EXPONTT.COM – Ambruknya Bendungan Buntal di Pota Manggarai Timur NTT mendapat tanggapan positif anggota DPRD NTT Nelson Matara dari Fraksi PDIP.
Nelson Mata adalah anggota Komisi IV DPRD yang membidangi infrastruktur termasuk bendungan dan jalan. Persoalan Irigasi Buntal yang jebol diterjang banjir langsung dibawah kedalam Badan Anggaran atau Banggar untuk dibahas.
Nelson mengatakan,” Bendungan jebol harus menjadi perhatian utama Pemda NTT dan kita akan mendesak Pemda NTT untuk alokasikan dana perbaikan pada tahun 2022 mendatang. Sudah menjadi kewajiban, tanggungjawab dan risiko pemerintah untuk diperbaiki agar rakyat petani yang sedang susah jangan ditambah susa. Ya saya akan perjuangkan.”
Ansor Orang dari Fraksi Golkar berjanji akan ikut memperjuangan saat rapat banggar. Ini kebutuhan fatal masyarakat petani. Kita akan mendesak agar di tahun 2022 pemerintah memperbaikinya supaya rakyat tidak sengsa, tegas Ansor.
Seperti diwartakan kemarin, Bendungan Buntal Manggarai Timur jebol diterjang banjir beberapa hari lalu.
Olivier pemilik pondok wisata “4 Pohon” di Desa Golo Lijun Elar lewa WA Senin 15 November 2021 menjelaskan,” Sejak pekan lalu, Bendungan Bundal jebol diterjang banjir menyebabkan kawasan persawahan digenangi air yang cukup tingga. Masyarakat jadi susah akibat jebol bendungan akibat curah hujan yang tinggi.”
Seperti diketahui, Buntal merupakan salah satu dataran luas di Dusun Kembo, Desa Gololijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Dataran ini terdapat di wilayah timur laut, Kabupaten Manggarai Timur, atau di wilayah perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur dengan Kecamatan Riung Kabupaten Ngada.
Menurut Olivier, belum ada peninjauan lapangan oleh Pemda Manggarai Timur, atau Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara (BWS NT) II Provinsi NTT di Kupang. “Kita dan masyarakat di kawasan Buntal mengharapkan Pemerintah NTT segera turun tangan,” harap Olevier.
Bendung Di Buntal yang dibangun Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Provinsi NTT sejak tahun 2012, kata Olivier adalah kawasan potensi bisa dijadikan persawahan yang maksimal. Tetapi bendungan ini, tegas Olivier jelas masyarakat susah.
Di kawasan ini terdapat sumber mata air dengan debit yang cukup besar, yakni 2,4 m3/detik. Namun air tersebut tidak bisa digunakan karena berada di wilayah paling rendah.
Air tersebut dibiarkan begitu saja mengalir ke laut dan tidak bisa digunakan para petani.
Itu sebabnya saat itu banyak warga yang tidak betah tinggal di dataran itu. Bahkan ada warga yang sebelumnya menghuni lokasi translok Buntal harus angkat kaki. Mereka tinggalkan rumah translok dan mencari tempat tinggal yang menjanjikan kehidupan mereka.
Sebab hidup di dataran itu sangat susah dan dinilai tidak punya prospek yang baik bagi kehidupan ekonomi mereka. Tidak ada air. Apalagi bertahan hidup dengan mengandalkan hanya satu kali tanam jagung dan kacang hijau setiap tahun di dalam lahan yang juga sangat terbatas. Mereka tentu tidak mungkin bertahan hidup dalam kondisi seperti itu.
Melihat adanya potensi di dataran tersebut, pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara (BWS NT) II Provinsi NTT membangun bendung di Desa Gololijun tahun 2012 lalu.
Pembangunan bendung itu dimaksudkan untuk meninggikan permukaan air sehingga air dengan debit 2,4 m3/detik itu bisa mengalir ke hamparan padang ilalang yang kering dan gersang.
Setelah sukses membangun bendung, BWS NT II Provinsi NTT juga melanjutkan dengan pekerjaan pembangunan jaringan irigasi di DI Buntal Kanan sepanjang 16,22 kilometer. Karena dana terbatas, pekerjaan pembangunan jaringan irigasi di Buntal Kanan ini juga dilakukan secara bertahap pada tahun 2013, 2014, 2015 dan 2016. ♦ wjr








