EXPONTT.COM, KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena menyoroti persoalan mendasar pendidikan di NTT, terutama kualitas akademik yang dinilai masih rendah. Menurutnya kualitas pendidikan hari ini di NTT harus segera diperbaiki secara serius.
Melki Laka Lena menegaskan pentingnya transformasi pendidikan menengah, khususnya SMA dan SMK, agar mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja global.
Untuk itu dirinya meminta langkah tegas dalam sistem pendidikan, termasuk evaluasi terhadap kebijakan kenaikan kelas di tingkat SMA dan SMK.
“Kalau tidak memenuhi standar, jangan dipaksakan naik kelas. Kita butuh kualitas, bukan sekadar angka kelulusan,” tegas Melki Laka Lena saat tatap muka bersama kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua komite, dan ketua OSIS SMA/SMK/SLB se-Kabupaten Malaka di SMK Santa Genoveva, Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Minggu, 29 Maret 2026.
Gubernur NTT juga menekankan pentingnya pendidikan yang tegas, disiplin dan berkarakter sebagai fondasi membentuk generasi yang tangguh.
“Anak-anak harus dibentuk dengan disiplin dan ketegasan. Kalau terlalu dimanja, mereka tidak siap menghadapi dunia nyata,” ujarnya.
Selain aspek akademik, Gubernur menyoroti penggunaan telepon genggam (HP) di kalangan pelajar yang dinilai menjadi salah satu sumber persoalan serius.
“HP ini bisa jadi pintu masuk pornografi, seks bebas, bahkan paham radikal. Harus dikontrol dengan baik,” tegasnya.
Gubernur NTT meminta sekolah dan orang tua bekerja sama dalam mengawasi penggunaan teknologi agar benar-benar mendukung proses belajar, bukan sebaliknya merusak masa depan generasi muda.
Lebih lanjut, Melki Laka Lena juga meminta sekolah aktif mempersiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri maupun masuk dunia kerja berbasis keterampilan.
Ia menyoroti fenomena pekerja migran asal NTT di Malaysia, yang sebagian besar bekerja tanpa prosedur resmi dan berisiko tinggi.
“Saya temui langsung, lebih dari 90 persen datang tanpa prosedur. Ini berbahaya. Karena itu, pendidikan kita harus siapkan mereka dengan baik, termasuk kemampuan bahasa seperti Inggris, Mandarin, dan Melayu,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendidikan harus menjadi jalan keluar, bukan justru mendorong anak muda masuk ke jalur berisiko.♦gor









