EXPONTT.COM, KUPANG – Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Neda Ridla Lalay, mendorong berkolaborasi lintas sektor pemerintah untuk memperkuat edukasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar.
Hal itu disampaikan Neda Lalay menanggapi fenomena HIV/AIDS dikalangan pelajar SMP di Kota Kupang yang memperihatinkan.
Data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang mencatat, terdapat 254 kasus HIV/AIDS di kalangan pelajar dan mahasiswa, angka yang bahkan melampaui kasus di kalangan pekerja seks (WPSL) yang berjumlah 203 kasus.
Berdasarkan data tersebut, pekerja swasta menjadi profesi dengan kasus tertinggi yakni 889 kasus (35 persen), diikuti oleh kategori lain-lain sebanyak 432 kasus (17 persen), ibu rumah tangga 406 kasus (16 persen), pelajar/mahasiswa 254 kasus (10 persen), dan WPSL/PSK sebanyak 203 kasus (8 persen).
Distribusi kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Oebobo dengan 21 persen (533 kasus), disusul Kelapa Lima 20 persen (508 kasus), Maulafa 19 persen (482 kasus), Alak 17 persen (432 kasus), Kota Lama 12 persen (305 kasus), dan Kota Raja 11 persen (279 kasus).
Menurutnya Neda Lalay, diperlukan peran seluruh masyarakat untuk memerangi kondisi ini. “Sebagai seorang ibu, saya sangat terpukul dengan kenyataan ini. Fungsi keluarga, agama, dan pendidikan karakter harus benar-benar dijalankan,” ungkapnya.
Neda mengakui, orang tua sering kali merasa tabu untuk berbicara soal seksualitas dan alat reproduksi dengan anak-anak mereka. Padahal, keterbukaan justru penting agar anak tidak mencari tahu dari sumber yang salah.
“Orang tua harus jadi sahabat anak. Jangan biarkan mereka belajar dari teman atau media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Edukasi tentang alat reproduksi bukan hal tabu lagi,” tegasnya.
Neda juga mengaku prihatin karena kasus HIV/AIDS kini ditemukan pada anak-anak tingkat SMP.
“Kalau anak SMA atau mahasiswa mungkin kita tidak terlalu kaget, tapi ini anak SMP. Kita tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPRD Kota Kupang akan mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan, untuk memperkuat program edukasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar.(*)








