Perbuatan Benar Vs Perbuatan Jahat

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

Pax Vobiscum para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam kehidupan kita sehari-hari hanya ada 2 perbuatan: perbuatan baik atau benar dan perbuatan jahat. Perbuatan baik atau benar didorong oleh Roh Kudus, sedangkan perbuatan jahat biasanya didorong oleh roh jahat atau iblis. Perbuatan Anda selama ini, didorong oleh Roh Kudus atau roh jahat?

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 3: 16 – 21, yakni percakapan dengan Nikodemus. Dalam bacaan Injil hari ini, di tengah gelap malam, ada dua pilihan: menyalakan terang atau tetap diam dalam kegelapan. Yesus datang sebagai Sang TERANG bukan untuk mereka yang sudah terang, melainkan untuk menembus HATI yang masih gelap. Yohanes 3:16 menegaskan KASIH Allah, tetapi KASIH itu sekaligus menuntut keputusan: apakah kita memilih TERANG atau tetap bersembunyi dalam GELAP. Perbuatan benar lahir dari dorongan Roh Kudus. Ia lembut, damai, dan menuntun pada kebenaran sejati. Seperti bunga yang merekah karena matahari, demikian pula HATI yang diterangi menghasilkan tindakan yang hidup. Perbuatan jahat sebaliknya, sering berawal dari bisikan halus. Iblis bekerja melalui PIKIRAN keruh, luka HATI, dan EGO yang membesar. Dorongannya terasa cepat, menggairahkan, bahkan seolah benar, tetapi ujungnya selalu membawa pada kegelapan. Bedanya tipis sekali. Dorongan Roh Kudus dan roh jahat sama-sama bisa terdengar seperti suara batin. Karena itu, kita membutuhkan discernment, karunia membedakan roh. Apakah suara itu membawa kita pada PERTOBATAN, atau justru pada PEMBENARAN diri? Ingatlah sabda Yesus: “Anak-anak dunia lebih cerdik daripada anak-anak terang” (Lukas 16: 8 ). Maka, kewaspadaan ROHANI menjadi KUNCI agar kita tidak tertipu oleh kelicikan GELAP atau roh jahat atau iblis.

Pesan Untuk Kita

Para saudaraku, jangan menilai perbuatanmu hanya dari pandangan dunia. Ukurlah di hadapan Sang TERANG. Sebab di dalam TERANG Kristus, segala yang tersembunyi akan nyata, dan kita tidak perlu takut lagi. Bukan karena kita sempurna, melainkan karena kita datang kepada-Nya, dan di dalam kedatangan itu, PERBUATAN kita dikerjakan oleh Allah sendiri. Mari, kita matikan bisikan kegelapan, dan nyalakan doa. Biarkan Roh Kudus menjadi penuntun satu-satunya. Karena hanya dengan itu, kita sungguh HIDUP sebagai anak-anak TERANG.

Pertanyaan refleksi

1. Dalam pengalaman sehari-hari, dorongan mana yang lebih sering saya ikuti, bisikan damai Roh Kudus atau godaan cepat yang menjerumuskan?
2. Apakah saya berani memilih terang meski harus menanggung kerugian atau kesulitan, atau justru lebih sering mencari jalan pintas dalam kegelapan?
3. Bagaimana saya melatih kepekaan rohani (discernment) agar mampu membedakan suara yang membawa pada pertobatan dari suara yang hanya membenarkan diri?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan Sang Terang, terangi HATI kami agar mampu membedakan suara-Mu dari bisikan kegelapan. Berilah kami keberanian untuk memilih jalan yang benar, meski tidak mudah. Jauhkan kami dari tipu daya iblis, dan tuntunlah langkah kami dengan damai Roh Kudus. Amin.