1.200 Wartawan Di PHK

SAYA Wens John Rumung berkelut sebagai pekerja jurnalis atau wartawan sejak September 1979. Di awal karir sebagai jurnalis yaitu loper koran Dua Mingguan DIAN yang terbitkan Yayasan Sint Arnoldus Ende. Sambil berjualanmajalah DIAN dan majalah anak-anak Kunang-Kunang saya belajar bagaimana menjadi wartawan. Saya membaca majalan DIAN ada satu berita yang ditulis seorang pastor di Parokii Cor Jesu atau Hati Kudus Wangka tempat saya di lahirkan. Saya belum setahun di Kupang. Alam semesta menuntun saya, ”O ternyata berita lokal yang terjadi Wangka. Riung Flores ini bisa diberitakan dan ditayang di Majalan DIAN. Kalau begitu saya mulai belajar menulis terkait peristiwa yang terjadi di Kota Kupang. Kala itu, saya tidak memiliki fasilitas mesin ketik manual. Hanya berbekalkan sebuah pena, saya mencoba menulis di selembar kertas dan dikirim ke Redaksi Majalah DIAN pimpinan Thom Wignyanta dan Sekretaris Kris Nau.

Berita yang saya kirim dalam bentuk tulis tangan belum memenuhi syarat 5 W 1 H. Sehingga beberapa dikirim belum juga ditayangkan. Sampai suatu waktu saya pulang kampung dalam rangka berlibur. Ketika itu saya sudah memiliki kamera jadul. Saya menyaksikan jalan jurusan Bajawa-Riung rusak para. Jalani ini belum diberi status jalan daerah atau jalan propinsi. Saya foto situasi jalan, masyarakat bersusah paya melewati jalan sambil memkul beban, mobil yang terbalik. Berita ini tidak langsung saya menulisnya. Sampai di Kupang saya mencoba tulis berita ini dikirim ke redaksi Majalan DIAN. Tulis saya ditayangkan lengkap dengan foto. Hati ini sukacita dan semangat mencari berita. Saya belum mewawancarai pejabat termasuk Gubernur ketika Ben Mboi dan pejabat lain, karena belum memiliki identas sebagai wartawan atau kartu pers, Saya menulis surat ke Kris Nau. Dan ditanggapi serta minta saya mengirim pas foto. Dua minggu kemudian, saya mendapat kiriman kartu tan da pengenal wartawan Dua Mingguan DIAN. Berbekan kartu pers ini, hidupku lebih bersamangat mencari, dan saya sudah membiayai kehidupanku di Kupang.

Saya dan kawan-kawan dari media antara seperti Markus Weking, Adrianus Ollyn dari antara berkeliling mengikuti program Gubenur Ben Mboi yang dikenal Program Nusa Makmur dan Nusa Hijau. Dalam mengikuti rombongan Gubernur Ben Mboi saya melihat dengan mata saya sendiri, Ben Mboi menempeleng camat di salah satu pasar di Kota Ruteng NTT dan peristiwa yang juga di terjadi Belu Selatan ketika Gubernur Ben Mboi menempeleng camat. Sejak akhir 1979 saya menekuni profesi jurnalis. Selanjutnya saya di Mingguan Kupang yang terbit dua minggu sekali dan dicetak di Denpasar. Saya berpegang pada motto “ Setia Pada Panggilan”

Sejak resmi statusku sebagai jurnalis, kondisi fisikku kurus, pucat lesuh. Tetapi saya tidak terlalu peduli dengan kondisi badanku yang pucat dan lesuh. Terus berkarya dan semangat. Keadaan fisikku ini, ternyara mendapat perhatian khusus Ibu Nafsiah Mboi isteri dari Gubernur Ben Mboi, Suatu pagi di bulan Februari 1985, saya yang saat itu sebagai wartawan kupang pos dan berkantor di Jalan Gunung Meja Merdeka Kupan ditelepon Ibu Nafsiah Mboi. Tak banyak kalimat, ” Wens, besok pagi sebelum jalm 07. 00 ketemu saya di rumah jabatan, makan pagi bersama Pak Gub. Keesokan harinya saya bersiap diri menumpang bemo ke rumah jabatan. Ketika mau masuk rumah jabatan saya dicegat ajudan David Foenale. ” Wens kau mau buat apa. Mau ketemu Ibu Nafsiah. Sudah janji, saya bilang Ibu Naf yang suruh datang. Kisah ini sudah saya tulis dalam buku berjudul setia pada panggilan, hidup setelah pernah mati. Buku ini bisa dibaca dengan membuka google kata kunci Wens John Rumung.

Pagi itu makan pagi bersama Ibu Nafsiah dan Bapak Ben Mboi. Usai makan, ibu Nafsiah menyodorkan selembar surat. Pagi ini, ke bagian laboratorium RS. W. Z Yohanes, bertemu dokter Cornelis Tallo Kepala Laboratorium Hasil pemeriksaan lab saya yang kurus kering pucat lesuh ini ternyata menderita penyakit leukimia sejenis kankar ysng menyerang sel-sel darah merah oleh darah putih. Hanya menanti waktu lama, saya diperintahkanIbu Nafsiah Mboi menghadap bagian bendahara Kantor Gubernur. Saya menerima Rp 750. 000 dan bersiap ke Jakarta dari El Tari Kupang dan mendarat di Bandara Kemayoran. Profesi jurnalis dan penderita kanker darah yang membawa saya menapaki Jakarta,

Saya di antar ke RS Mangun Cipto di Salemba Jakarta Pusat. Dokter yang memeriksa saya dr. Ary Haryanto yang juga merangkap sebagai dokter kepresiden Soeharto. Sumsum-sum tulang belakang di sedot. Hasilnya saya menderita penyakit kanker darah. HB saya hanya 4-5 yang menyebabkan saya kekurangan darah. Selain kesibukan sebagai wartawan. Semula Ibu Nafsiah meminta saya datang ke gedung Tempo di Jalan Thamrin Jakarta Pusat menemui Erck Samola selaku Pemimpin Redaksi. Situasi kurang nyaman sehingga Ibu Nafsiah menyarankan saya bertemu Daud Sinyal Pemimpin Redaksi Sinar Harapan. Saya disuruh Daud Sinyal bertemu Hans Sinaulan Pemimpin Redaksi Mingguan Majalan Mutiara di Jalan Dewi Sartika 136 D Cawang Jakarta Timur. Maka, resmilah saya sebagai wartawam Majalan Mutiara.

Resmilah saya berstatus wartawan yang berkiprah di Jakarta sambil setiap minggu kontrol kesehatan. Setiap minggu saya harus ke PMI di Jakarta pusat untuk memeriksa darah dan dibawa ke RSCm untuk ditransfusi. Transfusi darah yang sudah di endap dan harus ditransfusi dlam waktu setengah jam. Kisah ini juga dapat dibaca di media online buka di google dengan kata kunci Wens John Rumung. Pada September 2025 saya genap menggeluti dunia jurnalis selama 45 tahun. Namun ini, tepatnya di tahun 2025 ini, terjadi peristiwa yang menyebabkan hati ini sedih. Berita menyedihkan ini ialah lebih dari 1. 200 wartawan dari berbagai media cetak terkana PHK atau pemutusan hubungan kerja. Saya bersyukur karena berhasil menekuni profesi dan hidup dari pekerjaan sebagai warawan selama 45 tahun, sampai mengami peritiwa buruk sejak Covid-19 media cetak EXPO NTT harus mengalami penurunan jumlah cetak yang terbatas.

Wartawan harus menghadapi kenyataan ini akibat hadirnya META seperti facebook, twiter atau X, istagram, kini tamba tiktok, snack vidio, dan berbagai media sosial lainnya. Masyarakat tidak butuh wartawan karena bisa menulis tentang peristiwa yang dialami dan dirasakan dan langsung ditayangkan di media sosial. Para pejabat, pemimpin perusahaan atau lembaga pewmerintah dan swasta tidak butuh wartawan untuk menulis. Mereka menulis berita sendiri yang istilah nitizen. Masyarakat atau pejabat pemerintahan dan lembaga independen tikdak lagi meminta media atau wartawan untuk merancang iklan atau advetoaial, mereka mencang sendiri dan menayakan langsung di media soal. Dengan demikian wartawan tidak lagi dibutuhkan. Jangan kaget kalau masyarakat tidak memasang lagi di media cetak.

PHK wartawan karena pendapatan media daripenjualan dan pemasangan iklan sudah berkurang hingg 75 persen. Dunia jurnalistik Indonesia harus menghadapi dan menerima persiwa alam semesta ini. Karena keadaan akan terus berubah seiring dengan perjlanan waktu yang tidak pernah berhenti. Penurunan pendapatan media seperti sudah wartakan disebabkan oleh berbagai faktor seperti persaingan dengan media online dan perubahan perilaku konsumen, mendorong perusahaan untuk mengurangi biaya, termasuk PHK karyawan.

  • Kegagalan Model Bisnis Digital:

Banyak perusahaan media gagal menciptakan model bisnis digital yang berkelanjutan, sehingga mereka tidak mampu menopang biaya operasional, termasuk gaji karyawan. PHK terhadap jurnalis dan pekerja media lainnya memperparah kondisi industri media, yang telah mengalami kesulitan dalam beberapa tahun terakhir.

  • Keterbatasan Konten:PHK dapat mengurangi keberagaman konten dan kualitas berita, karena perusahaan media tidak lagi memiliki sumber daya yang cukup untuk menghasilkan berbagai jenis konten.

Keterbatasan Sumber Informasi:PHK jurnalis dapat mengurangi jumlah sumber informasi yang tersedia bagi masyarakat, yang dapat berdampak pada kualitas informasi dan pemahaman publik tentang isu-isu penting. Contoh Perusahaan Media yang Melakukan PHK: Sepanjang tahun 2023 dan 2024, sekitar 1. 200 karyawan media, termasuk jurnalis, terkena PHK. Gelombang PHK ini terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan perusahaan media akibat beralihnya iklan ke media sosial dan influencer. ♦ wjr