Kamu Suruh Saya Cepat Mati

 

Cerpen: Aster Bili Bora

 

KETAKUTAN saya yang paling besar berpuluh-puluh tahun kalau mama saya, yang lazim saya panggil Inna, cepat meninggal . Selama kuliah di Kupang dan setelah bekerja, saya mengawali setiap pagi dengan doa

“Tuhan beri kesempatan orang tua saya hidup lebih lama.”

Doa itu dasarnya trauma luar biasa yang pernah saya alami. Baru empat bulan disebut mahasiswa, Kakak sulung saya, Frans meninggal dunia, dan sialnya, saya tahu setelah tiga bulan ia dimakan tanah. Orang dewasa satu-satunya yang masih ada di kampung hanyalah Inna. Kalau Inna cepat meninggal, secepat anak sulungnya, maka tujuh anak yatim-piatu yang semuanya masih kecil, kepada siapa akan berharap. Memang masih ada kakak saya dua orang perempuan. Tetapi sudah pindah rumah, dan hidup mereka juga masih susah.

Sepeninggal Frans, tanah milik semuanya dirampas orang secara paksa. Kelewatan! Tuhan sembunyikan muka di mana? Sudah menderita dibuat tambah menderita! Selama enam bulan Inna diusir dari kampung halaman, dan terpaksa ia bawa para cucu ke rumah anak perempuannya di kecamatan lain. Daripada baku bunuh gara-gara bumi ciptaan Tuhan, maka lebih baik berproses di pengadilan. Kalau ternyata saya kalah dan resikonya harus eksekusi, maka mungkin saya sumpah serapah sebagai manusia yang tidak memiliki lagi kampung halaman. Mungkin Juga saya mohon digantung di loteng rumah adat supaya selamanya saya jadi bukti sejarah betapa ambruknya hukum dan keadilan di negeri ini !

Tetapi hal itu tidak terjadi! Tuhan Maha Pengasih, sehingga akhirnya kami kembali bersaudara dalam satu daratan. Dengan pengalaman masa lalu yang sangat pahit, kami janji supaya selalu rukun dan damai dalam rasa persaudaraan sejati tanpa harus mempersoalkan perbedaan-perbedaan di antara kami.

Sekarang Inna sudah berusia 100 lebih tahun. Masih kerja, dan belum pakai tongkat. Cuma pikunnya yang makin bertambah, sehingga setiap pagi rewelnya juga makin bertambah kalau sirih-pinang-kapur yang menjadi kebutuhan dasarnya tidak tersedia di tas atau yang lazim disebut kaleku. Ia akan rebut berkepanjangan dan tuduhannya macam-macam, bahwa ada anggota rumah tangga yang sengaja menyembunyikan. Kalau sudah kelewatan, maka istri saya yang juga sedikit berbakat darah tinggi, tidak mau ketinggalan. Keduanya akan bertengkar ramai! Tetapi hebatnya, setelah reda dan pada waktu Inna sedang tumbuk sirih pinang dalam gobeknya, istri saya mendekat lalu cubit telinga dan kutik main-main testanya beberapa kali.

“Kepala pintar, simpan baik-baik isi kaleku, sehingga tidak harus cari!”

Biasanya Inna pasti melakukan perlawanan dengan mengejar istri saya. Setelah menghindar beberapa meter, istri saya berhenti dan sorong pantatnya supaya dijotos beberapa kali. Sialnya, kalau kebetulan pas keluar kentut dan bunyinya jauh lebih besar daripada pukulan tinju, maka keduanya tertawa ngakak sampai keluar air mata dan sakit perut. Cara itu selalu dilakukan istri saya sebagai solusi yang membuat Inna tetap senang dan kalau boleh bisa hidup lebih lama.

“Orang yang sudah tua, tidak boleh dibuat cepat mati. Hanya lehernya yang masih kelihatan, sedangkan tubuhnya sudah dalam tanah. Apa pun yang ia buat dan bicaranya seperti apa, tidak usah menjadi masalah. Kita harus bersyukur, bahwa orang tua kita masih hidup dan tidak membuat kita susah. Tua-tua begitu, tetapi umur panjang sekali dan sehat…”

Nasihat istri saya itu membantu saya bisa menahan marah. Kadang-kadang saya kilaf dan stress kalau Inna kerjanya melawan dan melanggar larangan saya. Sejatinya saya akan benar-benar bahagia kalau melihat Inna bahagia dari hasil pekerjaan saya membahagiakan. Paling kurang ia bersih selalu, berpakaian necis setiap hari, duduk senang-senang, dan tidak harus bekerja keras. Namun,biar tua-tua begitu, tidak bisa dilarang dan tetap saja bekerja. Setiap pagi dan sore tidak alpa mencangkul rumput di lingkungan rumah sehingga pakaian, rambut, dan seluruh dirinya jelas-jelas kotor, lebih kotor dari seorang kuli. Sudah begitu, tidak mau mandi, dan itu yang kadang membuat istri saya naik darah.

“Inna sudah sangat tua. Mata sudah tidak kenal orang. Inna stop kerja, karena kalau gelap muka dan jatuh di mana, kita yang tukang kena malu. Orang pasti bilang, anak mantu tidak tahu urus.” Larangan istri saya, di luar bayangan, justru membuat Inna sangat tersinggung, dan balik marah.

 “Jadi, kamu suruh saya cepat mati? Kalau larang saya kerja, maka saya bisa cepat mati!”

Sejak itu istri saya tidak tegur-tegur lagi. Inna merasa merdeka. Setiap hari volume dan jam kerjanya bertambah. Efeknya, rasa malu istrinya saya juga ikut bertambah, sebab tetangga yang tidak tahu hal ikut-ikutan fitnah, bahwa istri saya memperbudak mama mantu. Apa lagi Ketua RT sendiri sudah mulai campur tangan dan melancarkan teguran

“Mempekerjakan nenek-nenek, jelas-jelas melanggar HAM!”

Pernyataan itu membuat tensi istri saya tiba-tiba naik, lalu melakukan semprotan balik.

“Mohon maaf, Pak RT salah alamat. Inna bukan pembantu, tetapi Mama Mantu yang sangat saya cintai dan hargai, melebihi cinta saya pada suami saya.”

“Lalu mengapa ia kerja seperti pekerja?”

“Bukan disuruh, maunya sendiri.”

“Ya, kalau sayang dia, suruh stop!”

“Sudah beribu kali. Tetap kepala angin!”

“Aah.., begitu? Aduh, mohon maaf, salah alamat benar!”

“Ya, Pak RT. Terakhir kami kena ancam, bahwa kalau larang ia kerja, maka ia pasti cepat mati.”

“Aai, jangan! Jangan! Nanti kita pikul dosa bodoh-bodoh!”

“Makanya, siapa yang mau, Pak RT. Kita masih ingin ia hidup lebih lama!”

Ketika kembali dari sekolah, istri saya lapor tentang kejadian dengan Ketua RT. Saya justru bangga dan tambah bahagia, karena yang sayang Inna tidak hanya saya dan istri saya, tetapi banyak orang, termasuk Ketua RT kami. Setelah tanggalkan sepatu dan pakaian dinas, saya temui Inna yang sedang kulum-kulum sirih-pinang di teras samping.

“Inna!”

“Wei..!”

“Ei, bukan begitu cara jawabnya. Ulang!” Saya panggil lagi.

“Inna!”

“Ya, Boosss!” Jawabnya dengan ucapan panjang. Ia meledak tertawa, dan saya juga begitu. Kami tertawa bukan karena ucapannya yang ditarik panjang, melainkan karena mengingat orang yang mengajarkan dengan lucu-lucuan demikian. Istri saya sering katakan padanya, bahwa kalau saya panggil, ia harus menjawab dengan sapaan “booss”, supaya saya senang dan bahagia selalu. Dan itu yang ia lakukan untuk lucu-lucuan dan tertawa sekarang. Kemudian saya makin dekat ke arahnya dan menyaksikan, bahwa tubuhnya penuh debu.

“Sudah mandi?”

“Sudah!” Jawabnya kasar dan tegas. Itu pertanda ia berdusta dan lagi malas mandi. Karena kalau ia sudah mandi benaran dan kulitnya sudah mengkilat licin, biasanya ia pasti menjawab dengan nada yang halus dan perlahan. Kemudian saya kain mendekat dan peluk-peluk bahunya sambil mengajak ia mandi.

“Mandi betul! Ada tamu yang datang! Setelah mandi, Inna di ruang tamu untuk terima.”

Kalau perkataan begitu, apa pun alasannya ia pasti singkirkan, dan segera mandi. Setengah jam kemudian, benar Inna sudah di ruang tamu. Badannya sudah bersih, busananya busana pesta, dan rambutnya disisir rapi. Bau parfumnya tidak ketinggalan. Ternyata, biar tua-tua begitu, masih butuh penampilan dan pengakuan akan sisa-sisa potensi yang masih dimiliki. Kesempatan itu saya gunakan untuk mengajak ia stop kerja.

“Inna, Sayang anak- tidak?”

“Sayang! Karena sayang, maka kamu baik.”

“Saya sayang Inna-tidak?”

“Sayang!”

“Kalau begitu, esok berhenti kerja-tidak?”

“Aduh, anak, kalau saya tidak kerja, saya cepat mati.”

“Ah, jangan! Kami sangat bahagia kalau Inna hidup lebih lama lagi. Doa kami Tuhan kabulkan.”

‘Ya, kalau hanya makan tidur– makan tidur, hati saya sama sekali tidak senang. Kerja dulu baru bisa senang.”

“Kalau begitu, saya setuju Inna tetap kerja. Tapi cukup yang ringan-ringan saja, misalnya sapu kamar tidur dan rapikan baju-baju. Setuju?” Ia menganguk.

“Janji?” Juga mengangguk.

Namun, keesokan hari sebelum saya bangun pagi, ia sudah ambil cangkul dan menuju ke kebun di belakang rumah. Ketika saya bangun, bekas kerjanya sudah beberapa meter. Saya menuju ke arahnya, dan mengingatkan janjinya kemarin. Ia terkejut dan ia buang cangkul dari tangan. Maklum pikunnya makin gila. Sejak itu, Inna berpisah dengan cangkul, dan mulai melakukan pekerjaan baru yang sesungguhnya belum menjadi bagian dari hidupnya, tetapi harus ia lakukan sebagai bukti cintanya pada saya. Dengan taatnya seperti yang saya sarankan, hati saya makin mekar dan bahagia. Meski begitu, rasa bahagia saya hanya dalam hitungan hari berubah jadi duka duri, karena pada suatu kesempatan ia mengutarakan sesuatu dengan nada sedih dan terbata-bata.

“Tuguru!” Ia biasa panggil saya begitu sebagai singkatan dari kata: Tuan Guru. Saya melihat ke arahnya, lalu ia melanjutkan sesuatu.

“Nanti kalau saya mati, bukan karena penyakit. Saya mati baik-baik, karena sudah sampai di batas akhir hidup yang Tuhan hadiahkan. Saya tidak buat kamu susah dengan sakit lama-lama. Saya sangat sayang kamu, anak-anak!”

Mulai hari itu saya lepas kendali, cinta saya kepadanya los dan tidak ukur-ukur. Segalanya untuk dia. Biar ada kesalahan kecil dan besar yang ia lakukan, saya tidak bisa marah. Karena kalau saya marah dan efeknya ia mati mendadak, maka seumur hidup saya trauma sebagai anak yang kualat. Karena itu, doa saya siang malam, tidak lain:

“Tuhan, berikan kesempatan orang tua saya hidup lebih lama lagi. Kalau nanti tiba saatnya Tuhan panggil, saya mohon Tuhan sediakan dia waktu untuk sampaikan pesan terakhir pada anak-cucu.”

Saya tidak tahu apakah doa terkabul atau tidak. Yang jelas Inna makin bandel. Biar dimakan nyamuk siang-malam, ia sehat-sehat saja dan tidak ada keluhan. Saya anak bungsu dalam usia 60 tahun kadang-kadang dapat serangan penyakit sekalipun tidak luput dari bungkusan kelambu. Karena itu, ketakutan saya yang paling tinggi sekarang justru pada diri saya sendiri. Saya takut mati duluan dari orang tua saya. Makanya, doa saya bukan lagi untuk orang tua supaya ia hidup lebih lama, tetapi saya doa untuk diri sendiri:

“Tuhan, beri saya kesempatan untuk hidup lebih lama. Kalau boleh lebih tua dari orang tua saya yang sekarang. Ajar juga anak-anak saya supaya mereka doa seperti doa saya kepada orang tua saya.”

 

Tambolaka, 19 Juni 2017

Aster Bili Bora, Sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya.

Catatan: Kaleku= tas tempat sirih pinang yang dianyam dari daun pandan.