Gubernur Viktor Laiskodat Kritisi Kebiasaan Warga NTT Hamburkan Uang untuk Pesta Nikah

Varian Baru Delta di NTT
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat

EXPONTT.COM – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Viktor Laiskodat mengkritisi kebiasaan warganya yang kerap menghambur-hamburkan uang untuk sebuah pesta pernikahan.

Dikutip dari tajukflores.com, Viktor Laiskodat bahkan mendorong agar biaya pernikahan ditiadakan. Politisi NasDem ini juga mengkau jarang menemukan warga NTT yang berdonasi untuk biaya sekolah atau kuliah.

“Kalo kumpul keluarga, semangat. Pas mau kawin nih. Saya cek-cek, kapan orang NTT kumpul uang untuk sekolah. Mari dolo, saya punya anak mau sekolah, mari katong (kita) kumpul uang,” ujar Viktor Laiskodat saat menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan Pemuda GMIT Jemaat Efata Soe, TTS, Sabtu 25 September 2021.

Menurut Viktor, sumbangan warga atau keluarga untuk biaya pendidikan lebih memberikan manfaat jika dibandingkan dengan pesta pernikahaan.

Baca juga: Tiga Kelurahan di Kota Kupang Masih Zona Merah Covid-19, 8 Kelurahan Zona Hijau

Ini yang membuatnya heran mengapa warga NTT berlomba-lomba mengumpulkan uang saat pesta pernikahan.

Baca juga:  DPRD Kota Kupang Bentuk Pansus LKPJ 2025, Kinerja Wali Kota Bakal Dievaluasi

“Kenapa dong (mereka) semangat begitu, karena dong mau pesta, dong mau makan enak. Padahal daging satu untuk sekolah, dia pulang, dia bangun kita punya daerah. Gara-gara dia pintar, dia bangun seribu orang,” kata Viktor.

Viktor kemudian mendorong agar biaya pernikahan seharusnya ditiadakan. Selain boros, biaya pesta untuk pernikahan kerap membebankan keluarga besar.

Pi kasih kawin ini, kasih uang banyak pung, salah-salah dong dua ba ilang (menghilang). Katong (kita) setengah mati, uang su abis. Maka itu, kawin jangan pakai uang. Pi kawin saja, jangan pakai uang. Kalau enak kenapa kita mesti bayar!” ujarnya.

Baca juga: Polda NTT Bantah Bersitegang dengan Masyarakat Adat di Lokasi Waduk Lambo

Viktor meminta gereja berperan untuk menghilangkan kebiasan boros tersebut.

Baca juga:  Pemkot Kupang Tak Mampu Selesaikan Polemik PMI

Misalnya, melarang pasangan menikah di gereja tersebut jika yang bersangkutan menggelar pesta.

“Eh lu (kamu) kalau pesta son (tidak) ada pemberkatan. Lu ke tempat lain!,” ungkapnya.

Viktor mengatakan sudah saatnya cara pikir orang NTT harus diubah yakni mementingkan pendidikan. “Mari kita kumpul di gereja neh, kasih sekolah ini orang, biar ko dia datang dia bangun kita punya,” katanya.

Baca juga: Tak Mau di Vaksin Karena Hoaks, Warga di Lembata Sembunyi di Kebun

Ia juga mendorong agar warga NTT, khususnya di Pulau Timor terbuka dengan banyaknya jurusan di pendidikan tinggi atau universitas.

Baca juga:  Waspada! Akun Palsu Catut Nama Wali Kota Kupang, Janjikan Bantuan Fiktif ke Warga

Dalam pengamatan Viktor, sekolah menurut kebanyakan warga di NTT ialah untuk menjadi pendeta, dokter, hukum (pengacara) dan jurusan ekonomi.

Ia beranggapan jika anak-anak perlu untuk belajar energi terbarukan.

Kendati demikian, Viktor juga mengakui pemerintah, termasuk gereja juga masih lamban menyadari pentinganya belajar energi terbarukan.

“Dunia menuju energi terbarukan. Maka, mari kita kirim anak-anak belajar energi terbarukan. Dia pulang kembali, dia pulang kita punya kampung dengan pengetahun energi terbarukan,” katanya.

“Dari kita mulai berubah. Lihat masa depan, siapkan anak-anak kita, berapa yang bisa kita kirim. Kirim ke China, berapa banyak, kirim ke Jerman, kirim ke mana-mana, kita siapkan,” sambungnya.