Cerpen: Aster Bili Bora
Sudah1001 malam Monika minta kenikmatan, namun kenikmatan yang ia minta belum ia dapatkan dari suami yang selalu dipanggil Bapa. Sekarang ia sudah bosan dan kelelahan meminta. Ia berhenti meminta, dan ia minta suaminya dibuang.
Bapa mati! Dikubur dengan biaya gila.Jangan bertanya mengapa. Itulah budaya! Orang bawa untuk orang mati, bukan untuk orang hidup.Kalau boleh bantai semua, tanda sayang orang mati. Orang hidup bayar utang dengan kekuatan doa orang mati. Tidak ada yang mati karena utang kubur orang mati.
Alam bawah sadar Monika berbisik demikian. Makanya ia tidak hitung-hitungan ketika mengubur suaminya. 15 kerbau dan 20 babi ia bantai semua karena prinsipnya, orang bawa untuk orang mati.Ada pun nanti Monika yang ganti, bukan soal. Semoga Bapa sediakan berkat yang istimewa.
Setelah seminggu Bapa dikubur, Monika ketakutan kalau ada yang mati. Ia tidak mau ada yang mati, dan dia berdoa supaya jangan ada yang mati, terkhusus dari keluarga yang sudah lebih dahulu tanam kebaikan. Sebab kalau ada yang mati, pengeluaran lagi: beli kerbau, sapi, atau babi.
Tidak gampang mengubur orang mati. Untung kalau ada isi kadang. Harap beli melulu, harus ada isi tas. Bermodalkan integritas, tidak pakai. Apa boleh buat? Kematian bukan karena doa tidak terkabul. Memang mati sudah jadi takdir dan tidak seorang yang tahu kapan ia mati. Kalau sudah tiba saatnya mati, maka pasti mati. Tidak ada yang sanggup menahan angin. Itulah yang terjadi, setelah 6 bulan Bapa mati, Gusti juga mati. Inilah giliran yang pertama bayar utang. Untungnya masih ada tabungan 400 juta. Tinggal tarik 50 juta beli kerbau. Maklum tidak ada sumbangan yang gratis. Yang kecil-kecil mungkin orang lupa. Tapi yang nilainya puluhan juta? Janganlah pernah lupa! Dalam utang kematian ada utang budi yang menyatu langsung dengan rasa, harga diri, dan status sosial.
Belum sebulan Gusti mati, Yuli mati juga. Astaga! Nasib apa memang yang begini? Ini giliran yang kedua. Tidak bisa mengelak, apa pun alasannya. Kontribusi keluarga Yuli sangat besar. Harus balas 1 kerbau 1 babi. Monika tarik lagi 70 juta. Untung saja ada. Kalau tidak, janda sebatang kara masuk penjara bodoh-bodoh.
Dikira kematian Yuli yang terakhir, Monika beli barang mewah penambah kecantikan. Ia tarik 30 juta untuk biaya kalung leher, gelang tangan, anting, cincin, gelang kaki, dan busana pesta yang kelas. Harap maklum Monika baru kepala lima, perasaan ingin tampil sedang naik daun.
Di luar dugaan tahun berikutnya terjadi kematian beruntun dari 6 keluarga yang dulu membawa kerbau dan babi kepada Monika. Ya,suka tidak suka haru sganti, dan itu berarti uang lagi. Akhirnya sisa tabungan 250 juta harus tarik semua. Itu pun belum cukup untuk beli 5 kerbau dan 5 babi. Terpaksa Monika gadai seluruh perhiasan yang belum satu tahun ia pakai. Selain itu Monika ambil kredi tbank 100 juta selama 5 tahun.
Sejak itulah Monika kepepet luar dalam. Ia hanya bisa bertahan hidup dengan sisa gaji 400 ribu/bulan. Untuk kebutuhan lain, termasuk biaya bibir merah dari mana lagi dapatnya?
Rumah mewah 160 M2 dan tanah 10 hektar di jalur pantura jadi taruhan terakhir. Ia berhak jual dan tidak ada yang berani larang karena sudah amanat kematian suaminya.
“Monika, apa yang engkau cari di dunia ini? Engkau tidak ada anak kandung, engkau hidup sebatang kara. Juallah semua harta, daripada nanti jadi barang rampasan dari orang yang mungkin saja tidak pernah berkontribusi dalam hidupmu.”
***
Promosi jual rumah dan tanah milik Monika sudah jadi informasi publik melalui media sosial, agen properti, dan juga melalui teman-teman guru. Tinggal tunggu, siapa yang berminat datang negosiasi. Semoga Tuhan tolong, sehingga dalam waktu singkat ada pembeli yang siap bayar. Maklum kepepetnya kelewat batas. Sudah telanjang badan tanpa hiasan tambah pula kurang gizi. Bagaimana bisa gizi? Beli beras satu potong saja masih pinjam. Gali lubang tutup lubang. Sadis hidup Monika, ASN. anggota PGRI! Makanya tidak berlebihan kalau setiap malam Monika bersembah sujud kepada suami dan berbicara dalam kepasrahan yang total.
“Bapa, selama engkau hidup, saya tidak pernah menderita. Apa saja yang saya minta, engkau penuhi. Biar saya marah dan kadang berkata tidak senonoh, Bapa tidak membalasnya dengan umpatan dan caci maki. Tetapi justru Bapa tanggapi dengan tenang dan senyum manis nan indah.
Bapa, sekarang saya sudah sangat menderita. Anting, gelang, kalung, dan segala macam perhiasan yang mahal sudah di pegadaian. Engkau lihat sekarang, saya perempuan telanjang badan tanpa hiasan diri.Mau tebus, tebus pakai apa? Uang tidak punya. Untuk hidup hari-hari, harap bantuan saudara tiap kali panen padi sawah.
Bapa, sebelum engkau mati, engkau sudah pesan supaya semua harta sebaiknya dijual daripada jadi barang rampasan setelah kita mati. Saya minta dari relung jiwamu yang terdalam: tolong buka jalan supaya dalam waktu yang singkat ada pembeli yang siap bayar.”
Bapa tersenyum manis dan indah. Monika menatapnya dalam gairah cinta yang bergelora. Ia mendaraskan ciuman mesrah tiga kali sebagai ungkapan cinta yang tidak mudah patah sekalipun didera angin topan.
Setelah satu bulan meminta dan terus meminta,akhirnya agen properti bernama Atu datang survei lokasi. Ia potret rumah dari luar,potret luas tiap kamar, mencatat luas bangunan dan luas seluruh lokasi. Seusai minum kopi buatan Monika, Atu melakukan penawaran berdasarkan data dan peta lokasi.
“Bos minta bantuan untuk survei dan sekalian melakukan penawaran awal. Tadi tercatat luas bangunan 160 M2 dan luas lahan 3500 M2. Kira-kira buka harga berapa?”
“3 M.”
Mendengar bunyi 3 M, Atu antara percaya dan tidak. Ia geser pantatnya dan bersandar di sofa. Pandangannya menerawang seakan sedang menghitung harga minimal berdasarkan informasi Nilai Jual Objek Pajak yang diperolehnya dari Dinas Pendapatan.
“Bagaimana kalau 300 juta?” Monika terkejut dan spontan marah
“Pak ini datang beli atau pak datang olok saya? Cara berpakainya pengusaha kaya raya, tetapi tawar tidak pakai nurani! Engkau pikir rumah ini dibangun dengan biaya berapa? He, supaya kau tahu, jangan karena saya janda sebatang kara, kau anggap saya terlalu bodoh. Kau tawar milik saya 300 juta lalu kau jual dengan 5 M. Kau bahagia saya menderita. Tidak pakai rasa! Saya boleh hargai dan izinkan kau masuk keluar kamar, ternyata kau bukan manusia.”
Kepala desa entah dari mana ketika mendengar teriakan tidak bersahabat, ia mampir di rumah Monika. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana Monika marahi tamu yang sesungguhnya pembawa rezeki,kalau bukan hari ini mungkin esok,sebab orang bijak selalu katakan: setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya.
“Coba tenang, dan bicara baik-baik saja. Tidak harus ribut dan teriak baru selesai masalah.”
“Tidak, Bapak Desa. Pak Atu bikin emosi. Biaya bangun rumah sudah 500 juta, datang tawar 300 juta. Dia anggap saya terlalu bodoh barangkali.”
Kepala Desa menatap wajah Atu dengan main mata. Atu menangkap maksudnya, bahwa kehadiran kepala desa hanya sekadar menenangkan dan memuaskan perasaan Monika.
“Ya, biar siapa pasti tersinggung. Tapi, sudahlah, lain hari dapat berkat yang sesuai harapan. Hari ini tidak jodoh, di lain waktu pasti jodoh meski bukan pada orang yang sama. Kira-kira begitu, Pak Atu?”
“Ya, Bapak Desa. Siap salah! Mohon maaf, Ibu!” Atu membawa langkahnya dan menyalami Monika sebagai tanda mohon maaf.
Ketika Atu dan Kepala Desa pulang, Monika kembali duduk di ruang tamu. Ia menatap gelas kopi yang disuguhkan kepada Atu. Tiba-tiba emosinya kembali bangkit dan hatinya mengumpat.
“Coba tahu kurang ajarnya, maka tidak harus rugi satu gelas kopi. Habis tauboka omong tidak pakai rasa. Harap saja sekolahnya anga-anga. Seandainya ia sarjana dengan caranya yang tidak jaga etika, maka sangat disayangkan. Nilai lebih apa yang akan ditiru orang kampung?”
Walaupun banyak tantangan dan cobaan, Monika tetap semangat promosi melalui media sosial, organisasi PGRI, dan juga melalui pihak tertentu yang dinilai berpotensi dalam hal jual beli properti. Selain itu, di depan rumah dipajang papan promosi:
Jual rumah mewah di jalur 30 dan tanah 10 hektar di jalur Pantura.Tlp/wa: 081392422015
Dengan membaca promosi penjualan depan rumah Monika, Bos salah satu LSM yang berkantor pusat di Jakarta mengutus Jhon Doma dan Melk iuntuk negosiasi harga. Mereka kendarai mobil mewah jenis Fortuner keluaran terbaru, berpakaian necis, dan mengenakan sepatu hitam mengkilat kelas atas. Setelah snack, Jhon Doma buka bicara dengan basa basi perkenalan singkat.
“Sudah satu minggu keliling untuk survei. Semuanya tidak ada yang layak, kecuali rumah dan lokasi ibu di sini yang masuk kategori area perkantoran. Lembaga kami bergerak dalam pembangunan rumah layak huni gratis bagi masyarakat ekonomi lemah. Rumah yang dibangun ukuran 48 M2 tipe permanen dengan biaya minimal 50 juta rupiah. Warga yang berminat ajukan permohonan dengan biaya pendaftaran Rp 2.000.000,00.”
“Daftarnya di mana?”
“Ya, di kantor,” jawab Jhon Doma atas pertanyaan Monika. Melki, salah satu anggota tim ikut memberikan penjelasan.
“Kegiatan pelayanan Rumah Layak Huni Gratis, termasuk setoran biaya pendaftaran, semuanya terpusat di kantor cabang di bawah pengawasan Korordinator Wilayah. Sekarang sudah puluhan ribu bakal calon penerima manfaat rumah layak huni yang antri untuk daftar. Cuma pendaftaran belum dilakukan karena belum ada kantor. Makanya kami temui ibu untuk negosiasi berapa harga yang akan disetujui bersama.”
“Baik, Pak. Saya tidak minta mahal. Saya janda sebatang kara mohon dibantu 4 M.”
Jhon Doma dan Melki saling melihat dan juga saling bertanya dalam hati siapa hendaknya yang berhak menjawab. Dalam kapasitas korwil, Jhon Doma akhirnya lakukan penawaran.
“Bagaimana kalau 3 M?”
“Apa kontan?”
“Lembaga akan membayar harga rumah mewah dalam dua tahap. Pembayaran tahap 1 sebesar 2 M, dan tahap 2 sebesar 1 M.”
Setelah timbang-timbang, Monika akhirnya setuju 3 M. Sebagai ikatan Tim kontribusi 2 juta di luar 3 M, dan Monika ikat balik dengan cindera mata satu lembar kain tenun motif Sumba Timur. Pihak pembeli berjanji menyerahkan uang pembayaran tahap 1 setelah 2 bulan dari sekarang.
Setelah Tim pulang, Monika masuk kamar berbagi suka cita dengan orang yang sangat menyayanginya.Ia peluk cium dan berbicara penuh gairah cinta kepada suaminya.
“Terima kasih, Sayang. Saya bangga padamu. Engkau mulia hati, sabar, dan penolong setia dalam suka dan duka. Bapa dukung doa supaya dalam kuat kuasa Tuhan, rencana pembelian rumah oleh pihak kedua jadi kenyataan.”
Dalam proses menunggu realisasi pembayaran, Monika makin mendekatkan diri pada Tuhan. Siang dan malam ia ekspresikan rasa bangga dan bahagianya dengan bernyanyi lagu- lagu rohani. Juga tidak henti-hentinya setiap malam ia meminta dan terus meminta kenikmatan hidup dari suaminya dengan cara yang istimewa: bersembah sujud dan mencium mesrah tiga kali. Selain itu, ia mulai pula eksekusi pembangunan rumah mewah ukuran kecil sebagai pengganti rumah mewah yang siap dibayar dua bulan ke depan. Begitu pula anggota keluarga terkait dengan penuh semangat membantu Monika bersihkan lokasi rencana bangunan baru, kumpulkan batu karang, dan sensor beberapa pohon jati persiapan kusen pintu dan jendela.
Tidak kalah pula sibuknya, satu minggu sebelum jadwal pembayaran, Monika melakukan pembersihan rumah luar dalam, termasuk mencat bagian tembok yang usang. Selain itu Monika juga secara bertahap kosongkan beberapa ruang kamar dengan memindahkan almari ke rumah orang tua yang jaraknya 30 km dari pusat kota.
Di tengah-tengah kesibukan beres-beres rumah, Monika dapat telpon dari Korwil Jhon Doma dengan informasi singkat padat
“Pembayaran harga rumah mewah tahap 1 sebesar 2 M dilakukan minggu depan, tepatnya hari Senin, tanggal 20 April, pukul 12.00 wita.”
Seusai terima telpon, Monika goyang-goyang pantat, menari tanpa irama gong. Joni, saudaranya yang sedang membaca Suara Samudra, novel best seller karya Maria Matildis Banda, kaget dan bertanya:
“Ada apa denganmu?”
“Senin depan terima 2 M. Betapa nikmat, ango.”
Karena saking bahagia, Joni juga bangun goyang-goyang badan. Monika tambah semangat. Ia tidak hanya goyang-goyang, tetapi pakalaka tana mema. Beberapa yang lain tidak mau kalah. Ikut-ikutan goyang karena dengan realisasi transaksi, mereka kecipratan upah kerja dan uang harga jati yang belum dibayar.
Sehari sebelum jadwal transaksi Monika mengundang dua anggota polisi, kepala desa, dan camat untuk menyaksikan pembayaran dan mengawal setoran ke kantor bank. Sesuai undangan Senin 20 April, pukul 10.00 telah hadir undangan itu di rumah Monika. Dua jam lagi saat yang ditunggu-tunggu terima 2 M. Tamu dari Jakarta semoga diberikan kemudahan oleh Allah dan bisa hadir tepat waktu di rumah Monika. Beberapa ibu tetangga dan anggota keluarga sedang hiruk pikuk menyiapkan makan siang bagi tamu yang sudah ada dan tamu yang bakal tiba. Dua ekor bebek, 4 ekor ayam kampung, dan 2 ekor ikan bakar jadi menu spesial siang itu. Mau pilih yang mana, silakan mana suka.
Jam menunjukkan 11.30. Tidak lama lagi tamu akan tiba. Kalau pesawat sudah kelihatan dari jauh dan meraung-raung di atas bubungan rumah, maka tamu sudah siap-siap landing. Setelah mereka tiba, maka langsung mulai acara:penandatanganan dokumen, transaksi keuangan, arahan camat, makan siang, dan terakhir Monika bersama rombongan berarak setor uang ke kantor bank. Monika tidak mau lama-lama pegang uang. Janda sebatang kara, tidak ada anak, rumah jauh dari tetangga takut kebobolan. Memang selama ini aman tidak ada pencurian. Tetapi ketika mendengar janda Monika sudah jadi miliarder, kawan terdekat saja bisa jahat. Karena itu Monika ekstra hati-hati. Kawan si kawan curiga jalan terus.
Lagi 10 menit jam 12.00 HP Monika berdering. Korwil Jhon Doma yang telpon. Monika tergesa-gesa menerima dan mendengarkan dengan saksama isi pesannya.
“Mohon maaf, beribu maaf. Tadi saya dan Bos sudah transit di bandara Ngurah Rai pada jam 10 pagi. Tiba-tiba Bos dapat undangan dari Menteri Keuangan via telpon untuk hadiri rapat penting di istana presiden pada jam 14.00. Karena itu, Bos terpaksa balik Jakarta. Bos janji besok sudah pasti ke tempat Ibu untuk urusan transaksi.”
Monika buang HP di atas meja. Hatinya sebal, kesal, dan kecewa.
“Kalau memang tunda, mengapa tidak info lebih awal? Sudah persiapan konsumsi dan tamu undangan sudah lama ada, baru daikaboka. Siapa lagi yang akan makan persiapan begitu banyak? Sangkanya bukan uang yang keluar? Tidak apa-apa, sial ada memang. Semoga besok jadi nyata.”
“Bagaimana?”
“Aduh, mohon maaf Bapak Camat dan Bapak-bapak semuanya. Bos dapat telpon untuk hadiri undangan di istana, maka akhirnya balik Jakarta setelah transit Ngurah Rai. Besok sudah pasti, tidak ada penundaan lagi. Mohon berkenan kita bertemu lagi jam 10.00 pagi.”
“Siap!”
Tamu undangan bersedia hadir lagi keesokan hari. Setelah makan siang dengan menu istimewa, mereka balik arah ke tujuan masing-masing. Di belakang tamu, Monika kembali berpikir pinjam uang di mana lagi untuk biaya konsumsi esok hari. Biaya hari ini sudah modal pinjaman dari seorang teman dengan janji lipat bayar. Sekarang bayar pakai apa? Sial! Semoga Tuhan tolong!
Dalam keheningan malam Monika menyerahkan seluruh bebannya kepada suami tercinta. Dengan bersembah sujud dan dengan ciuman mesrah tiga kali ia minta suami mendukung dalam doa supaya transaksi keesokan hari berjalan dengan mulus tanpa hambatan.
“Bapa, engkau tidak inginkan saya malu ulang-ulang. Engkau pasti sedih kalau saya menderita begini. Utang penuh pantat. Saya sudah tidak berdaya. Saya minta dan terus minta Bapa datangkan pembeli esok hari.”
Sesudah berbicara kepada suami, mata Monika berkunang-kunang. Mudah-mudahan bukan vertigo yang kumat. Mungkin kelelahan saja karena sudah beberapa malam raganya yang istirahat tetapi otaknya tetap aktif bekerja membayangkan uang 2 M yang bakal diterimanya. Malam ini semoga otaknya ikut tidur. Ia berbaring dan tanpa maunya ia tertidur lelap. Menjelang subuh Monika bermimpi indah
“Gubernur bertamu di rumah Monika. Keduanya berjabatan tangan. Tangan gubernur dingin sekali. Ketika foto bareng, Monika menampilkan senyum yang mempesona. Gubernur enggan pulang.”
Ketika bangun pagi, semangatnya bernyala-nyala. Sudah pengalaman, kalau mimpi ada orang besar yang masuk rumah, maka rezeki dan berkat limpah-limpah. Monika sangat yakin, bahwa hari ini 2 M dalam tangannya. Tidak bakalan meleset. Karena itu, ia tidak mau rem-rem. Ia korban lagi, menyiapkan menu yang jauh lebih enak dari kemarin. Empat bebek dan 6 ayam kampung tumbang.
Sesuai undangan, tepat jam 10.00 kepala desa, camat, dan 2 anggota polisi hadir di rumah Monika. Mereka bincang-bindang di ruang tamu, sedangkan Monika mengawasi persiapan konsumsi di dapur. Hanya sesekali Monika bersama tamu manakala ada hal penting yang akan ditanyakan.
Jam 11.30 HP Monika berdering. Terbaca nama Jhon Doma. Monika angkat dan mendengarkan berita penting dari seberang.
“Maaf, beribu maaf. Bos reaktif covid 19 berdasarkan tes rapid antigen di bandar udara. Terpaksa batal keberangkatan dan Bos diwajibkan isolasi mandiri selama 14 hari. Kedatangan kami untuk transaksi pembelian rumah akan disampaikan kemudian setelah pemeriksaan ulang dengan hasil negatif.”
Monika matikan HP dan menuju ke kamar tidur. Ia melihat badannya di cermin: loyo, pucat, sedih, kecewa,dan benci. Alam bawah sadarnya marah, dan marah.
“He, kau jangan begitu! Tamu datang bukan untuk mendengar keluh-kesah derita dan sakit hatimu. Mereka datang untuk mendengar cerita sukses seorang janda menata hidupnya.”
Monika tampil semangat dengan wajah yang ceria. Para tamu ikut semangat karena dengan realisasi transaksi penjualan rumah, sekurang-kurangnya Monika akan memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih menyaksikan dan mengawal setoran uang ke kantor bank. Tetapi ketika ia menyampaikan berita penundaan dengan alasan Bos positif Covid 19, mereka jadi kagum betapa hebatnya Monika membungkus kekesalannya dengan kebanggaan melalui gestur yang ceria.
Seperti lazimnya dalam keheningan malam Monika bersembah sujud dan mencium mesrah suami tiga kali. Ia tidak patah arang walaupun sudah gagal berkali-kali. Ia meminta dan terus meminta suaminya memberikan yang terbaik dalam hidupnya.
“Bapa, saya sudah tidak berdaya. Utang sudah jadi bukit. Kasihanlah saya ini: janda telanjang badan tanpa perhiasan. Anting, kalung, dan barang mewah lain sudah di pegadaian. Saya minta cintamu yang suci murni. Panggil pembeli yang siap bayar harga rumah dan tanah kita. Saya tunggu, Bapa e..”
Menghitung hari menunggu sukses. Sudah lewat 14 hari masa isolasi Bos yang reaktif covid 19.Jhon Doma belum telpon lagi. Apa Bos gawat darurat? Seminggu kemudian setelah masa isolasi, bukan lagi Jhon Doma yang telpon melainkan, Eman, salah satu keluarga Sumba yang ada di Jakarta. Ia menyampaikan, bahwa Emy, Bos salah satu Lembaga Sosial Masyarakat bersama Koordinator Wilayah, Jhon Doma ditahan pihak keamanan karena kasus pungutan liar (Pungli) 20 M biaya pendaftaran dari 10.000 bakal calon penerima bantuan Rumah Layak Huni Gratis yang tersebar di seluruh provinsi. Dua hari kemudian juga terbaca berita di media tentang pungutan liar 20 M yang dilakukan Emy dan Jhon Doma dengan modus biaya pendaftaran RLHG ukuran 48 M2 tipe permanen.
Sejak itulah Monika benar-benar patah arang. Pekerjaan meminta dan terus meminta kenikmatan dari suaminya sia-sia belaka. Sekarang ia sudah bosan meminta dan berhenti total meminta. Suami dianggapnya tidak punya nurani lagi. Suami dianggap pengkianat yang berpura-pura baik selama masih hidup.
Monika tumpahkan sakit hatinya dengan menghancurkan seluruh bingkai foto suaminya.Juga pakaian suami yang tersimpan rapi di almari termasuk jas kelas, ia tarik buang di lantai. Emosinya belum juga sirna. Ia masuk dari kamar ke kamar menyapu serpihan bingkai kaca, mengumpulkan foto, pakaian suami, dan menyatukannya dalam satu dos besar. Dos diikat rapi dengan tali rafia. Sebelum suami dibuang dari tebing ke jurang yang dalam, di atas dos Monika tulis ucapan perpisahan yang terakhir:
“Selamat jalan laki tak berguna.”
***
Rumah mewah tak bertuan. Ditinggalkan lama dihuni tokek dan cicak. Sepi dan gelap gulita. Monika pulang kampung. Tugas mengajar diabaikannya. Ia mau jadi orang kampung yang tidak berpikir soal bibir mewah dan pepsodent. Ia mau hidup dengan orang yang menderita, jujur, dan polos, tetapi punya hati yang tulus untuk mengasihi, menghargai, dan menghormati.
Sudah tiga bulan Monika tinggal di kampung. Merenda masa depan di kebun cabe, mengukir hidup aman di sawah-ladang. Tidak pikir apa-apa lagi, tidak pikir siapa-siapa lagi. Ia sebatang kara, kerja apa adanya menyambung hidup sambil menunggu akhir hayat.
Tidak disangka suatu pagi tetangga rumah mewah, Om Dani mengantar Atu dan satu orang kawannya di kampung Monika. Melihat Atu turun dari mobil, Monika mau pergi meninggalkan rumah. Ia tidak mau lihat muka Atu, lelaki yang tidak beretika menawar rumah mewah dengan harga paling murah. Tetapi Om Dani mampu menaklukannya.
“Terimalah setiap orang dengan suka cita. Kadang orang yang paling kita benci, dialah yang memberi kita keuntungan.”
Akhirnya Monika keluar dari kamar dan menyapa tamu dengan senyum manis dan wajah ceria. Melalui perkenalan singkat diketahui lelaki kawan Atu bernama Hery, konglomerat Jakarta yang akan membangun hotel bintang 5 di jalur Pantura.
“Ada lahan 10 hektar di Pantura. Katanya lahan ibu Monika. Apa benar?” Tanya Hery dan spontan dijawab Monika.
“Benar sekali. Semua tahu.”
“Apa dijual?” Tanya Konglomerat itu.
“Ya, kalau jodoh.”
“Lama-lama jodoh tanahnya jodoh orangnya.” Mereka tertawa dengan gurauan Hery. Kemudian ia lanjut dalam penawaran.
“ Berapa per hektar?”
“Ya, saya ini janda sebatang kara. Miskin melarat. Mohon dibantu 700 juta.”
“Singkat kata, mohon saya dibantu 500 juta/hektar. Mungkin Ibu rugi saat ini. Tapi jangka panjang Ibu dan masyarakat umum pasti untung dengan berdirinya hotel bintang 5 yang akan menyerap ratusan karyawan.”
Monika akhirnya setuju lahan 10 hektar jalur Pantura dengan harga Rp 5.000.000.000. Lima miliard dibayar kontan! Kaget dan di luar dugaan harta karun sebanyak itu menyembuhkan sekejap luka derita yang bertahun-tahun.
Monika kembali mengingat bagaimana ia fitnah dan caci maki Atu, lelaki yang disebutnya tidak beretika dan tidak pakai rasa menawar rumah mewahnya dengan harga yang sangat rendah. Ia membenci dan tidak mau melihat muka orang yang meremehkannya seperti Atu. Tetapi saat ini orang yang telah dikutuknya membawakan kenikmatan hidup yang jauh melampaui apa yang ia minta bertahun-tahun.
Dari uang tabungan 5 M Monika tarik 800 juta untuk beli PejeroSport 1 unit, tebus barang mewah dari pegadaian, lunasi kredit bank,dan bayar utang lain-lain. Monika mau jadi orang merdeka yang bebas dari tekanan ekonomi, tekanan batin, tekanan utang, dan tekanan apa pun. Ia mau jadi guru, anggota organisasi profesi terpercaya, dinamis, kuat, dan bermartabat, yang tampil ceria, bersemangat, dan mulia hati menerima kelebihan dan kekurangan para murid.
Setelah satu bulan uang 5 M jadi milik Monika, Pajero Sport putih tiba. Dengan mobil itulah ia kembali mendiami rumah mewah 160 M2 di pusat kota yang selama berbulan-bulan tidak bertuan. Malam pertama di rumah mewah itu, Monika didera perasaan kesal, kecewa, dan sedih. Ia keliling dari kamar ke kamar mencari suaminya. Suaminya sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, apa lagi badannya. Tidak satu pun foto yang tersisa. Ia berjanji akan menjemput suaminya yang terbuang. Om Dani akan dimintai bantuan untuk mencari sampai menemukannya. Dialah suami yang paling sayang dan pengertian. Biar Monika marah dan bahkan mencaci maki, ia terima dengan senyum karena menurutnya di balik mulut kasar tersedia hati yang suka berkorban melayani dan menyayangi.
Keesokan hari Monika memenuhi janjinya bersama Om Dani dan Nanto mencari laki yang sudah dibuang. Monika berdiri di pinggir tebing dan menyorotkan mata sampai di ujung jurang. Om Dani dan Nanto menyisir dasar jurang dari ujung ke ujung selama 2 jam. Tidak kelihatan, kecuali tulang-tulang binatang yang berserakan. Mereka pulang dengan tangan kosong.Kejam Watu Kagoroka!
Monika panik dan kebingunan. Dua puluh orang kawannya dan kawan suaminya ia telponsatu per satu. Siapa tahu dari mereka ada yang simpan atau sembunyikan. Jawaban dari sana sama:
“Suami tidak ada. Tidak ditemukan.Seandainya lihat satu-dua hari nanti, akan diposting.”
Tidak berhasilnya menemukan suami, otak Monika jadi bleng. Pikirannya kacau balau, dan bernyanyi seperti orang yang sudah gila.
“Bingung, aku bingung. Suami hilang tak tentu kapan kembali. Kutanya matahari pagi yang bersinar, kutanya beribu bintang di langat, kutanya angin yang menyapa kapan dan di mana saja.”
Om Dani masuk rumah setelah pintu terbuka. Ia menyapa dengan santun, tetapi tuan rumah yang sedang duduk di ruang tamu tidak ada reaksi. Ia paham, bahwa Monika sedang masalah. Ia menghampiri dan duduk di sampingnya.
“Tidak jadi soal dengan tidak ditemukan suami. Ibu tentu sakit hati, kesal, dan kecewa karena suami terbaik itu belum ada. Percayalah nanti dia pasti datang. Ada caranya. Orang yang jahat saja bisa kembali, apa lagi Bapa yang belum pernah noda nama.”
Monika kaget dan menyeka air mata. Otaknya yang bleng kembali normal.
“Bagaimana cara, Om Dani?”
“Kamaika dewa!”
“Seperti apa?”
“Anggarannya tidak seberapa:10 ayam kampung, 2 babi sedang, dan 1 kerbau kecil. Kita panggil 2 orang tua adat yang sembahyang dan saigho. Nanti ibu akan saksikan suami pulang rumah bulat-bulat.”
“Haaa, betul ini?
“Tidak percaya? Nanti lihat!”
Dua hari kemudian dilaksanakan ritual adat. Rato adat Ngongo Lawiri dan Bulu Pata diberi kuasa untuk kamaika dewa.Kedua rato ini kemampuannya mirip-mirip sama: mau maurata ok, mau saigho juga ok. Juga sudah punya nama, terpakai di mana-mana. Jadi, Om Dani tidak salah pilih orang.
Menurut cerita, pelaksanaan upacara kamaika dewa antara 2 sampai 4 malam. Kalau yang dipanggil itu orang yang disayangi, dihargai, diagungkan, dan dihormati dengan segudang perbuatan baik yang telah teruji selama masih hidup, maka malam yang kedua ia sudah datang. Sebaliknya kalau yang dipanggil adalah orang yangsering berbuat tidak menyenangkan, misalnya mencuri, merampok dan menipu lalu dibunuh, maka malam ketiga atau keempat akan datang. Tetapi kalau yang dipanggil adalah penjahat ulung yang terlalu banyak jenis pelanggaran, maka tidak akan datang pada malam yang ke berapa pun karena diikat oleh kuasa alam dengan dosa-dosanya yang tidak terhapus.
Pelaksanan kamaika dewa berjalan aman, tertib, dan sangat singkat. Malam yang kedua jam 3.00 pagi ia datang dalam wujud bintang berekor dan langsung masuk kamar Monika. Ia bercahaya bagai batu delima yang tembus pandang ratusan gelas kaca. Monika menangis histeris karena suami terbaik itu benar-benar pulang dan mengingat dengan jelas di mana kamar pengantin yang selalu ditata secara apik dan indah oleh istrinya. Sejak itulah Monika kembali bercahaya, bergairah, bersemangat karena telah mendapatkan kenikmatan yang dimintanya dan menemukan laki yang terbuang.
Tambolaka, 20 April 2021.
Aster Bili Bora, tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT. Beberapa karyanya dimuat dalam buku Antologi SERULING PERDAMAIAN DARI BUMI FLOBAMORA (2018) dan BUMI LANGIT NTT (2021). Buku antologi 20 cerpen terbaiknya dengan judul: BILANG SAJA SAYA SUDAH MATI terbit 2021.
Catatan:
- Tauboka: minum. Kata paling kasar kalau sedang marah, emosi tidak terkendali.
- Anga-anga: sembarang
- Ango: teman (dialek Sumba Tengah)
- Pakalaka tana mema: yel-yel khusus yang perempuan dalam gaya manusia purba.
- Daika boka: robek kantong kemih (arti denotasi), bicara, omong (makna konotasi dalam ekspresi marah, tertekan)
- Watu Kagoroka: nama tempat yang ada jurang dan terkesan angker
- Kamaika dewa: upacara panggil arwah
- Maurata: sembahyang adat dengan menggunakan bahasa daerah Wewewa
- Saigho: mengucapkan syair-syair adat dalam bentuk menyanyi dengan menabuh gong dan tambur.








