Cerpen oleh: Aster Bili Bora
KEMERDEKAAN monyet sejak turun-temurun sekarang berakhirlah. Entah sampai kapan! Padang monyet 3000 hektare dijadikan kawasan peternakan modern sapi premium dengan nilai proyek 700 M. Monyet akan kehilangan segalanya: kehilangan kebahagiaan, kehilangan tempat mencari makan, tempat beradu kasih, tempat beristirahat, dan tempat lain-lain. Bagaimanakah nasib monyet? “Tangkap dan masukin!”
Dalam posisi terjebak dan dilematis kepala bangsa monyet melaksanakan rapat paripurna anggota monyet. Dalam rapat itu digunakan semata-mata bahasa monyet dan hanya bahasa monyet itulah satu-satunya bahasa pemersatunya. Mereka tidak tahu bahasa Indonesia apa lagi bahasa Inggris atau bahasa Jerman. Maklum saja, namanya monyet sama dengan binatang lain mana tahu bahasa manusia.
Untungnya ada Umhawu, pawang monyet kenamaan dari wilayah anta beranta yang mahir banyak bahasa, termasuk juga mahir bahasa Indonesia sehingga segala hal yang dibahas dalam rapat paripurna para monyet dapat diketahui pula makluk lain, tidak terkecuali warga Sumba.
Para monyet tidak bongkar lari dengan kehadiran manusia bernama Umhawu? Sudah bilang pawang kenamaan, masa ada monyet yang takut kena tembak. Ini bukan pawang biasa sehingga monyet ragu-ragu. Umhawu itu selain jam terbangnya sangat tinggi dalam dunia perpawangan monyet, juga badan dan jiwa monyet sudah menyatu dalam jiwa raganya sehingga gestur dan perilakunya persis monyet, bukan lagi monyet-monyetan. Sebab itu untuk mengabadikan persatuannya dengan monyet, maka sahabat Umhawu memberi dia nama baru, yaitu: Monyet. Apakah Umhawu marah dan merasa terhina? Sama sekali tidak. Justru dengan bangganya ia menerima nama baru itu dan berharap selalu dipanggil Monyet karena Umhawu dan para sahabat sama paham, bahwa bukan Umhawu yang disebut monyet melainkan para monyet di belakang yang dipawanginya. Ini hanya sekadar pengingat saja supaya Umhawu tetap setia pada panggilan hidupnya sebagai pawang monyet.
Namun demikian, janganlah yang bukan sahabat memanggil dia monyet. Kasihan jugalah perasaannya sebagai manusia sesama ciptaan Tuhan. Kalau pejabat sekelas camat, bupati atau gubernur yang memanggilnya monyet, ya sekali-sekali tidak apa-apalah untuk menambah keabraban antara anak-bapak sehingga semangat berkarya makin bernyala-nyala. Sebab di daerah-daerah tertentu ditemukan kenyataan, bahwa kalau hanya dengan pujian dan usap-usap melulu, rakyat bukannya bergerak maju untuk bekerja demi hidupnya melainkan makin tidur sono. Mereka harus dibentak, dibina dengan keras, dihukum makan tanah, dan bahkan dimaki baru bangkit dan lari.
Seusai rapat paripurna Umhawu jumpa pers. Ia menjelaskan kepada wartawan, bahwa bangsa monyet tetap mempertahankan padang monyet. Mereka sudah berbulat tekad untuk menghadapi dan melawan serangan kekerasan pihak-pihak tertentu yang secara sengaja mengambil alih padang monyet. Demi padang monyet, bangsa monyet siap terima resiko apa saja. Mau tangkap, masukin, siksa, atau tembak, bangsa monyet tetap maju tak gentar. “Siap mati demi tanah air beta,” kata kepala bangsa monyet. “Apa lagi saya punya tidak baik. Di situ sudah 1000 hektare, di sana 1000 hektare. Sekarang mau tambah lagi 1000 hektare!”
Hasil rapat paripurna para monyet menjadi berita utama di media yang wajib dibaca publik. Gubernur dari provinsi anta beranta menjadi salah satu yang membaca berita tersebut. Gubernur itulah yang akan menggelontorkan dana PEMDA 700 M untuk proyek peternakan modern dengan pengelolaan oleh anak kandung. Apakah gubernur akan berhenti dan mengalihkan proyek itu di tempat lain yang tidak bermasalah? Tidak! Justru ia makin berani. Cintanya pada rakyat tidak terkoyakkan oleh gertak sambal para monyet pemalas yang hanya tahu enak dari buah-buahan hasil keringat rakyat. Tanah terlantar yang tidak produktif akan dikelola secara maksimal demi kesejahteraan rakyat. Para monyet yang gertak sambal ia gertak sambal pula dengan pernyataan: “Siapa yang berbeda dengan saya, saya tangkap dan masukin penjara. Saya tidak bikin mati. Bikin mati itu gampang, tetapi bikin hidup itu sulit.”
Dua bulan kemudian pada tahun anggaran berjalan diturunkan sapi 50.000 ekor di range peternakan yang mulanya padang monyet. Selain sapi diturunkan pula pihak keamanan yang siap amankan serangan predator. Ketua bangsa monyet bersama seluruh anggotanya yang awalnya panas-panas siap mati, ternyata tidak satu juga yang berani muncul. Panas-panas tahi ayam! Penakut semua. Siapa dulu gubernurnya? Monyet ompong mau gaya-gayaan tampil!
Proyek peternakan modern melahirkan masalah baru. Sapi premium dengan sangat merdekanya mendapatkan range subur mewah, mereka seakan bergotong royong menghancurkan tempat kerahmat warga dan membobolkan batu kubur. Tulang belulang nenek moyang berserakan begitu saja. Warga pemilik batu kubur takut masuk range yang super ketat pengawasannya. Di beberapa sudut range terpampang pengumuman: DILARANG MASUK YANG BUKAN PETUGAS.
Para monyet ternyata bukannya siap mati mempertahankan padang monyetnya sebagaimana dinyatakan dalam rapat paripurna, malah siap cari selamat masing-masing. Pencintraan belaka yang tidak ada hasil nyata. Kalau hanya begitu saja, bikin apa pamer kekuatan belakang layar. Pikirnya benar ternayata hanya pinjam tenaga kawan untuk hantam musuh. Setelah ketahuan, sebelum digertak sudah kencing berdiri. Coba kencing duduk, mungkin rasa malunya tidak kelihatan.
Baru seminggu sapi di range baru, monyet yang ratusan ribu tidak satu pun yang tunjuk gigi. Pihak keamanan yang melakukan perburuan tidak dapat apa-apa. Kosong dan sepi. Entah sembunyi di mana para monyet itu! Yang terlihat hanyalah sapi yang memutihkan range dari ujung ke ujung.
Dengan keyakinan sapi aman dari gangguan predator, maka petugas keamanan mulai fokus bidang kegiatan lain. Ada yang sibuk main rome, tidur, bercerita kenangan masa muda, dan yang sudah kelihatan umur ada beberapa yang kepingin cari sayur muda di desa tetangga. Minta ampun, minta ampun! Kalau sudah rasa aman, begini sudah. Harap maklum tinggalkan rumah berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Mau berapa tahan, hanya karena gara-gara pertahankan keamanan sapi beta.
Kabar terbaiknya bahwa range sapi sama sekali sudah bebas dari monyet. Kepala bangsa monyet bersama seluruh anggota, tanpa kecuali, sudah berhimpun di wilayah anta beranta. Di sana mereka tidak punya hak apa-apa, kecuali hak hidup semata. Mereka sungguh tersiksa dan menderita kelaparan. Sehari hanya makan satu kali dengan menu yang kurang bergizi. Tidak seperti waktu masih merdeka hidup di padang monyet, mereka bebas makan apa saja dari buah-buahan hasil keringat rakyat. Karena itu, mereka tetap buat perhitungan untuk mengalahkan lawan lalu merdeka kembali di padang monyet.
Di wilayah anta beranta para monyet menyelenggarakan rapat paripurna semacam jajak pendapat untuk mengetahui secara jelas apakah para monyet terus hidup di wilayah anta beranta dengan resiko sengsara, ataukah ingin pulang di padang monyet yang ada susu dan madunya. Mereka semua tanpa kecuali sepakat pulang di padang monyetnya. Tetapi apa daya? Monyet tidak bersenjata sedangkan petugas range bersenjata lengkap. Sudah ompong mau tambah ompong? Untung kalau cuma ompong. Kalau nyawa melayang, siapakah yang bertanggung jawab?
Satu keputusan penting dari rapat paripurna, bahwa untuk menang tidak harus punya senjata. Untuk menang tidak harus keluarkan kata fitnah. Bergantung teknik, strategi, dan pendekatan perang. Banyak contoh, ada yang kalah walaupun bersenjata lengkap. Berarti senjata berupa pistol dan bedil bukanlah segala-galanya untuk menang. Karena itu, para monyet yang tidak tahu pegang senjata akan meminjam tenaga lawan untuk mematikan proyek peternakan modern yang dikelola dengan dana PEMDA 700 M.
Caranya bagaimana? Monyet bekerja sama dengan musuhnya, yaitu: Harimau. Kepala bangsa monyet berkunjung ke istana harimau dan meminta kepala harimau bersama anggota untuk memangsa sapi satu demi satu sampai ludes. Harimau setuju bukan main. Mumpung ada kesempatan: lipat! Daripada bunuh monyet yang banyak buluhnya lagi pula kecil lebih baik sikat sapi premium bergizi tinggi dan besar.
Namun tidak serta merta harimau bertindak cepat. Harimau walaupun masuk kelas binatang, tidak kalah cermatnya dengan manusia. Kapan dan di mana saat yang menguntungkan, misalnya pihak keamanan sudah sangat lelah, lenga, tidak peduli, dan sapi berada pada posisi yang terpencil dari jangkauan penglihatan petugas, barulah harimau melakukan serbuan dan otomatis berhasil matikan lawan. Begitulah kerja harimau, sehingga dalam waktu enam bulan sapi berada di range baru, ribuan sapi habis ditelan harimau. Herannya, tidak ada satu peugas yang tahu berapa sapi yang sudah jadi korban. Mereka terkesan tanpa beban: bermain rome tidak putus dan ronda malam ke desa lain lancar. Kejamnya, kalau gaji agak terlambat, maka komentnya seluruh penjuru ikut tahu.
Laporan kepada gubernur, bahwa proyek peternakan modern berkembang maju dengan indikasi: pertambahan bobot sapi secara drastis dan 85 persen sapi betina dalam posisi bunting. Gubernur tambah semangat. Ia prediksi 1 tahun kemudian jumlah sapi 2 kali lipat dengan omset 1,4 triliun. Apa lagi kalau sudah 2-3 tahun, pasti omsetnya 4 kali lipat. Secara politik, keberhasilan dalam bidang peternakan saja sudah menjadi sarana kampanye yang mematikan lawan, dan membuat gubernur petahana dari provinsi anta beranta itu sukses 2 periode. Andaikata undang-undang dan ketentuan memungkinkan 3 periode, maka sudah pasti ia melenggang bebas tanda tandingan nantinya.
Setelah satu tahun proyek peternakan modern, gubernur turun langsung di lapangan bersama team audit independen. Selama 1 minggu team independen melakukan perhitungan langsung. Ditemukan kenyataan: sapi tinggal 25.000 dari jumlah awal 50.000. Proyek apa yang begini macam? Bukannya untung malah rugi. Gubernur marah menyebut mereka semuanya sebagai monyet. Kalau terus berbeda, maka akan ditangkap dan masukin penjara. Selain itu ia menghukum pushup, pecat dengan tidak hormat petugas yang kerjanya cari perempuan setiap malam, menurunkan upah 25 persen, dan mengancam akan memindahkan proyek di tempat lain yang masyarakatnya suka maju.
Rencana memindahkan sapi di tempat lain ikut diketahui harimau, entah dari mana. Semuanya geger dan merasa rugi kalau ternyata dipindahkan dengan beragam alasan. Karena itu mereka semua bersepakat menghabiskan sapi sebelum dipindahkan. Apa yang terjadi? Harimau yang mulanya masih gerak tipu dengan terkam sapi di tempat yang sunyi, maka sekarang terang-terangan. Petugas keamanan berburu dan menyiram peluru, namun tidak ada satu jua yang mati kena tembakan. Maklum penembaknya juga dalam ketakutan mau menyelamatkan sapi atau menyelamatkan nyawa sendiri. Karena gagal membunuh harimau yang nyaris disebut harimau jadi-jadian, maka petugas cuma menang dengan makimai dan fitnah bangsa harimau.
Apakah dengan begitu, harimau bertobat terkam sapi? Justru yang terjadi sadisnya sadis! Coba terkam satu dimakan habis baru pindah ke sapi berikutnya, masih dikatakan wajar. Tetapi ini sapu bersih! Seekor harimau bisa melukai 50 sapi dalam sehari. Bayangkanlah kalau 100 harimau yang turun dalam satu hari saja berapa sapi yang akan jadi korban. Herannya sapi yang sudah luka bukannya mencari perlindungan pada petugas, melainkan makin merapat ke kawasan harimau. Maka apa yang terjadi? Sapi total tidak dapat diobati. Petugas takut buang nyawa. Sapi bernanah dan berbau busuk dikerumi lalat hijau. Masuk tahun yang kedua 75 persen sapi ludes dimakan harimau dan 25 persennya mati oleh lalat hijau.
Proyek peternakan modern tinggal nama doang. Dana 700 M yang telah digelontorkan tidak bermanfaat apa-apa bagi rakyat. Gubernur dari provinsi anta beranta angkat tangan. Ia menarik kembali suluruh petugas dan kosonglah sudah range peternakan modern tersebut. Bangsa monyet menang, gubernur kalah. Ternyata di atas langit benar masih ada langit. Atau dengan kata lain: sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh pula. Kembalilah bangsa monyet dengan merdeka ke padang monyetnya semula.
Tambolaka, 28 November 2021
Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, SBD..
Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2021), Laki yang terbuang (2021). Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: 1) Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 2) Tanah Langit NTT tahun 2021, 3) Gairah Literasi Negeriku tahun 2021








