Mawar dalam Taman Sunyi

Puisi: Vebronia Klara de Danu

 

 

Di balik dinding sunyi kapel tua,
terpatri nama dalam doa:
Vebronia Klara de Danu,
sebuah jiwa lembut berbalut salju,
angin pagi pun berbisik pelan,
“Di sinilah cinta setia berdiam.”

Wajahmu berseri bukan karena dunia,
melainkan karena surga yang kau pandang setiap hari.
Langkahmu ringan, namun pasti,
seperti kabut pagi yang memeluk bumi—
penuh rahasia, namun membawa damai.

Kau pilih jalan sempit dan sepi,
bukan karena tak ada tawaran duniawi,
tetapi karena panggilan itu berbicara lirih,
dalam palung jiwamu yang bening bersih.
Dan kau menjawab, tanpa ragu,
“Ya Tuhan, aku datang… inilah aku.”

Vebronia, bunga yang tak mencari sorot,
namun harummu mengisi lorong-lorong hidup
orang-orang yang datang mencari penghiburan.
Senyummu, sabda tanpa kata,
menyentuh hati yang luka
dan memberi harapan yang hampir sirna.

Klara, seperti santa yang jadi namamu,
kau hidup dalam terang kemurnian,
tanpa riuh, tanpa pamer,
namun hatimu bernyala seperti altar,
terus menyala untuk kasih yang kekal.

Dan de Danu, warisan darah dan tanahmu,
yang kini kausucikan dalam hidup bakti.
Kau biarawati, bukan karena kewajiban,
melainkan karena cinta yang tak terkatakan.
Cinta yang bukan tentang memiliki,
tetapi tentang memberi tanpa henti.

Di pagi buta, saat lonceng memanggil,
kau bangun untuk berdoa dan menanti,
bukan keajaiban dunia,
melainkan bisikan Tuhan dalam heningnya litani.

Kau menenun hari-harimu dengan rosario,
menyulam senyum di wajah para sakit,
mengisi ruang-ruang kosong di hati manusia
dengan kehadiran yang lembut,
dan kasih yang tak menuntut balas.

Tak ada mahkota emas di kepalamu,
namun surga mencatat langkahmu
dengan tinta kekal yang tak pudar.
Karena engkau, Vebronia Klara de Danu,
telah memilih bukan hanya untuk hidup,
tetapi untuk menghidupi cinta-Nya.

Engkau adalah kidung di antara keheningan,
tetes embun di pagi kontemplasi,
serpihan cahaya di lorong penderitaan,
dan tangan lembut yang memeluk luka dunia

Ruteng, 8 Juni 2025

 

Vebronia Klara de Danu, dari desa Buru Deilo, Kecamatan Wewewa Selatan, Sumba Barat Daya, NTT. Ia memilih panggilan Rohaniwati, dan sekarang sebagai Suster sekaligus guru bahasa Inggris di Kalimantan Tengah.