EXPONTT.COM – Dosen Geologi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Dr. Herry Kotta mengingatkan warga yang tinggal di bantaran Kali Liliba, Kota Kupang untuk waspada bahaya longsor.
Dr. Herry menyebit, kondisi tanah di sekitar lokasi tersebut sangat rentan akibat gerusan air pasca longsor besar beberapa waktu lalu.
Ini menyebabkan sewaktu-waktu longsor bisa terjadi dan membahayakan warga.
Meski demikian, kata Herry, keputusan pemerintah untuk merelokasi warga mesti dipikirkan kembali.
Pasalnya, tidak semua warga ingin di relokasi dari tempat tersebut.
Baca juga: Kabinet Jokowi Diterpa Isu Reshuffle, Ahok Disebut Bakal Jadi Menteri Investasi
“Tidak semua tempat terdampak, hanya spot-spot tertentu yang membahayakan, sehingga butuh juga penelitian terkait hal ini, yang akurat,” tegas ketua pengda Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTT ini.
Di menjelaskan, permasalahan utama di bantaran kali adalah masalah air. Baginya, masalah air merupakan pemicu paling besar atas bencana ini.
Ia pun meminta agar terkait masalah air agar bisa diatur secara teknis agar tidak menimbulkan kerentanan terhadap kondisi tanah disekitar bantaran.
“Secara geologi daerah bantaran sungai ini, gamping berada di atas lempung sehingga ditunjang dengan kemiringan yang agak curam dan ketika sudah jenuh air, lempung ini bisa berfungsi sebagai bidang gelincir,” jelasnya.
Ia kembali menegaskan, tidak semua daerah dianggap sama dalam kerentanannya terhadap suatu bencana.
Selain itu, ia juga menyebut, aktifitas penambangan selama ini juga menjadi pemicu atas berbagai kerusakan infrastruktur saat bencana beberapa waktu lalu.
Menurutnya, aktifitas penambangan yang sangat dekat dengan fasilitas umum dan rumah warga, akan tergerus oleh air.
Baca juga: KPU Bahas Persiapan Pemungutan Suara Ulang di Sabu Raijua
“Dalam aturan itu penambangan radiusnya 1 KM tidak bisa dekat dengan rumah atau jembatan,” tandasnya.
Di Kelurahan Oebufu RT 17 dan RT 14, puluhan rumah saat ini dalam kondisi rusak parah. Bahkan, Jalan menuju ke rumah warga di RT tersebut, kondisinya juga ikut rusak.
Daniel, salah seorang warga di RT 17 mengaku rumahnya saat ini dalam keadaan terbelah akibat tanah di sekitar rumah bergerak. Tembok rumah, menurutnya saat ini retak dan nyaris sebagian telah roboh. ♦ pos-kupang.com








