EXPONTT.COM, KUPANG – Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Nusa Tenggara Timur (IDI NTT) menggelar pelatihan Basic Life Support atau bantuan hidup dasar (CPR) bagi aparatur sipil negara (ASN) lingkungan Pemerintahan Provinsi NTT, Jumat, 18 Juli 2025.
Mengangkat tema Everybody Can Do CPR, pelatihan diikuti 150 ASN ini dilaksanakan di Aula El Tari Kupang dan menjadi yang perdana dilakukan IDI NTT dan Pemprov NTT.
Diisi oleh para narasumber profesional dari kalangan dokter, para peserta nampak antusias mengikuti pelatihan dengan materi teori dan praktek.
Wakil Ketua IDI Wilayah NTT dr. Syeben Hezer, Sp.PA, menjelaskan, kegiatan pelatihan CPR ini digagas IDI NTT sebagai respons terhadap maraknya kejadian henti jantung mendadak di ruang publik.
“Kami ingin masyarakat dibekali dengan kemampuan dasar untuk menangani pasien dengan henti jantung. Target awal kami adalah pelatihan kepada ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT,” jelasnya.
dr. Syeben menyatakan, IDI NTT juga terbuka bagi instansi-instansi pemerintah untuk melakukan pelatihan serupa.
Dalam waktu dekat, lanjut dr. Syeben, IDI NTT juga akan melaksanakan pelatihan untuk ASN di lingkungan Pemerintah Kota Kupang. “Kemarin pertemuan dengan Pak Wali Kota, beliau minta 300 ASN dilatih,” ujarnya.
Selain sebagai kegiatan sosial, pelatihan ini juga menjadi bagian dari rangkaian menjelang Musyawarah Cabang IDI yang akan digelar awal September mendatang.
dr. Ronal Melviano, Sp.An-TI, yang menjadi salah satu pembawa materi dalam pelatihan mengatakan, kejadian henti jantung bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja, untuk itu IDI NTT, ingin seluruh masyrakat bisa mengetahui cara untuk memberikan pertolongan pertama.
Berdasarkan data, lanjut dr. Ronald, angka kematian di Indonesia akibat henti jantung cukup tinggi prosentasenya. “Untuk di NTT sendiri, meski datanya masih kurang akurat, namun dengan budaya makan daging dan minuman keras, memilki risiko kejadian henti jantung yang tinggi,” katanya.
Untuk itu, dirinya berharap dengan pelatihan CPR semua masyarakat memilki pengetahuan dan kemampuan untuk memberikan pertolongan kapan dan dimana saja.
“Sehingga pertolongan bisa diberikan oleh masyarakat awam, supaya tidak terjadi lagi kematian yang sebenarnya bisa ditolong akibat henti jantung,” pungkasnya.♦gor








