“Apronax”

SEJUTA kisah dan pengalaman didramakan manusia di dunia ini akibat Covid-19 atau virus corona sejak November 2019. Adalah kisah nyata seorang artis Olga Kurylenko di London Inggeris. Artis ini sempat dinyatakan positif corona dan sekarang artis ini ceritakan kondisi kritisnya saat hadapi virus corona ke semua media cetak dan elektronik.
Ya, dikabarkan jika pada beberapa waktu lalu, artis 40 tahun ini dinyatakan positif Covid-19. Kini, Olga Kurylenko mengaku bersyukur kondisinya berangsur pulih. Sebelumnya, lewat akun Instagram pribadinya, Olga membagikan foto dia dengan wajah polos tanpa riasan, menggunakan masker. Dalam keterangannya, ia menulis tentang kondisinya yang semakin membaik dan membagikan secara rinci tentang diagnosis, serta kegunaan setiap vitamin yang dikonsumsinya.
Tulisnya, “Halo semuanya! Saya merasa lebih baik hari ini. Demamku sudah hilang, saya dengar orang mencari tahu di mana saya sekarang. Saya di London!” Kemudian Olga membuat pengakuan mengejutkan tentang obat yang diresepkan oleh dokter yang pasti akan membuat orang terkejut.
Yakni, Olga mengaku jika dirinya sembuh total hanya dengan bantuan apronas atau paracetamol yang dikonsumsinya.
“Saya diberitahu untuk konsumsi paracetamol jika demamku terlalu tinggi dan jika saya terlalu kesakitan,” tulisnya. Tak hanya itu, secara sadar diri, Olga Kurylenko juga membekali dirinya dengan konsumsi vitamin juga suplemen. “Tolong diingat bahwa vitamin-vitamin ini tidak menyembuhkan virus corona, tapi hanya membantu sistem imun lebih kuat untuk melawan (virus),” imbuhnya. Olga Kurylenko kemudian memberitahukan jenis vitamin yang dikonsumsinya. Di antaranya adalah vitamin B5, Vitamin E, Vitamin C, Curcumin, Zinc, dan Colloidal Silver (Air ion perak).
Dengan sadar dan sengaja saya mengakat tulisan ini, supaya masyarakat memahami bahwa virus corona tidak segalak dan mematikan seperti yang sudah gempar dan mematikan banyak orang didunia. Kisah Olga Kurylenko membuka mata kita. Tetapi yang paling penting yaitu menghayati dan melaksanakannya.
Kisah nyata lain yang sudah beredar di semua media di dunia juga masih soal kisah dibalik terjadinya virus corona ini. Ada yang menulis,” corona adalah virus adalah bohong. Bukan virus tetapi bakteri.” Bukti bahwa bakteri dikisahkan mulai dari Italia. Para dokter di Italia melawan imbauan WHO bahwa setiap pasien yang positif corona tidak boleh di otopsi. Para dokter di Italia penasaran dan melakukan otopsi mayat yang mati akibat corona.
Hasilnya, bahwa yang mati bukan karena virus corona tetapi karena bakteri.
Bakteri tersebut membuat pembuluh darah melebar dan membeku. Maka langsung diketahui obatnya. Setelah diminumkan obat tersebut kepada 1400 orang yg positif covid langsung sembuh. Berita ini diwartakan media-media ternama di Italia.
Pantas Presiden Amerika Donald Trump mengatakan bahwa WHO menjadi boneka China. Berita ini viral di media sosial. China dan WHO menipu dengan mengatakan bahwa covid 19 adalah Virus dan menganjurkan supaya semua org yang terjangkit untuk memakai ventilator bertujuan bisnis supaya semua negara membeli alat ini. WHO melarang semua negara untuk melakukan autopsi terhadap mayat Covid dgn alasan akan tertular. Kisah-kisah ini juga menyebarluas di semua media sosial.
Juga diwartakan, dokter Italia menemukan obat untuk sembuhkan virus corona yang bukan virus tetapi bakteri.
Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah “Koagulasi intravaskular diseminata” (Trombosis). Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan “antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan”. Berita sensasional ini untuk dunia telah diproduksi oleh dokter Italia dengan melakukan otopsi pada mayat yang meninggal karena Covid-19. Menurut ahli patologi Italia. “Ventilator dan unit perawatan intensif tidak pernah dibutuhkan”. Oleh karena itu perubahan protokol pandemi global di Italia, terungkap, penyembuhan ini, sudah diketahui oleh Negara Cina dan tidak melaporkan hanya untuk kepentingan bisnis. Berita ini bahkan dianjurkan untuk dibagikan kesemua penduduk dunia yang sedang gelisah agar menjadi sukacita.
Mereka akan menyarankan agar tablet Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol. Mengapa? Karena telah ditunjukkan bahwa apa yang dilakukan Covid-19 adalah menggumpalkan darah, menyebabkan orang tersebut mengembangkan trombosis dan darah tidak mengalir dan tidak mengoksigenasi jantung dan paru-paru dan orang tersebut mati dengan cepat karena tidak bisa bernafas.
Setelah mengetahui diagnosis ini, Kementerian Kesehatan Italia segera mengubah protokol pengobatan Covid-19 dan mulai memberikan kepada pasien positif covid-19 dengan Aspirin 100mg dan Apronax atau Paracetamol. Hasilnya, pasien pulih. Departemen Kesehatan Italia merilis dan mengirim pulang lebih dari 14.000 pasien dalam satu hari. ♦