di Ujung Kata (tahun 2025). Karya novel yang sedang dalam persiapan berjudul: Laki yang kesekian-sekian







