Oleh. Fr. M.Yohanes Berchmans, BHK
Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan kita sehari-hari, terkadang kita mudah sekali melihat kesalahan atau kelemahan orang lain tanpa melihat kesalahan atau kelemahan diri kita sendiri terlebih dahulu. Padahal kita mungkin jauh lebih buruk dari orang lain. Oleh karena penting dan sangat bijak, sebelum kita mengoreksi diri orang lain, kita harus terlebih dahulu mengintrospeksi diri terlebih dahulu.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 8: 1 – 11, yakni perempuan yang berzina. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan, seorang perempuan yang tertangkap berzina digiring ke hadapan Yesus. Para ahli Taurat dan orang Farisi ingin menjebak-Nya: apakah Ia akan melawan hukum Taurat Musa atau meniadakan belas KASIH? Yesus tidak segera menjawab. Ia menulis di tanah, lalu berkata: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu.”
Kalimat itu mengguncang HATI nurani. Satu per satu mereka pergi, hingga hanya Yesus dan perempuan itu yang tersisa. Kepadanya Yesus berkata: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Ada tiga Pelajaran Penting: _Pertama_ Hak menghakimi bukan milik manusia. Kita sering merasa paling benar, padahal kita sendiri penuh kelemahan. _Kedua_ Pengampunan tidak berarti pembenaran. Yesus mengampuni, tetapi juga menegaskan: jangan berbuat dosa lagi. _Ketiga_ Wajah Allah adalah KASIH. Ia tidak menghukum karena Ia Maha Pengampun, bahkan menanggung hukuman kita di salib.
Pesan untuk Kita
Para saudaraku, terkadang kita mudah sekali untuk melempar “batu”, entah berupa: gosip, cibiran, fitnah, ejekan, atau penghakiman diam-diam. Padahal Yesus sendiri mengingatkan kita: “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui?” Juga seperti kata Ebit G. Ade: “Tengoklah ke dalam sebelum bicara. Singkirkan debu yang masih melekat.” Dan ingatlah filosofi lima jari: satu menunjuk orang lain, empat menunjuk diri sendiri. Akhirnya, dunia ini sepertinya tidak butuh lebih banyak batu. Tetapi, dunia butuh banyak tangan untuk menolong, dan HATI yang mengampuni, serta KASIH yang memulihkan. Mari kita belajar untuk berhenti sejenak, sebelum menghakimi, sebab bisa jadi saat kita menunjuk orang lain, Allah sedang menulis dosa kita di tanah. Anugerah Yesus membebaskan kita bukan untuk kembali jatuh, melainkan untuk hidup baru. Itulah kabar baik yang layak kita syukuri dengan hidup yang terus berbenah
Pertanyaan refleksi
1. Apakah saya lebih sering melihat kelemahan orang lain daripada berani mengakui kelemahan diri sendiri?
2. Batu apa yang masih saya genggam: gosip, cibiran, atau penghakiman yang seharusnya saya lepaskan?
3. Bagaimana saya bisa menjadikan pengampunan yang saya terima dari Tuhan sebagai dorongan untuk hidup lebih berbenah dan tidak kembali jatuh?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, sering kali kami begitu cepat menghakimi orang lain, sementara kelemahan kami sendiri tidak kami lihat. Ampunilah kami, dan ajarilah kami untuk menengok ke dalam sebelum bicara, seperti kata Ebit G. Ade. Tolong kami melepaskan batu dari tangan kami, agar yang keluar bukan penghakiman, melainkan KASIH dan PENGAMPUNAN. Biarlah hidup kami terus berbenah, berjalan dalam anugerah-Mu, dan tidak kembali pada dosa. Amin.






