Cerpen: Aster Bili Bora
PERKARA masukkan jari di kelamin perempuan sudah jadi kebiasaan Lona sejak kawin dengan Marlina. Entah penyakit apa yang ada dalam diri Lona, berani semalam saja tidak masukin, maka kepalanya jadi gila.
Pernah dua kali Marlina menolak Lona dengan perbuatan anehnya itu. Hari pertama, masih ada pengertian, masih ampun. Tetapi malam berikutnya, rasanya dunia ini mau terbalik. Tidak bisa tahan dan sakitnya luar biasa. Perabot rumah tangga ludes jadi korban pelampiasan. Berapa tahan harus beli ulang-ulang.
Ini bukan masalah uang. Kalau uang, selalu ada saja. Tiap kali ada kasus, kalau pelaku ingin bebas atau mau ringan hukuman penjara, maka sorong lima juta di bawah meja. Mumpung belum pasang CCTV, bebas terima di ruang pemeriksaan perkara.
Setelah anak pertama lulus SMA, Marlina memuncak rasa muaknya. Apa pun yang terjadi, Marlina berani menolak. Masa suami tidak ada kerjaan, hanya pikir masukin melulu. Berani ada yang macam-macam, akan pengumuman, biar anak-anak dalam rumah dan tetangga tahu. Siapa yang malu?
Takut terbongkar, maka Lona bertobat segala, termasuk tobat pakai jari. Memang masih satu, tetapi ada bantal pemisah. Tunggu saja sampai kapan ada perubahan. Kalau seterusnya ada tembok pemisah dalam hati, maka apa salahnya mandi sekali. Berpisah atau mau apa, waktu yang menentukan.
Satu tahun sudah Lona dan Marlina tidak mengalami kehangatan. Hanya karena masih satu rumah, maka disebut suami-istri. Hati dan perasaan keduanya sudah di tempat lain, entah di mana dan kepada siapa.
Sudah berbulan-bulan Lona cari peluang, namun masih saja gagal. Setiap perempuan yang ditemuinya, terlepas dari cantik-tidak, ia main mata. Tetapi tidak ada yang berani balas main mata, karena takut terjebak ranah hukum. Maklum yang main mata seorang polisi yang ditakuti dengan pungutan liar di balik kekerasan.
Karena selalu gagal di luar, maka kembali jinak dalam. Marlina mau bilang munafik, terserah sudah, yang penting dapat dulu. Bagaimana caranya? Marlina sudah sekeras batu, tidak mau peduli lagi pada Lona yang gila jari. Mau pakai modus gaya apa pun, persetan.
Lona seorang polisi pastinya saja ada cara dan gaya tersendiri. Kalau ajak baik-baik tetap dingin seperti es batu, maka harus dengan kekerasan. Secara diam-diam Lona amati perubahan kelakuan dan modus operandi sang istri. Pergerakan Marlina makin mencurigakan. Pasti ada pria idaman lain, kata Lona dalam hati.
Mungkin saatnya Marlina sial. Tidak ada hujan angin, bisa saja Marlina lupa Handphone. Kesempatan itulah dimanfaatkan Lona untuk membongkar rahasia perselingkuhan. Lona buka HP dan sangat beruntung Marlina belum ganti kode pengaman.
Wah, ternyata kejam juga sang istri. Disangka suci, ternyata istri selingkuh kiri-kanan. Semoga saja hanya sebatas VCS. Melalui chat yang belum dihapus, terbaca dengan jelas bagaimana panasnya hubungan cinta Marlina dengan Robinson. Marlina chat duluan.
“Hallo sayang. Semoga sayang sehat selalu dalam kasih Tuhan. Kalau sayang mau VCS sekitar jam 9 pagi ke atas, sebelum suami pulang.”
Dalam hitungan 2 menit Robinson balas.
“Ok, sayang. Kakak tidak tidur semalam gara-gara VCS. Soalnya nikmat banget dengan Adik telanjang bulat tanpa selembar baju yang tutup.”
Lona emosi luar biasa sampai geraham bunyi, tetapi penasaran sekali mau tahu lebih dalam seperti apa dan bagaimana Marlina dengan Robinson. Ia buka vidio, dan untungnya belum hapus. Aduh.., memalukan sekali. Dalam posisi telanjang bulat Marlina kocok-kocok kartu di depan Robinson yang juga sedang kupas-kupas ubi.
Ketika malam tiba, Lona minta jatah. Jari tengah Lona gatal tak tertahankan, dan obatnya ada di Marlina. Tetapi Marlina tetap membelakang, tidak peduli siapa kau. Lona keluar dari kamar dan duduk di teras samping depan Naga Dua. Dengan tangan gemetar Lona buka HP lalu lihat ulang VCS Marlina dengan Robinson. Dengan luka hati belum ada obat, Lona kirim vidio tersebut kepada Marlina.
Ketika kembali ke kamar untuk sekali lagi minta jatah, Marlina dalam keadaan pingsan. Sial, kapan gatal sembuh kalau sudah begini. Tetapi Marlina bukan sedang berpura-pura, ia pingsan benaran karena perbuatan maksiat yang ditutup rapat-rapat, kini terbongkar di mata suami.
Seminggu kemudian setelah tubuh Marlina kembali prima, Lona tidak tobat-tobat minta jatah. Awalnya Marlina menolak dengan bibir komat-kamit. Tetapi dengan gertak sambal bahwa vidionya akan dibuka di publik, maka Marlina kehabisan alibi. Ia buka segalanya, dan terserah Lona mau bikin apa. Inilah malam pertama Lona menghapus dendam dengan jari tengah yang tak pernah bosan dan tak pernah lelah berada di posisi yang diinginkan. Demikian pula malam-malam berikutnya atau kapan saja ada kesempatan, jari Lona sudah pasti menemukan obatnya.
Enam bulan Jari Lona beroperasi, Marlina mengalami sakit kelamin dengam tanda benjolan, nyeri, gatal, dan perdarahan yang tidak biasa. Sudah sakit makin parah, heran Lona tidak tobat-tobat minta jatah. Jari tangan apa memang yang tidak pernah sembuh dari gatal.
Karena gatal yang tak tertahankan lagi, maka Marlina konsultasi dengan dokter ahli kulit dan dokter ahli kelamin. Melalui pemeriksaan lengkap, terungkap bahwa Marlina dalam serangan tumor kelamin. Menurut dokter, tumor kelamin tersebut akibat dari kurang jaga kebersihan kelamin atau juga akibat dari penggunaan parfum kecantikan kelamin.
Tumor Marlina terpaksa mengakhiri nasib jari nakal Lona. Semoga saja berakhir tidak saja di dalam tetapi juga di luar rumah. Seandainya belum sembuh juga gatalnya, maka mau bilang apa. Daripada sedih yang tidak ada guna gana, Marlina dalam sakit yang kian parah lebih banyak pasrah diri.
Dua tahun Marlina bertarung melawan tumor kelamin. Pengobatan sudah sampai luar daerah dengan biaya yang tidak sedikit. Namun hingga kini belum ada tanda kesembuhan. Badan Marlina tambah kurus dan kecintikan yang jadi kebanggaan di masa muda kini sirna tanpa sisa. Banyak pihak mengira-ngira, bukan sumpah, tidak lama lagi Marlina sudah tiada. Namun dari pihak Marlina sendiri, ia masih sangat yakin ada keajaiban di kala sudah pupus segala harapan. Asalkan, katanya, tetap ada dukungan psokologis dari semua pihak, terutama suami tersayang.
Sialnya harapan Marlina tidak sejalan dengan kenyataan. Marlina berharap dukungan suami, sementara suami sendiri berpikir kapan Marlina mati. Bagi Lona, istri yang sedang sekarat jadi penghambat kebebasan bercinta. Hanya saja supaya jangan nyata kebenciannya pada Marlina, Lona berpura-pura cinta di depan Marlina. Tetapi kalau sudah di luar rumah, lebih-lebih setelah tugas piket di Polsek, buaya daratnya keluar habis.
Buaya daratnya kini terbongkar di publik. Awalnya tidak ada satu setan dua binatang yang tahu karena Lisa, korban pemerkosaan oleh Joboka, tutup mulut. Tetapi alam bertindak lain sehingga pada malam yang kedua setelah kejadian di Polsek, Lisa mengigau panjang dan apa saja yang dikatakan dalam mengigau direkam dengan jelas dan terang dari kamar sebelah oleh tantenya.
Ketika bangun pagi, Lisa didesak untuk mengungkap secara jujur dan terbuka apa sesungguhnya yang terjadi dengan Pak Polisi yang bernama Lona. Lisa menggeleng kepala, tetapi mulut berat untuk berkata. Didesak-desak, tetap geleng kepala. Saking emosi, Tante buka rekaman.
“Tolong..! Tolong..! Sakit..! Sudah darah…! Kejam, Pak Lona masukkan jari di saya punya…”
Di akhir vidio, Tante tanya, “Itu suara siapa yang teriak mengigau?”
Dengan kepala tertunduk lesu, Lina menjawab sambil menangis pilu, bahwa suara itu suaranya.
“Ada apa dengan Pak Lona?”
“Dia kasih masuk jari di saya punya…”
Tanpa bertanya lebih jauh, Tante langsung kontak beberapa wartawan senior. Dalam hitungan 2 jam wartawan berada di lokasi dan wawancara langsung dengan korban. Salah satu wartawan senior tetapi nakal mewakili wartawan lain tanya korban.
“Bagaimana cerita awalnya hingga terjadi pelecehan seksual terhadap Nona?”
“Kemarin malam saya dijemput oleh Pak Lona untuk ke Polsek. Katanya untuk lengkapi keterangan. Sampai di Polsek di kamar tertutup rapat, saya ditanya oleh Pak Lona, apa betul Joboka perkosa. Saya jawab, betul. Kemudian, Pak Lona bilang lagi, permisi ya, saya buka engkau punya baju. Lalu ia buka seluruh baju saya. Saya telanjang bulat. Setelah itu, Pak Lona bilang lagi, permisi ya. Pak Lona masukkan jari di saya punya…Dia kocok sangat keras sampai darah saya punya..”
“Berapa lama polisi masukkan jari?” Tanya wartawan .
“Lama sekali, sekitar 80 menit.”
Wartawan terkejut dan sedikit heran ketika itu. Pelecehan seksual begitu lama melebihi batas kewajaran, dan bahkan lebih lama dari petani yang garap kebun keladi belakang rumah. Kemudian wartawan lanjut bertanya.
“Setelah itu, pelaku bilang apa?”
“Setelah habis semua-semua, Pak Lona bilang, jangan beri tahu siapa-siapa ya! Kalau sampai ada satu setan dua binatang yang tahu, maka senjata di meja yang makan.”
Setelah konfirmasi dengan Kapolres tentang pelecehan seksual yang dilakukan salah satu anggota, maka pada hari yang sama kasus Lisa-Lona viral dan terbaca jutaan orang, termasuk istri-anak pelaku. Marlina yang sudah sekarat dengan penyakit tumor seakan terjatuh ditindih tangga pula. Ia frustrasi dan memilih untuk mati. Setelah toleh kiri-kanan dan tahu tidak ada yang melihat, Marlina bangun perlahan-lahan dan mengambil sebilah pisau tajam di atas meja.
Tambolaka, 9 Juni 2025
Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya. Karya-karyanya terbaca di berbagai koran dan majalah, baik cetak maupun online.Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2021), Laki yang terbuang (2021). Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: 1) Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 2) Tanah Langit NTT tahun 2021, 3) Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru Berkesan Tak Lekang Dari Ingatan tahun 2022, Geliat Literasi Mencerahkan Hati tahun 2023, Cambuk Kehidupan tahun 2023, Peribahasa 2 tahun 2025.







