Oleh : Armindo Melkianus Atok
ANGIN sore berbisik lembut di antara pohon-pohon tua yang mengelilingi rumah panggung kayu di desa itu. Di beranda rumah, seorang perempuan tua duduk bersila, jari-jarinya yang keriput dengan lincah merajut sehelai kain songke berwarna emas. Di sudut beranda, seorang gadis muda memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Nenek, mengapa harus merajut songke? Bukankah lebih mudah membeli kain di pasar kota?” tanya gadis itu. Neneknya tersenyum, seolah sudah menebak pertanyaan itu jauh sebelumnya. “Nak, kain songke ini bukan sekadar kain. Ia adalah suara leluhur kita, bisikan mereka yang tertanam dalam setiap helai benangnya. Jika kita berhenti menenun, maka suara mereka pun akan menghilang.”Gadis yang disapa Dinda, terdiam sejenak dan bergumam dalam hatinya, “apa benar, leluhur bisa hadir melalui rajutan songke? Atau mungkin nenekku sedang berhalusinasi? Hmmm…. mungkin saja nenekku lagi rindu sama kakekku, akh… entalah”.
Ditengah lamunan yang panjang itu, ada suara yang tiba – tiba mengagetkan Dinda. “Din tolong ambilin ibu, air putih”. Sembari kaget, Dinda pun bangun dari lamunannya dan bergegas menuju dapur lalu mengambil air putih untuk ibunya. “ini bu, airnya di habisin ya biar sehat”, kata gadis itu sambil mencium pipi ibunya. Ibu Dinda adalah seorang penjahit terhandal didesa itu dan memiki sebuah warung jahit sehingga sangat ramai pengunjung. Dinda pun kembali menemani neneknya yang sedang merajut songke. Sejak kecil ia melihat bagaimana nenek dan perempuan-perempuan desa lainnya sibuk menenun, menyulam, dan merajut dengan penuh kesabaran. Namun kini, semakin sedikit yang melakukannya. Anak-anak muda lebih tertarik bekerja di kota atau menghabiskan waktu dengan ponsel mereka. Bahkan ibunya sendiri lebih memilih menjual kain buatan pabrik ketimbang meneruskan tradisi nenek.
Suatu hari, Dinda diajak ibunya ke kota untuk melihat peluang bisnis yang lebih menguntungkan. Gedung-gedung tinggi, suara kendaraan yang riuh, serta hiruk-pikuk manusia membuatnya merasa kecil dan terasing. Di sebuah toko modern, ia melihat kain-kain songke dijual dengan harga tinggi, namun tanpa kisah yang menyertainya. Tak ada tangan-tangan penuh cinta yang merajutnya, tak ada doa yang terselip dalam tenunan itu. Karena kain-kain songke itu sudah dibaluti dengan kain-kain modern sehinnga terlihat sangat memanjakan mata, namun tanpa makna yang terselip dalam rajutan kain itu. Dinda pun akhirnya memahami apa yang dikatakan neneknya. Cara untuk mempertahankan warisan leluhur yang paling nyata adalah dengan menenun kain-kain songke dan motif-motif asli yang menunjukan kekhasannya.
Ketika kembali ke desa, Dinda menemukan neneknya masih duduk di beranda, kali ini ditemani lampu minyak yang redup. Tangannya tetap lincah, meskipun usianya semakin senja. “Nenek, jika semua orang beralih ke mesin dan melupakan tenunan ini, apa yang akan terjadi?” tanya Dinda dengan suara lirih. Nenek terdiam sejenak, lalu menatap cucunya dengan mata yang lembut namun penuh makna. “Jika kita sendiri yang melupakan, siapa lagi yang akan mengingatnya? Tradisi tidak hilang begitu saja, Nak. Ia hanya menunggu seseorang untuk menyelamatkannya.” Dinda pun terdiam membisu. Seakan-akan kata neneknya tadi telah memutuskan seluruh urat nadinya.
Akhirnya, suara perempuan enam puluhan tahun itu lembut memecahkan langit-langit kamarnya Dinda. Tak ada yang lain selain Dinda dan kata-kata yang hiruk-pikuk di kepalanya. Sebaris suara yang lahir dari rahim yang pedih. Jernih, meski tercampur isak-isak serak. Tatapannya menerawang jauh entah kemana, tertahan sejenak di plafon kamar, sebelum akhirnya menghilang begitu saja, begitu gegas. Lenyap, terbentur bersama suara lolongan anjing tetangga yang begitu menyeramkan. Kamar itu tidak terlalu besar. Nyala lampu begitu tenang, setenang cahaya matanya pagi itu. Dinda menatap kosong pada dinding kamarnya sambil memainkan jarinya. Di antara remang-remang lampu kamar. Bagai menyepuh segala keluh, mengekalkan seluruh ingatan tentang kesunyian, pun segala kata, lalu mengais sisa dari segala nestapa leluhur. “Akh…. mungkin saja nenekku ingin mewariskan tradisi itu padaku”. Dinda pun tersadar dari lamunannya itu lalu beranjak pergi dan membantu ibunya untuk membereskan pesanan dari pelanggan yang sudah selesai dijahit.
Malam pun tiba. Seluruh desa itu seakan membeku dengan guyuran hujan dan suara gemuruh kilat serta sambaran petir yang menakutkan. Dinda yang masih setia dengan kursi kayunya, terus merenung. Pikirannya dipenuhi bayangan masa lalu, cerita-cerita yang didengar dari neneknya, serta suara-suara bisikan yang perlahan memudar di antara reruntuhan tradisi. Dalam hatinya, ia berjanji untuk tidak membiarkan suara itu lenyap begitu saja. Ia pun mulai merapikan selimut hitamnya, dan membenamkan diri dalam pelukan hangat selimutnya lalu tidur dengan sebuah harapan besar yang akan dimulainya saat fajar pagi kembali menyapa.
Malam begitu cepat berlalu, kabut gelap menghilang begitu lekas, berganti pagi, begitu lekas. Suara kokokan ayam begitu ramai memecah sunyi. Dinda yang masih dimanjakan selimutnya pun terbangun lalu merapikan segalanya dan bergegas menuju dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan pagi. Setelah sarapan Dinda langsung bergegas mencari neneknya lalu menyampaikan keinginannya untuk belajar menenun kain songke. Ia mengambil sehelai benang dan mulai belajar menenun, di bawah bimbingan neneknya. Hari terus berganti bersama waktu. Dinda, si gadis kecil itu masih setia pada benang-benang tenunan. Neneknya dengan sabar mengajarkannya, bagaimana proses awal hingga menjadi sebuah tenunan kain songke yang indah dan memanjakan mata. Dengan cepat dan telaten Dinda memahami dan menuangkan semuanya itu pada tenunannya, sehingga Ia pun akhirnya menghasilkan sebuah kain songke yang indah.
Tahun berganti tahun. Waktu mengajaknya tumbuh dewasa, hingga suasana telah berubah. Rumah tua di desa itu terlihat begitu sepi, tanpa suara. Tanpa ocehan-ocohen sang nenek. Berat rasanya untuk meninggalkan desa itu. Sebab, ada begitu banyak kenangan yang masih tersusun rapi pada setiap dinding rumah tua itu. Setelah kepergian neneknya, Dinda terlihat begitu rapuh. Tak berdaya. Separuh jiwanya telah pergi. Kini, ia hanya bersama ibunya. Hidup berdua dalam tuntutan zaman yang begitu menekan, memaksa Dinda dan ibunya untuk meninggalkan desa itu, lalu pindah ke kota untuk memulai kehidupan baru disana. “Nek, aku akan datang lagi, ketika aku sudah sukses menjalankan dan mempromisikan warisan suara leluhur dalam songke ini”. Gumamnya dalam hati, sembari meneteskan air matanya lalu beranjak meninggalkan desa itu.
Hiruk-pikuknya kota mulai membiasakan Dinda untuk terus berproses. Dinda dan ibunya berhasil membuka sebuah warung jahit yang bersampingan dengan pusat pembelanjaan kota itu. Awalnya, warung itu terlihat sepi tanpa pelanggan yang lalu lalang disana. Dinda tidak menyerah, karena Ia yakin suara leluhurnya ada dan hidup bersama tenunan-tenunan songke itu. Ia mulai mempromosikannya melalui media online dengan handphone butut pemberian ibunya itu. Sembari menunggu pelanggan, Dinda terus menenun seperti biasanya. Tiba-tiba, ada seorang ibu, kira-kira berumur lima puluhan tahun, masuk lalu menanyakan hasil tenunan Dinda. Percakapan Dinda dan ibu itu berlangsung begitu lama hingga berakhir pada sebuah kontrak yang ditanda tangani oleh Dinda dan ibu itu. Lalu ibu itu pun meninggalkan warung Dinda.
Keesokan paginya, Dinda bangun begitu cepat, lalu mempersiapkan dirinya dan berpamitan dengan ibunya dan langsung bergegas menuju alamat yang tertera pada kertas kontrak kerja itu. Setibanya disana, Dinda dihantar oleh seorang pria berotot, tinggi dan tegas serta bertuliskan security pada saku bagian kiri, menuju ruangan ibu itu yang adalah seorang kepala dinas kebudayaan kabupaten itu. Ibu itu mempersilakan Dinda masuk dan duduk. Mereka pun mulai berdiskusi tentang hasil tenun yang ditenun oleh Dinda. Ditengah percakapan itu, Dinda diajak berkeliling di sebuah ruangan yang berisikan tenunan songke dengan berbagai jenis motif. Ketika Ia hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba Ia langkahnya terhenti. Matanya terhipnotis.
Disudut ruangan itu tergantung sebuah kain songke yang sangat akrab di matanya dengan motif khas tenunan neneknya. “hmmm… mungkin sama motifnya saja”. Katanya dalam hati. Ibu itu memahami tatapan Dinda yang tertuju pada tenunan itu dan langsung menjelaskan pada Dinda bahwa kain songke itu dibeli dari sebuah desa kecil yang ditenun oleh seorang nenek dan cucunya. Secara detail, si ibu menjelaskan pada Dinda. Dan ketika menyebut nama nenek dan cucu itu, mata Dinda berkaca-kaca dan spontan meneteskan air mata yang mebuat ibu itu kaget. Dinda pun menjelaskan pada si ibu kalau yang Ia temui kala itu adalah dirinya dan neneknya. Si ibu pun langsung memeluk Dinda dan menanyakan kabar neneknya. Dan akhirnya Dinda menjelaskan semua yang terjadi kala itu, dan tujuannya Ia dan ibunya pindah ke kota.
Suara leluhur masih ada dan ia akan memastikan mereka tetap terdengar. Pesan sang nenek masih terngiang. Sembari merenung, Dinda merindukan kehadiran sang nenek saat itu. Berawal dari sebuah tanya jawab yang singkat, akhirnya berakhir pada sebuah mimpi yang sedikit lagi akan menjadi kenyataan. Pertemuan Dinda bersama si ibu tadi telah merubah total kehidupan keluarga kecil Dinda. Gadis kecil yang begitu rapuh, kini terlihat begitu kuat dan semangat. Mimpi yang dulunya, hanyalah sebuah angan kini menjadi ingin yang nyata. “aku akan pastikan, suara leluhur akan kembali terdengar oleh semua orang”. Kata Dinda dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, Dinda kembali ditelpon oleh si ibu untuk menemuinya dikantor. Pertemuan kali benar-benar membawa sebuah perubahan besar dalam hidupnya. Di ruangan beraromakan wangi kain tenun itu, si ibu menyampaikan sebuah project besar yang berkaitan dengan kain tenun songke. Si ibu meminta Dinda untuk mempromosikannya ke dunia di bawah perlindungan dinas kebudayaan kabupaten itu dan akhirnya Dinda pun langsung menerima pekerjaan itu. Singkat cerita, Dinda sekarang telah menjadi seorang duta budaya yang selalu tampil baik dalam negeri maupun luar negeri. Sebuah perjuangan yang berawal dari basa-basi diteras rumah tak berbentuk, akhirnya dapat membawanya pada sebuah jalan yang begitu misteri.
“Jika kita sendiri yang melupakan, siapa lagi yang akan mengingatnya? Tradisi tidak hilang begitu saja, Nak. Ia hanya menunggu seseorang untuk menyelamatkannya.” Ungkapan sang nenek kala itu kini telah menjadi kenyataan. Dinda telah menyelamatkannya. Ia berjuang agar neneknya dapat tersenyum bahagia dari surga. Dan akhirnya, Dinda telah mengingatkan kepada semua generasi muda sekarang bahwa betapa pentingnya kita mewarisi budaya leluhur yang kaya akan makna. Dinda hadir sebagai pahlawan yang diutus para leluhur untuk mempertahan budaya asli yang sudah ada sejak dunia dijadikan.
Ruteng, 25 Maret 2025
Armindo Melkianus Atok, lahir pada tanggal 29 Mei 2000, di sebuah kampung kecil yang terletak dikecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Desa Fatulotu, tepatnya di Kampung Aitemuk (Lahurus). Menamatkan SD di SDK Lahurus II pada tahun 2012, SMPK Lahurus tahun 2015 dan SMKK Kusuma Atambua pada tahun 2019. Setelah selesai menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, Ia langsung memutuskan untuk hidup membiara dalam Ordo Serikat Sabda Allah (SVD), sebagai seorang Bruder misionaris hingga sekarang dipercayakan untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng, Manggarai, dengan program studi Pendidikan Bahasa Inggris.







