Cerpen  

SIA-SIA

Puisi: Armindo Melkianus Atok

 

 

 

Telah kutanam harapan di tanah yang gersang,
Dengan tangan berdarah dan jiwa yang lapang.
Kutabur cinta seperti hujan di musim kemarau,
Namun tak jua tumbuh, hanya debu yang merunduk pilu.

Kupahat namamu di dinding waktu,
Dengan tiap detik yang kulalui tanpamu.
Kuhafal langkahmu lebih dari doaku,
Tapi kau tetap menjauh, bagai bayang tanpa ragu.

Sia-sia
Itulah namanya: segala jerih dan lelahku
Yang kau campakkan seperti daun gugur
Yang tak pernah sempat dibaca oleh angin rindu.

Telah kutempuh ribuan malam tanpa tidur,
Menanti sebuah kabar, walau hanya serpih kabut.
Kupilih diam demi menjaga damai,
Kubiarkan luka bersarang tanpa suara.

Kau tak tahu, atau memang tak mau tahu,
Bahwa dalam sunyi, aku menua dengan kecewa.
Kata-kata yang dulu kita jalin jadi janji,
Kini hanya benang kusut tanpa arah kembali.

Kau tinggalkan aku di simpang doa,
Antara merelakan atau berharap sia-sia.
Aku bukan pahlawan dalam kisahmu yang agung,
Hanya figuran yang kau hapus tanpa sungguh.

Sia-sia
Cinta ini, pengorbanan ini,
Rindu ini, air mata ini.
Semua menjadi arca patah di altar sepi.

Namun, aku tak akan menyesal pernah mencinta,
Meski hatiku kau robek tanpa kata.
Sebab dari luka, aku belajar makna,
Bahwa tak semua cinta harus saling menjaga.

Dan jika kelak kau temukan cahaya baru,
Ingatlah: ada seseorang yang dulu menunggu.
Bukan untuk dipuji, bukan untuk dikenang,
Hanya untuk kau tahu…
Tak semua yang tulus harus dimenangkan.

Sia-sia, ya
Tapi tidak bagi jiwaku yang telah dewasa.

 

 

Ruteng 24 juni 2025
Armindo Melkianus Atok, kelahiran Lahurus, Atambua, Belu, 29 Mei 2000, Tamat SD 2012, SMP 2015, dan SMA 2018. Berprofesi sebagai Bruder dan sekaligus mahasiswa Bahasa Inggris di Ruteng, Manggarai.