EXPONTT.COM, MBAY – Pembangunan kembali fasilitas Pelabuhan Laut Marapokot di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, resmi dimulai dengan kegiatan pemancangan tiang pertama (groundbreaking), Senin, 20 April 2026.
Kegiatan tersebut menandai dimulainya pekerjaan fisik proyek revitalisasi pelabuhan yang dibiayai melalui skema Multi Years Contract (MYC) Tahun Anggaran 2025–2026.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Marapokot, Wehelmus Dami dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pelabuhan Marapokot memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas wilayah dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya di Kabupaten Nagekeo dan sekitarnya.
“Seiring meningkatnya arus barang dan penumpang, peningkatan kualitas infrastruktur pelabuhan menjadi suatu keharusan,” ujarnya.
Wehelmus menjelaskan, kegiatan pemancangan tiang pertama ini menjadi simbol dimulainya pembangunan fisik yang bertujuan meningkatkan keselamatan pelayaran, kualitas pelayanan kepelabuhanan, serta kelancaran distribusi logistik dan mobilitas masyarakat.
Proyek ini mencakup pekerjaan replacement Dermaga I sepanjang 100 meter dengan lebar 8 meter, serta Trestle I sepanjang 77,65 meter dengan lebar 6 meter. Selain itu, dilakukan pula rehabilitasi Dermaga II sepanjang 57 meter dan Trestle II sepanjang 75,7 meter.
Dengan demikian, total panjang dermaga yang direkonstruksi mencapai 157 meter dengan lebar 8 meter, serta dua trestle dengan lebar masing-masing 6 meter.
Pekerjaan tersebut direncanakan berlangsung selama 460 hari kalender.
Menurut Wehelmus,pelaksanaan proyek ini menjadi sangat mendesak mengingat kondisi eksisting dermaga yang telah mengalami penurunan fungsi.
“Struktur dermaga saat ini sudah mengalami pergerakan yang berpotensi membahayakan operasional. Bahkan, tidak lagi optimal untuk disandari kapal hingga kapasitas 3.000 DWT dan diperkirakan hanya memiliki sisa umur layanan kurang dari dua tahun,” jelasnya.
Selain itu, apabila tidak segera dilakukan perbaikan, kondisi tersebut dikhawatirkan akan menghambat arus logistik, transportasi masyarakat, serta jalur pariwisata di wilayah Nagekeo yang selama ini dilayani kapal perintis seperti KM Sabuk Nusantara 55 dan KM Maloli.
Lebih lanjut, Wehelmus menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dalam mendukung program tol laut serta penguatan konektivitas daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Proyek ini juga selaras dengan agenda pembangunan nasional, khususnya dalam mendukung peningkatan konektivitas, pemerataan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan.
“Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat mengedepankan keselamatan kerja, menjaga mutu pekerjaan, serta menyelesaikan proyek ini tepat waktu,” ujarnya.
Wehelmus Dami juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mendukung kelancaran pelaksanaan proyek tersebut.
Dengan dimulainya pembangunan ini, diharapkan Pelabuhan Maropokot ke depan dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal dan berdaya saing, serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Nagekeo dan sekitarnya.(***)








