Cerpen: Aster Bili Bora
Ole Milla, Pemuda ganteng usia 20-an digantung bagai kambing yang akan disisik: kaki ke atas kepala ke bawah. Kemaluannya diremas-remas seperti adonan, biji pelirnya hampir remuk. Pingsan, seakan mau mati rasanya.
Selama pingsan, antara mimpi dan kenyataan ia mendengar suara, entah suara siapa
“Terimalah kenyataan! Kau tangis sampai putus napas tidak ada yang kasihan. Kau mati di gantungan tidak ada yang tanya. Kau siapa? Lebih baik satu orang korban daripada seluruh anggota marga pikul malu sampai masuk kubur.”
Kasus hukuman gantung Ole Milla akhirnya viral di media sosial. Entah siapa yang berani rekam saat kejadian. Kelompok LSM dan mahasiswa bangkit demonstrasi mendesak pihak berwajib segera menangkap pelaku pelanggaran hak asasi manusia. Namun apa kata korban? Justru ia menyarankan supaya ambil posisi diam karena pelaku bertindak atas kebenaran. Seandainya pelaku ditangkap dan ditahan, maka kasihan anggota keluarga yang lain akan ikut menderita.
Sekalipun korban menderita fisik di tali gantungan, keluarga tidak melakukan perlawanan dengan menggunakan jalur hukum yang tersedia. Tidak juga menggunakan hukum rimba. Semuanya memilih tenang, karena menurut hukum adat, tidak dibolehkan perkawinan dalam marga yang sama.
Berbagai cara telah ditempuh untuk kembali “wotto-na’a”: mediasi keluarga, pendampingan pihak keamanan, dan usul-saran tokoh masyarakat. Namun semuanya sia-sia, bahkan sembunyikan muka di luar daerah.
Ole Milla tahu diri salah. Dia juga tahu, bahwa perkawinan wotto-na’a (sesama saudara) tidak boleh terjadi. Tetapi mengapa hal itu dilakukan dan tidak mau berpisah? Kabarnya orang tua tidak pernah cerita. Ayah sibuk tukang bangunan, Mama puluhan tahun TKW Malaysia. Setelah lama selaku suami-istri, barulah ketahuan dari pihak -pihak yang mediasi, bahwa “kami satu suku”.
Mereka mendesak supaya harus pisah karena melanggar adat dan merusak nama baik marga. Namun suara hati tidak mengizinkan untuk melepas pergi begitu saja. Perempuan adalah manusia. Sekecil apa pun, ia punya harga diri. Binatang saja tidak mungkin habis manis sepah dibuang.
Kalau akhirnya disuruh pilih suka yang mana: pisah atau mati, maka sejujurnya Ole Milla suka mati. Sudah mengalami siksaan demi siksaan, terutama siksaan batin karena kesalahan sendiri dalam cinta. Orang tua dan keluarga tidak salah kalau mereka memilih diam, dan bahkan berbalik arah ikut mendukung adanya perceraian. Orang-orang yang melaksanakan hukuman gantung dan bahkan sedikit nakal meremas burung terlarang, mereka juga tidak salah. “Mereka benar, sayalah yang salah!”
Aku tahu mamaku di rantau lagi dalam perawatan dokter. Mengalami gangguan jiwa, dan bahkan berencana bunuh diri karena mendapat kabar aku menderita di tali gantungan. Mohon ampun, Mama. Aku sudah salah langkah. Aku tahu mama sakit hati, kecewa, malu, resah dan gelisah karena merasa air susu mama tidak berguna dalam hidupku. Mungkin juga Mama sangat marah, dongkol, dan benci pihak-pihak yang melaksanakan hukuman gantung. Tetapi sudahlah, Mama, mereka juga tidak salah. Akulah yang salah sebagai sumber konfliknya. Aku terima hukuman gantung dengan suka cita sebagai takdir hidup. Tetapi percayalah,mama: satu orang mati seribu orang hidup. Ketika aku siluman, aku melihat dengan jelas, bahwa tali gantungan bernyala api. Aku boleh mati, tetapi nyala api di tali gantungan menjadi cahaya penerang bagi para lajang di negeri ini supaya berhenti kawin dalam marga yang sama. ♦
♦Tambolaka, 24 Januari 2021
#Nama pelaku dalam cerpen ini fiktif. Kalau ada yang sama, hanyalah kebetulan semata#
Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT








